Strategi Aproach “Baygon Obat Nyamuk” Tuan Guru Bajang, Dari Pancor Hingga Aceh

0
130
Rusdianto Samawa, Direktur Eksekutif Global Base Review (GBR)

Direktur Eksekutif Global Base Review (GBR), Rusdianto Samawa,

OPINI, MetroNTB.com – Istilah “Membangun Nusa Tenggara Barat melebihi ekonomi Indonesia,” itulah ekspektasi yang muncul. Tak disadari menjadi nyata. Dengan keberhasilan memimpin NTB, kini masuk bursa Capres atau Cawapres yang paling di idolakan rakyat, terutama kaum santri.

iklan RSUD NTB

Penulis sendiri perkirakan, dari situlah sumber utama energi, terbentuknya opinion leaders dan humanity approach dari hasil analisa lapangan yang bersumber dari sikap keliling yang di lakukannya dari Pancor hingga Aceh.

Istilah “Baygon Obat Nyamuk,” itu, diambil dari hasil riset Bupati Bojonegori selama 3 tahun lamanya meriset strategi Kang Yoto (Suyoto) menang menjadi bupati hingga dua periode. Tentu, latar belakang strategi ini muncul karena penyebabnya terlalu besar jurang kemiskinan yang mengangga sehingga membutuhkan seorang calon bupati yang menghibahkan dirinya untuk berkeliling ke seluruh kabupaten/kota dengan filosofis “Strategi Baygon Obat Nyamuk” artinya dimulainya keliling dari Desa mengepung Kota.

Strategi ini merupakan hasil riset penulis sendiri. Kemudian, penulis mempublikasikan dalam bentuk buku yang berjudul “Kang Yoto Bupati Transformatif, Mengubah Kutukan Menjadi Berkah.” Buku ini telah dicetak sebanyak 200 ribu eksamplar, dalam kurun waktu 3 tahun habis di Gerai Gramedia seluruh Indonesia. Tentu diterbitkan oleh Global Base Review (GBR).

Coin For Lombok

Ya, tentu judul ini disematkan kepada Tuan Guru Bajang, pasti ada kesamaan dan perbedaannya. Kesamaan yang bisa diambil maknanya adalah sama-sama Santri, Kang Yoto berasal dari Muhammadiyah dan Tuan Guru Bajang berasal dari Nahdatul Wathan. Perbedaannya sudah jelas ada dalam konteks mengelola pemerintahan dan hasil kerja kerasnya selama memimpin.

Kembali ke topik Tuan Guru Bajang, strategi ini menjadi trending score bagi Tuan Guru Bajang pada level kelas menengah dan masyarakat pedesaan dengan karakter kalimat yang sangat mudah dicerna dan memiliki spirit pembangunan terhadap masa depan Nusa Tenggara Barat maupun Indonesia.

Strategi “Baygon Obat Nyamuk dan Opinion Leaders Tuan Guru Bajang memunculkan selebrasi publik yang membuat namanya melejit pada panggung kepemimpinan nasional. Tentu masyarakat juga mengelu-elukan “Tuan Guru Bajang” dalam proses menghadapi pilpres 2019.

Opini publik Tuan Guru Bajang, muncul dengan begitu menantang dan apik. Melalui pesan-pesan (message) dialog, ceramah, pidato dan sambutan diberbagai acara bersama masyarakat Islam, santri dan pimpinan pondok pesantren selalu meninggalkan pesan baik dihati masyarakat.

Sudah tentu keliling dan dialog itu menandakan intensitas komunikasi Tuan Guru Bajang melebihi prediksi banyak elit-elit politik negeri ini yang menginginkan sebuah perubahan besar. Maka “Tuan Guru Bajang” selalu mendengar apa yang diucapkan dan diinginkan rakyat. Ide bersilaturrahmi dan keliling Indonesia untuk demonstrasikan gagasan agar rakyat lebih detail untuk mengetahui latar belakang Tuan Guru Bajang.

Dimaknai konteks realitas politik, bahwa rakyat Indonesia dan umat Islam lebih khusus berharap kepada Tuan Guru Bajang untuk dapat memberikan kesejahteraan yang melebihi ekspektasi banyak rencana pemerintah.

