TGB : Makrifat Yang Futuristik

0
114
Rusdianto Samawa, Direktur Eksekutif Global Base Review (GBR) (MetroNTB/Istimewa)

OPINI, MetroNTB.com – Siapa tidak mengenalnya? sosok equality sifis selama 10 tahun memimpin NTB sudah dikenal banyak terobosannya. Penilaian itu, karena Bajang memiliki keanggunan pribadi sebagai simnol transformasi kepemimimpinan santri.

Bajang hadir dalam setiap persoalan, tanpa mengenal batas suku, agama, ras dan golongan. Bajang, dikenal santri pemersatu yang sangat diharapkan menjadi pioner dari seluruh jalan keluar berbagai masalah sosial yang muncul.

Bahkan, Prof. Dr. Munir Mulkhan (2015) berpendapat tentangnya, yakni kehidupan manusia yang semakin modern dan beradap ternyata tidak identik dengan berkurangnya permasalahan dibidang kehidupan sosial, budaya ekonomi, dan politik serta kemanusiaan yang ternyata terus muncul di berbagai belahan dunia.

Hal ini menunjukkan bahwa realisasi nilai kemanusiaan yang luhur merupakan persoalan global sekaligus universal. Maka, Bajang muncul sebagai pioner dan oase dari banyaknya masalah itu untuk memberi sentuhan nilai dakwah, spritualitas dan jaminan terpenuhinya nilai-nilai kebahagiaan masyarakat.

Karena itu, keterujian Bajang merupakan simbol transformasi sosial santri yang selama ini dalam batas nasionalitas kebangsaan mulai perlu di dialogkan dengan dasar apakah mampu mengatasi berbagai masalah kemanusiaan global tersebut.

Bajang kategori kaum sufistik bernilai tinggi. Model sufistik memimpin pemerintahan tentu melihat kehidupan sosial, ekonomi dan politik bukanlah tujuan final, tapi tangga bagi kehidupan lebih luhur. Inilah maksud ajaran suluk sebagai jalan mencapai makrifat sebagai pengetahuan tertinggi tentang hakikat kehidupan dinamis alam dan manusia.

Nilai makrifat Bajang yang futuristik itu, membuat Bajang bisa melihat hukum kausal sejarah sejak kecil karena faktor kelahirannya dari keturunan Tuan Guru dan Syaikh. Tentu futuristiknya mampu prediksi kemungkinan kejadian di masa depan.

Realisasi doktrin sufistik bagi Bajang bukanlah dengan menjauhi, menolak dan menghindari pergulatan kekuasaan politik dan budaya, melainkan melampaui dan menerobos batas-batas dinamika itu yang bisa dikatakan kekuatan transformasi leadership santri sufis.

Cara hidup Bajang sebagai sosok sufi (perilaku sufistik) dalam kekuasaan dan politik merupakan teknik pembebasan rakyatnya dari perangkap abnormal ketika melakukan tindakan sosial, ekonomi dan politik, juga dalam kegiatan ritual keagamaan.

Praksis sufis bukan menjauhi kehidupan sosial, ekonomi dan politik, tapi melakukan semua tindakan itu sebagai wahana pencapaian taraf kehidupan lebih luhur dan manusiawi dalam tataran lebih spiritual dan ilahiah.

Itulah basis etik setiap laku sufi yang seharusnya meresapi tiap tindakan manusia di dalam kehidupan sosial, ekonomi dan politik serta berbagai kegiatan ilmiah. Inti ajaran sufi demikian itu mudah kita kenali di semua ajaran agama, masalah sosial, ekonomi dan.politik di dunia secara otentik.

Berbasis etika sufistik Bajang itulah bersedia membantu meringankan penderitaan orang lain, walaupun diri sendiri menghadapi kesulitan dan penderitaan serupa. Prestasi kehidupan sosial, ekonomi dan politik, selalu terarah bagi capaian kualitas spiritual, bukan semata bagi status sosial, penumpukan harta dan kuasa pribadi.

Yang keras, ketika Bajang bermetamorfosa pada nasionalitas kebangsaan. Pada 2019 nanti, pertarungan itu menandakan bahwa seorang Sufis bukan saja menafsirkan nilai-nilai tetapi merealisasikan visinya.

Begitupun demokrasi Sufis harus dimaknai egaliter. Ada yang demo setiap minggu perlima orang soal saham, hanya karena persoalan yang cenderung dicari-cari celah kesalahannya. Padahal, terpenting yakni gagasan Sufistik yang menunjung tinggi kesadaran humanitasnya terhadap problem solving keinginan rakyat untuk memiliki pondasi ekomominya.

Dalam ceramah-ceramah Tuan Guru Bajang sering mengatakan ajaran zuhud bukan uzlah (meng-isolasi diri) lari dari dinamika hidup empirik, tapi mengatasi hingga bisa bertindak sebagai pengamat atas hidupnya sendiri dan kehidupan duniawi.

Fakir bukan hidup miskin tanpa harta dan kuasa, tapi berlaku bagai si miskin atas harta dan kuasa yang dimiliki, sehingga seseorang mudah memberikan harta dan kuasanya bagi kesejahteraan publik.

Itulah sufistisasi Bajang yang ditempatkan untuk mengurus ekonomi yang belakangan berkembang menjadi faktor penentu dinamika sosial dan politik.

Sufistisasi berarti peletakkan tiap usaha dan prestasi sosial, ekonomi, dan politik pada akar nilai kemanusiaan, bukan sebagai berhala-berhala ketika harta dan kuasa dianggap lebih berharga dari praksis pemihakan kepentingan humanitas universal.

Keculasan ekonomi (kerakusan kapilatistik) dan politik (cenderung korup) ialah akibat perilaku ekonomi dan politik hanya untuk meraih kekayaan harta finalistik.

Namun, ada hal yang sangat disayangkan, bahwa lingkungan Bajang dilingkupi oleh sakralitas santri yang terkadang vakemnya tak mafhum. Sala satu contoh image (citra) dimata banyak masyarakat tak memberi arti yang lebih untuk mengerjakan setets kebaikan. Karena faktor sakralitas itu menjadi penghambat.

Sufistisasi produktif seorang Bajang sangat penting dalam keberagamaan untuk menuntun masyarakat keluar dari ketertinggalan yang miskin dan terkebelakang.

Selama ini ajaran fakir bersama sufistik dipahami sebagai ketakpedulian muslim dalam dinamika sejarah terhadap peluang ekonomi sosial, pendidikan, dan peluang politik menjadi penguasa.

Strategi Bajang sebagai sufis produktif lebih urgen di tengah penduduk miskin negeri kaya sumber daya alam Indonesia ini jumlahnya bisa lebih besar dari angka-angka resmi BPS (Biro Pusat Statistik). Derita orang miskin Indonesia menjadi lebih tragis saat globalisasi lakukan pabrikasi kehidupan materialistik. Saatnya, Bajang merealisasikan konsepnya, jangan berhenti.

Penulis : Rusdianto Samawa, Direktur Eksekutif Global Base Review (GBR)

Comments

comments