Tuan Guru Bajang : Jokowi Tidak Cukup 5 Tahun?, Menjawab Arah Entertaiment TGB?

0
209
Gubenur NTB TGH Muhammad Zainul Majdi disapa Tuan Guru Bajang (MetroNTB/Istimewa)

Penulis : Rusdianto Samawa, Direktur Eksekutif Global Base Review (GBR)

OPINI, MetroNTB.com – Fenomena meroketnya nama TGB ini merupakan kondisi yang menarik. Beberapa orang menilai, ia memiliki modal yang mumpuni untuk menduduki kursi RI-1 atau RI-2. Sementara itu, beberapa pihak yang lain justru menganggap alumni Al Azhar, Kairo ini hanya melesat karena buzzer.

ADS IRZANI

Menurut pendapat orang-orang tertentu, bahwa Tuan Guru Bajang (TGB) maju sebagai calon wakil presiden pada Pilpres 2019 sangat tipis. Sangat sulit peluangnya maju dalam panggung bursa pencalonan calon presiden (Capres) dan calon wakil presiden (Cawapres) pada Pemilu 2019. Ada sejumlah alasan, yakni TGB harus mendapat dukungan partai politik.

Sementara, posisi TGB bukan Ketua Umum Partai, meski dirinya adalah kader Partai Demokrat. Pun bukan posisi pengambil keputusan dipartai, sehingga untuk menuju pentas Capres dan Cawapres akan kesulitan. Namun, terkait rencana untuk merealisasikannya aspirasi itu ada proses yang harus ditempuh. Sampai saat ini pun dia mengaku belum ada komunikasi lanjutan dengan Partai Demokrat.

Menurut sebagian pimpinan pondok pesantren disekitar wilayah Lombok, bahwa TGB dinilai kurang bersilaturahmi dengan para tokoh-tokoh yang ada di Provinsi NTB, di antaranya tokoh agama (toga), tokoh masyarakat (tomas) dan tokoh lintas etnis yang sampai sekarang belum dilakukannya hingga kini.

Padahal, sikap silaturrahami antar kelompok tersebut sangat penting untuk dibangun dengan kuat, sehingga ada penilaian dari elit nasional. Makanya jika belum ada niatan melakukan dan mengumpulkan hal itu, mustahil para tokoh-tokoh nasional yang ada di Jakarta akan meliriknya maju ke pentas yang lebih tinggi.

Meski demikian, tidak memungkiri manakala banyak para tokoh nasional lahir, justru dari daerah asalnya. Sebab, hal itu menjadi prasyarat agar bisa dilirik oleh petinggi parpol. Selanjutnya akan bisa diukur elektabilitas dan kemampuan finansialnya. TGB itu kerap disanding-sandingkan publik calon presiden saat ini, Joko Widodo (Jokowi) maupun Prabowo Subianto.

Selama ini para tokoh-tokoh nasional yang telah memiliki nama besar dikancah nasional, umumnya tidak pernah putus melakukan silaturahmi dengan para tokoh-tokoh di daerahnya. Apalagi, dukungan dari tokoh lokal akan sangat penting dimiliki oleh siapapun sebagai modal dasar mereka meraih simpati dari elit nasional. Ingat, tokoh-tokoh daerah dari berbagai ormas punya jaringan dan cantolan di pusat, jadi jika komunikasi yang dibangun terputus di daerah, sudah barang tentu akan sulit bisa menapaki peta perpolitikan nasional.

Karena hal itu, sebaiknya Tuan Guru Bajang (TGB) harus mulai mendekati tokoh-tokoh yang berkarakter pemimpin Islam, namun ia memiliki kendaraan politik yang ada diberbagai partai politik. Karena umat Islam membutuhkan figur pemimpin alternatif seperti TGB Zainul Majdi.

Memang, nama-nama baru alternatif calon presiden penantang Joko Widodo mulai bermunculan. Salah satu pelawan berat Jokowi yakni Tuan Guru Bajang (TGB). Memang, sampai saat ini elektabilitas TGB sudah sangat diperhitungkan. Namun, TGB diprediksi bakal menjadi lawan berat Jokowi pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 mendatang.

Tapi, kalkulasi dukungan tokoh-tokoh lintas agama, seyognya juga harus dipertimbangkan dan dikaji cermat berapa banyaknya yang sudah menyatakan siap mendukung pencalonannya hingga kini. Sementara Jokowi sejak awal, sangat pandai dalam membangun keharmonisan dan dialog dengan para tokoh ormas yang ada di wilayahnya sehingga langkah Jokowi melenggang ke level lebih tinggi.