Tuan Guru Bajang, mulai tampil hangat dan menjadi perbincangan masyarakat dari pelosok pedesaan hingga jantung ibukota Negara Republik Indonesia. Tahun 2019 kedepan ini memberikan kesempatan yang luas bagi pemilih untuk menentukan pilihannya sesuai keinginan dan hati nurani masing-masing.

Dalam pilpres 2019 mendatang, prediksi kompetisi sangat terbuka dan keras antara pasangan incumbent dengan non-incumbent, sehingga masing-masing pasangan calon bersama tim sukses membutuhkan sebuah strategi komunikasi politik yang efektif dan tangguh. Hal itu dimaksudkan untuk memunculkan kesadaran, rasa simpati, dan dukungan dari para pemilih.

Namun, sebelum itu, Tuan Guru Bajang harus mempersiapkan segala sesuatunya untuk hadapi pilpres. Kemungkinan terpilih untuk dipinang atau tidak, sistem running blusukan harus tetap dilakukan. Sehingga lebih mudah menilai komunikasi politik menjelang pemilihan presiden 2019 menjadi ukuran. Sejauh mana berjalan dan evaluasi atas kerja-kerja politiknya selama ini.

Tentu, harus terus dilakukan gerakan mendekatkan diri dan berjibaku bersama umat serta mendengar seluruh keluhan umat dan berkeinginan besar membuktikannya, bahwa Tuan Guru Bajang memiliki peluang besar untuk menjadikan Indonesia pioner dunia dalam konteks ekonomi, budaya, dan geopolitik internasional. Hubungan komunikasi inilah yang harus dibina oleh “Tuan Guru Bajang” bersama para masyarakat sehingga bisa mendapat dukungan yang luas dan peluang lebih baik.

Komponen-komponen komunikasi politik yang di lakukan Tuan Guru Bajang adalah pertama; penyampaian informasi dari seseorang kepada orang lain, dengan cara menggunakan media “lisan” atau dari mulut ke mulut dan atau melalui TIM relawan yang sudah terbentuk seluruh Indonesia. Sehingga lebih mudah terbangun opini dan citranisasi yang baik.

Tuan Guru Bajang membungkus kemasan informasi melalui transmisi secara simbolik sehingga informasi mudah difahami oleh masyarakat Indonesia dan pada akhirnya masyarakat memiliki kesamaan persepsi terhadap Tuan Guru Bajang sendiri.

Apalagi, penyampaian informasi dilakukan ditempat formal dan nonformal, seperti Televisi, pondok pesantren, ceramah, pidato dan forum-forum masyarakat khusus.

Tentu hal diatas, disebut sebagai komponen dasar strategi “Baygon Obat Nyamuk dari Pancor mengepung Indonesia.” Komunikasi politik Tuan Guru Bajang dibangun secara berpola dengan berangsur-angsur mengirim pesan kepada publik melalui sistem model “Spiral Opinion” yang digerakkan oleh struktur relawan TGB se Indonesia.

Artinya sudah menandakan bahwa Tuan Guru Bajang merupakan komunikator ulung yang perlu banyak orang belajar. Karena dari personalitasnya dikenal luwes dan mampu membuat masyarakat NTB saja ketergantungan terhadap kepribadiannya.

Kedua; pesan; politik diartikulasikan dalam sebuah realitas yang majemuk dan disuguhkan secara damai dan memelihara keragaman berfikir. Inilah yang dilakukan Tuan Guru Bajang selama lobi-lobi politik dalam memberikan pesan politik menjelang pemilihan (voters) Presidwn dan Wakil Presiden pada 2019 mendatang.

Tuan Guru Bajang berusaha memberi pesan-pesan politik yang lugas dan baik. Dengan cara keliling nusantara dari Pancor hingga Aceh, itulah yang disebut sebahai “Stratehi Baygon Obat Nyamuk” karena Tuan Guru Bajang bergerak dari Desa menuju pusat kota pemerintahan Republik Indonesia, berkeliling dan berputar menemui rakyat seperti putaran “Obat Nyamuk.”

Dari proses strategi “Baygon Obat Nyamuk” itu, akhirnya dapat menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk selalu hidup optimis dan bekerja sekuat tenaga agar masyarakat Indonesia mendapat kesejahteraan yang lebih baik. Itulah nasehat ceramah agama yang disampaikan “Tuan Guru Bajang” apabila diundang boleh masyarakat.

Tuan Guru Bajang tak pernah lelah untuk berkeliling dari desa satu ke desa lain, dari Provinsi satu ke daerah provinsi lainnya diseluruh Indonesia yang bertujuan mendengarkan langsung masalah dan keluhan masyarakat. Kadang “Tuan Guru Bajang” menginap di rumah warga, masjid, dan tempat-tempat umum. Saat berkeliling Indonesia, “Tuan Guru Bajang” bertemu dengan berbagai lapisan dan strata sosial masyarakat.

Ketiga, media; berbeda dengan incumbent yang sekarang Presiden RI Joko Widodo yang bisa membayar media dengan cara apapun. Namun, “Tuan Guru Bajang” tidak memiliki satupun media yang bisa mengangkat namanya atau ikut mendukung suksesnya atau tidaknya maju oada pilpres 2019 kedepan.

Bahkan banyak diantara media mainstream sangat jarang memberitakannya secara baik dan positif. Apalagi sekarang, ada banyak media itu selalu miring terhadap Tuan Guru Bajang. Terutama soal beberapa kali demonstrasi soal penjualan saham PT. NNT dan indikasi banyaknya korupsi sebagaimana rilis KPK RI.

Tetapi, kekuatan itu muncul secara sukarela datang dari relawan TGB dan pendukungnya yang mendukung tanpa ada yang komunikasikan. Itulah kekuatan orang-orang sabar, ulama dan pemimpin seperti Tuan Guru Bajang yang memiliki spirit membangun masa depan rakyat yang tulus dan berani. Tuan Guru Bajang hanya bermodalkan tatap muka untuk memberi pesan politik sehingga bisa meyakinkan masyarakat Indonesia.

Keempat; penerima pesan; Tuan Guru Bajang dikisahkan oleh seorang Hanafi warga Lombok ini bahwa “Tuan Guru Bajang” sangat baik dan menjadikan masyarakat sebagai alat untuk menyatukan perasaan demi mewujudkan kesejahteraan bersama. Apalagi “Tuan Guru Bajang” pernah menjadi jama’ah Aksi Bela Islam 212 2 tahun lalu melawan tirani taipan.

Sehingga umat Islam khususnya sangat simpatik dan mau mendukung Tuan Guru Bajang. Karena rakyat, wabil khusus umat Islam di datangi seorang calon pemimpin secara tidak kebetulan maka tentu mereka sangat apresiasi dengan sikap maupun langkah terbuka.

Terutama yang membuat masyarakat gembira adalah keseriusan “Tuan Guru Bajang” mengurus rakyat dengan mau berkorban untuk kepentingan umum bukan pribadi. Yang menarik, konsistensi Tuan Guru Bajang menunaikan sholat Qiyamul Lail setiap malam dilanjutkan pada subuh berjamaah dan ceramah di masjid-masjid sekitar Lombok. Apalagi, paling dominan namanya dikenal rakyat karena hafalan Al-Qur’an-nya yang sangat tuntas.

Selama kepemimpinannya juga, Tuan Guru Bajang dalam konteks berdakwah memberi optimisme dalam proses bermasyarakat dan beragama. Tentu yang disampaikan juga sangat berkaitan dengan memperoleh nikmat Tuhan.

Kelima, Interaksi Universal; dalam komunikasi politik yang perlu di perhatikan itu adalah kekuatan organisasi non politik seperti ormas keagamaan Islam Nahdatul Wathan dan jaringan pesantren lainnya.

Konteks ini tak lagi diragukan bagi Tuan Guru Bajang karena beliau sendiri berasal dari ormas keagamaan dan sosial kemasyarakatan. Dengan modal inilah, tentu relasi hubungan terbangun cukup kuat. Seperti dikisahkan oleh Hanafi bahwa Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama serta Nahdatul Wathan sendiri welcome dan akan mendukung pencalonan Tuan Guru Bajang pada pilpres 2019 mendatang.

Lima komponen komunikasi politik yang digalang Tuan Guru Bajang akan berhasil apabila mendapat feedback dari masyarakat Indonesia secara positif. Komunikasi politik model “Strategi Aproach Baygon Obat Nyamuk” ini (memutar) merupakan kekuatan baru yang dijadikan strategi dalam pertarungan politik.