Memang, belum ada satu partai politik (parpol) pun yang secara resmi meminang TGB untuk maju pada Pilpres 2019. Namun, elektabilitas TGB perlahan mengalami peningkatan, dipastikan parpol akan mendekatinya. Kemungkinan paling besar yang pertama adalah Partai Demokrat, tapi kalau mereka tetap memaksakan AHY, TGB akan lepas. Karena saat ini, elektabilitas TGB lebih bagus dibanding AHY.

Tak heran jika Demokrat juga meliriknya sebagai kader potensial di pilpres. Rakyat terus menanjak. Dulu 2014 memang Demokrat diklaim karena kita tidak punya tokoh. Kenapa tidak kemudian berjuang sangat-sangat besar, karena tidak ada yang asli dari Demokrat. Tentu harus apresiasi. Namun apakah bisa TGB bersaing dengan calon lainnya untuk dapat menduduki kursi sebagai kandidat calon dalam Pilpres?.

Apalagi Partai Gerindra menyebut Muhammad Zainul Majdi atau Tuan Guru Bajang (TGB) disebut beberapa kali, menjadi salah satu opsi cawapres untuk Prabowo Subianto. Apa respons TGB?. TGB saat ini ada banyak mendapat dukungan tokoh.

Menurut Hendri Satrio (2018), katakan, belum diperhitungkan elektabilitas TGB dalam bursa capres ataupun cawapres karena sosok TGB yang kalem dan tidak ambisius. Memang kalau dibandingkan dengan Gatot (mantan panglima TNI Gatot Nurmantyo–Red), elektabilitasnya masih kalah. Tapi, kalau dimajukan sebagai capres, TGB akan lebih berpeluang menjadi lawan berat Joko Widodo.

Munculnya nama TGB, karena umat Islam membutuhkan figur pemimpin yang mengayomi seluruh agama – agama yang mensyaratkan toleransi. Apalagi, TGB terpilih menjadi gubernur selama dua periode dan berhasil memimpin NTB. Fakta ini bakal menjadi modal kuat untuk bisa menantang Jokowi. Selain sangat toleran dan berhasil memimpin NTB, TGB juga memiliki pengetahuan Islam yang sangat bagus dan dalam. TGB juga hafiz (hafal Alquran–Red).

Berdasarkan hasil survei Media Survei Nasional (Median) pada Februari, elektabilitas TGB sebagai kandidat capres paling kuat pada 2019. Selain itu, TGB diyakini capres alternatif yang justru mengalami kenaikan elektabilitas. Ada yang menjagokannya sebagai capres, ada juga sebagai cawapres untuk Prabowo maupun Jokowi. Elektabilitas TGB di beberapa hasil survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA sebesar 13,9%, Populi Center sebesar 0,3 %. LSI mengerucutkan para tokoh Cawapres tersebut berasal dari kalangan muda relijius. Ada lima tokoh yang dianggap jadi representasi tokoh muda relijius. TGB mendapatkan 74,8% sebagai Cawapres paling disukai masyarakat.

TGB, walau terbilang sebagai tokoh baru dalam kontestasi Pilpres, tetapi dalam beberapa survei terakhir elektabilitasnya sudah melampaui beberapa nama lama. Salah satunya seperti dalam rilis lembaga survei PolcoMM Institute, Minggu (25/3), yang menempatkan namanya dalam 5 besar capres 2019.

Dalam survei itu, TGB menempati posisi 4 dengan perolehan 1,75 persen. Angka tersebut memang masih terpaut jauh di bawah elektabilitas Jokowi (49,08 persen) dan Prabowo (29,67 persen). Namun, TGB hanya terpaut sedikit dari posisi ke-3 yang ditempati oleh Mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo (3,5 persen). Sedangkan nama-nama lainnya seperti AHY, Zulkifli Hasan, Yusril Ihza Mahendra, Cak Imin, Anis Matta, hingga Sohibul Iman hanya mendapat elektabilitas kurang dari satu persen.

Menurut Heri Budianto (2018) dari PolcoMM Institute, katakan bahwa TGB muncul dikarenakan aktivitas politiknya yang kini tengah massif dengan melakukan safari politik ke berbagai daerah. Memang TGB ini masif bergerak di lapangan road show terus. Jadi karena itu. Mereka ke seluruh Indonesia. Menyebut ada 3 tokoh dari kalangan santri yang cukup potensial untuk mendampingi Jokowi dalam rilis Februari 2018 lalu. Nama TGB menjadi salah satu tokoh yang memiliki punya poin positif untuk bisa menjalankan visi-misi kebangsaan yang nantinya bisa jadi modal di Pilpres 2019.

TGB juga mendapat dukungan dari berbagai tokoh nasional. Tanggapan TGB? “kalau memang kita terus berikhtiar memberi yang terbaik, bahwa ada harapan, ada aspirasi sebagian masyarakat, ya berarti dipercaya oleh sebagian masyarakat, untuk terus berkontribusi, mungkin ke ranah yang lebih besar pada pilpres 2019.” Tak hanya itu, nama TGB juga sudah masuk di lembaga survei sebagai kandidat. Bukan tanpa alasan, TGB masuk bursa. Pria berumur 36 tahun ini punya rekam jejak yang teruji. Dengan prestasi itu, TGB santer dibicarakan sebagai salah satu hasil regenerasi di tubuh partai politik, salah satunya Demokrat.

Representasi tokoh muda relijius, TGB Jadi capres cawapres yang paling disukai masyarakat saat ini. Peluang bertarung level nasional sebagai representasi Islam. TGB menempati urutan pertama sebagai Calon Wakil Presiden (Cawapres) yang paling disukai masyarakat. Hal ini sesuai hasil Survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) yang dilakukan Desember 2017 lalu.

Hasil survei itu, tentu sudah harus disyukuri oleh TGB “bahwa sebagai sesama alumni Al-Azhar akan berikhtiar yang terbaik buat pengabdian TGB di kancah nasional dan menawarkan pemimpin yang mencintai rakyatnya yang ada di sosok TGB.” Figur TGB kuat sebagai pejabat yang hafal Al Qur’an, menguasai ilmu-ilmu ke Islaman dan tokoh yang banyak diidolakan golongan Islam. TGB, mengaku siap bila dipercaya menjadi calon wakil presiden di Pilpres 2019.

Menurutnya, aspirasi dan harapan untuk maju di Pilpres itu adalah kehormatan dan bentuk kepercayaan. Ada harapan dari elemen masyarakat, dari kelompok, berarti ada kepercayaan, bagi saya pribadi, itu adalah kehormatan,” TGB sebagai anak bangsa tidak boleh mengatakan tidak siap untuk menjalankan pengabdian. Anak bangsa tidak boleh mengatakan tidak siap di manapun ia mengabdi.

Di struktural, kultural, pemerintahan, di luar pemerintahan semua ruang pengabdian yang memungkinkan, ya harus siap. Memang Zainul Majdi yang termasuk dalam nominasi cawapres Prabowo Subianto dianggap cukup baik.

Dinamika internal partai Demokrat sempat memanas karena sebagian kalangan menuduh TGB memelihara buzzer dan ada pihak yang tidak bertanggung jawab menggunakan nama TGB. Partai Demokrat hanya mendapat informasi bahwa TGB mempunyai tim sukses sendiri yang sedang bekerja untuk mencari peluang dan peruntungan kedepan di Pilpres 2019. Peristiwa itu adalah upaya menahan laju elektabilitas AHY dengan cara menempatkan TGB sebagai korban ketidakadilan. TGB sendiri lebih pantas menjadi calon presiden.

Dari berbagai daerah TGB mendapat dukungan politik, seperti dari Bengkalis, Riau dan Pelalawan Riau. Dukungan kepada TGB merupakan panggilan jiwa dan raga bagi umat, karena melihat kondisi agama Islam yang terpojok sejak rezim Jokowi sehingga kita bertekad untuk mendukung TGB menjadi capres.”

Modal TGB di NTB telah menunjukkan marwah kepemimpinannya, yang sukses membawa kemakmuran serta berhasil menyejahterakan rakyatnya terutama para petani. Bahkan begitu banyak prestasi yang didapatkannya. Betapa luar biasanya wawasan TGB membicarakan semua permasalahan yang dihadapi di Indonesia saat ini. “umat Islam yakin dan percaya jika sosok Tuan Guru Bajang Zainul Majdi mampu melanjutkan prestasi kepemimpinannya pada level nasional yang Amanah sehingga bisa membawa rakyat Indonesia kearah kemakmuran dan kesejahteraan yang berkeadilan.”