Secara sederhana, komunikasi politik (political communication) Tuan Guru Bajang justru melibatkan pesan-pesan politik dan aktor-aktor politik yang juga berkaitan dengan kekuasaan, pemerintahan, kebijakan dan masyarakat Indonesia. “Rakyat mulai mengakui Tuan Guru Bajang,” di samping pinter dan memposisiskan diri sebagai ulama yang paling disegani.

Artinya, Tuan Guru Bajang memang milik seluruh rakyat Indonesia, wabil khusus umat Islam, tak ada yang di kecualikan. Tuan Guru Bajang bener-bener bisa membius publik dengan strategi politiknya, pertama; gerakan desa mengepung kota (teori gerakan Obat Nyamuk), gerakan kecamatan kepung kabupaten dan seterusnya, yakni dari desa paling pinghir di sisir hingga berputar seperti obat nyamuk masuk ke dalam kota jantung negara Republik Indonesia.

Begitu juga, pada sosialisasi persiapan hadapi 2019 juga dilakukan pendekatan elit, tokoh muda, mahasiswa dan membentuk relawan-rekawan grass roots. Akhirnya sebagai pendukungnya Tuan Guru Bajang, diharapkan bisa menoreh langgam demokrasi yang baik pada aspek karena selama ini kesan semua orang bahwa demokrasi itu mahal dan lebih sopan dalam sosialisasi.

Konsep Tuan Guru Bajang sebetulnya mirip dengan apa yang di katakan oleh Farabi Ilmuwan Politik Islam (dalam Varma, 1995), bahwa kekuasaan politik harus dipakai mendialogkan secara berkeadilan tanpa merusak hubungan baik antar sesama.

Begitu juga dengan David Easton dalam Sumarno (1989), mendefinisikan politik sebagai alat untuk membangun hubungan baik antar warga Negara, masyarakat dan personalitas secara baik dan benar tanpa merusak tatanan sosial yang telah diatur dengan berbagai norma, adat istiadat dan system sosial kemasyarakatan.

Dalam definisi ini David Easton menitikberatkan bahwa politik itu sebagai suatu proses komunikasi, di mana dalam perkembangan proses tersebut seseorang menerima orientasi politik tertentu dan pola tingkah laku yang mencerminkan kepribadiannya.

Mengamati Tuan Guru Bajang ibarat menyelam di lautan, menikmati panorama keindahan dan merasakan interaksi bersama alam. Begitulah cara melihat Tuan Guru Bajang karena berfikir dan gagasan besarnya sehingga melahirkan kebesaran bagi nilai-nilai kemanaausiaan.

Karena itu, Tuan Guru Bajang membangun komunikasi politik sebagai proses memahami informasi politik yang relevan sehingga dapat diteruskan dari sistem politik kepada sistem sosial. Proses ini terjadi secara berkesinambungan dan mencakup pertukaran informasi diantara individu dengan kelompok pada semua tingkatan masyarakat.

Rakyat Indonesia, wabil khusus umat beragama menganggap Tuan Guru Bajang sebagai bagian dari fungsi sistem politik dan pemerintahan yang mendasar (basic function of the system) dengan konsekuensi kebijakan yang tentunya memiliki ekspektasi perubahan dalam kebudayaan dan struktur politik.

Tuan Guru Bajang meyakini dapat asumsikan semua perubahan dalam masyarakat menyangkut pola-pola komunikasi dan sosialisasi misalnya menghasilkan perubahan sikap (attitude change) masyarakat.

Orientasi komunikasi politik Tuan Guru Bajang telah menjadikan dua hal: pertama, nilai dan usaha untuk mencapai. Tentu nilai dan tujuan itu sendiri dibentuk oleh proses perilaku. Kedua, mengajak masyarakat menjangkau masa depan dan bersifat mengantisipasi serta berhubungan dengan masa lampau (sejarah).

Dalam hal ini, Sumarno (1989) memberikan pandangan bahwa “political socialization refers to the learning process, by which the political norms and behavior acceptable to an ongoing political system are transmitted from generation to generation.”

Tentu dari batasan yang di maksud bahwa sosialisasi dan komunikasi politik bukan hanya menitikberatkan pada penerimaan norma-norma politik dan tingkah laku seorang aktir pada sistem politik yang sedang berlangsung, tapi juga bagaimana mewariskan nilai-nilai dari suatu generasi yang dapat dicontohkan. Semoga Tuan Guru Bajang dapat dicalonkan.

Comments

comments