TGB sukses mengangkat NTB dari predikat sebagai provinsi tertinggal sehingga sudah layak dipromosikan keberhasilannya selama menjadi Gubernur NTB sebelum maju dalam Pilpres 2019. Sejauh ini hanya umat muslim yang mengenal TGB sebagai sosok pemimpin muda yang agamis, mampu menghafal Al-Qur’an, tapi di luar itu masyarakat masih minim informasi tentang TGB yang perlu diketahui publik.

Berdasarkan data yang diperoleh, dalam jangka waktu 2014-2016, laju pertumbuhan ekonomi NTB meningkat hingga 9,9%. Bahkan melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang hanya sebesar 4,9%. Prestasi ini membuat NTB diganjar sebagai Provinsi dengan predikat pertumbuhan ekonomi terbaik.

TGB juga berhasil menekan angka pengangguran di NTB hingga 3,32% Prestasinya ini menyematkan NTB sebagai provinsi ke-6 dengan angka pengangguran terendah.

Menurut Dudung Nurullah Koswara (2018) seorang Pendidik dan Politisi Pendidikan dalam tulisannya berjudul “Pernyataan Sang Hafiz Tentang Jokowi” bahwa sosok TGB adalah sosok manusia istimewa. Usia 36 tahun menjadi seorang gubernur muda yang bermula dari anggota DPR RI. Tentu paling istimewa dari TGB adalah hafiz-nya. Ia hapal 30 juz Al Quran yang memiliki keistimewaan. Para penghafal Al-Quran sudah pasti selalu mendengarkan ayat-ayat Allah Swt, karena mereka selalu mengulang-ulang hafalan mereka di pagi, siang ataupun malamnya.

Dasar tulisan Dudung (2018) itu karena ada pernyataan TGB yang mengatakan “Suatu transfromasi enggak cukup hanya lima tahun, ketika periodisasi maksimal 10 tahun. Saya rasa sangat fair kita beri kesempatan beliau untuk kembali melanjutkan.” Ini sebuah pernyataan politik etis karena dihadapan Presidennya atau sebuah ungkapan jujur?. Melihat pernyataan selanjutnya yang TGB menjelaskan bahwa “Delapan kali beliau (Jokowi) ke NTB. Ini artinya beliau melihat di NTB ada gerak pembangunan kerja nyata untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Saya melihat beliau mau mengapresiasi orang-orang yang bekerja.” Ini sebuah ungkapan faktual dan jujur. Bahkan pernyataan TGB ini memang persis apa yang telah dilakukan Jokowi, termasuk ke Papua. Jokowi termasuk Presiden paling memperhatikan Papua dibanding Presiden yang lain. Bahkan dihadapan masyarakat Papua konon Presiden itu hanya ada dua. Jokowi dan Gus Dur. Pernyataan TGB “mendukung” Jokowi dua periode tentu sangat menyakitkan bagi maniak tagar ganti presiden. Tidak enak didengar, menyakitkan dan menimbulkan curiga. Tidak kebayang kalau dukungan itu keluar dari TGB.

Menurut analisa langitan, TGB sosok kuda hitam di Pilpres 2019. Hal tersebut tidak terlepas dari perbincangan publik mengenai kansnya dalam kontestasi Pilpres 2019. TGB sebagai kuda hitam karena salah satu indikator yang menjadi bahan pertimbangan partai untuk mencalonkan kandidat dalam pilpres adalah elektabilitas. Tak heran, acap kali lembaga survei merilis temuannya, banyak parpol yang menjadikan itu sebagai acuan dalam memberikan keterangan terkait siapa jagoannya dalam pilpres kelak.

Bola panasnya ada di Demokrat
Saat ini dua nama yang santer menjadi jagoan Demokrat di Pilpres 2019 adalah AHY dan TGB. Sulit membayangkan langkah TGB akan jauh apabila melihat bagaimana gerakan AHY di Demokrat. Saat ini AHY merupakan jenderal lini depan pemenangan Demokrat di Pemilu serentak. Sebagai Kogasma, tentu AHY akan lebih banyak bersentuhan secara langsung dengan masyarakat di berbagai daerah.

Artinya, Demokrat sedang benar-benar mempersiapkan sosok AHY untuk Pilpres mendatang. Hal ini menjadikan TGB harus bersaing lebih awal sebelum melaju dalam pertarungan sesungguhnya di Pilpres. Apabila berhasil, bukan tidak mungkin TGB akan menjadi kuda hitam yang merepresentasikan kalangan santri dalam pagelaran Pilpres 2019.

Apakah TGB, akan merapat ke kubu Jokowi atau kubu Prabowo ataukah berusaha diluar garis dalam Pemilihan Presiden 2019. Namun, TGB mengharapkan Pilpres menjadi ajang kontestasi ide dan gagasan serta visi. Selain itu dalam Pilpres seharusnya juga menghindari sikap-sikap primordialisme.

Saatnya Tuan Guru yang memimpin negeri dengan masa depan yang panjang. Capres cawapres yang berani mengkritik secara terbuka. TGB kalau kalau mengkritik tidak membuat sasarannya terluka. Bahkan tertawa-tawa. Saking mengenanya. Jalan TGB menuju Istana terus hangat dibicarakan untuk bertarung dalam Pilpres 2019.

TGB sendiri saat ini masih belum menunjukkan sikap yang pasti. Sejauh ini, ia lebih banyak terlihat tersanjung dan bersyukur saat ditanya kesiapannya untuk menjadi kontestan di Pilpres 2019. Kondisi serupa berlaku pada partai-partai politik yang ada. Demokrat,  tempat TGB bernaung masih belum resmi memberi dukungan pada siapapun termasuk dirinya. Hal yang sama terjadi pada partai-partai lain.

Kondisi ini menjadi modal tersendiri baginya dalam merajut karir di dunia politik dan sentimen Islam
beberapa kalangan yang menilai TGB memiliki modal yang cukup mumpuni untuk bertarung pada Pilpres 2019 nanti. Salah satu senjata utamanya adalah pengalamannya menjadi pemimpin saat menjadi Gubernur NTB.

Tidak hanya berpengalaman, kader Demokrat ini juga tergolong berprestasi. Selain itu, TGB juga dianggap paket sempurna untuk menjadi representasi massa Islam di Pilpres 2019. Salah satu momen yang membuat namanya begitu terkenal di media sosial, adalah ketika terjadi insiden berbau etnis yang menimpanya di bandara.

Kala itu, ia menjadi korban kata-kata berbau rasis dari seseorang. Akibat peristiwa itu, ia seolah menjadi simbol bagi perlawanan terhadap etnis tertentu. Namanya pun menjadi semakin harum bagi kelompok Muslim.

Diprediksi, merebaknya TGB di berbagai media belakangan ini tidak lain hanya memanfaatkan sentimen identitas Islam saja. Gerilya orang yang mendukung TGB dapat dipandang sebagai luapan emosional kelompok Islam tertentu yang menginginkan pemimpin dengan identitas serupa. TGB ini berada di momentum yang tepat, di kala kelompok tersebut tengah mencari sosok pemimpin.

Kondisi ini senada dengan penelitian Patrick J. Kenney dan Tom W. Rice dari University of Utah tentang momentum politik. Momentum ini menguntungkan bagi tokoh, mengikat publik, dan disebarkan oleh media. Berdasarkan kondisi tersebut, TGB tengah mendapatkan momentum yang baik di tengah menguatnya identitas politik Islam.

Saat kalangan Islam rindu akan pemimpin Muslim, sosoknya muncul ke permukaan. Kasus rasisme yang menimpanya, menambah sorotan publik kepadanya. Momentum ini semakin tidak terbendung melalui pembicaraan di media sosial sehingga namanya pun kian berkilau.

Mengutif PintarPolitik (2018) bahwa “jika harus menggunakan identitas Islam sekalipun, TGB masih harus bersaing dengan nama-nama lain yang juga hangat dibicarakan untuk Pilpres nanti. Hal ini berarti meski ia tergolong seksi untuk digandeng, identitasnya sebagai representasi kalangan Islamis masih bisa diisi oleh tokoh lain.

TGB memang tergolong rising star dalam dunia politik tanah air. Meski begitu, agar karirnya dapat terus melesat hingga ke Istana, ia sebaiknya melebarkan sayap terlebih dahulu. Identitas Islam yang masih begitu kuat didirinya, harus diperlebar agar dapat menjangkau kalangan lain, sehingga sinarnya yang tengah benderang tidak meredup. Selamat mencoba.

Comments

comments