Politik Alokatif : Metode Konstruksi Wacana Politik

0
187
Rusdianto Samawa, Alumni Komunikasi Politik, Sekolah Pasca Sarjana Universitas Muhammadiyah Jakarta 2014 (MetroNTB/Istimewa)

Penulis: Rusdianto Samawa, Alumni Komunikasi Politik, Sekolah Pasca Sarjana Universitas Muhammadiyah Jakarta 2014

OPINI, MetroNTB.com – Dalam hal ini, akan diperkenalkan tiga metode pendekatan yang berbeda pada analisis wacana politik pendekatan konstruksionis sosial, yakni teori wacana Ernesto Laclau dan Chantal Mouffe, analisis wacana kritis, dan psikologi kewacanaan.

ADS IRZANI

Ketiga pendekatan tersebut kesemuanya memiliki titik awal yang sama, yakni cara-cara dalam membahasnya tidak secara netral mencerminkan dunia, identitas, dan hubungan-hubungan sosial, tetapi ketiganya memainkan peran aktif dalam menciptakan dunia, identitas, dan hubungan sosial tersebut. Tiga pendekatan tersebut sama-sama memiliki premis-premis utama tertentu tentang cara memahami entitas seperti “bahasa” dan “subjek”.

Ketiganya juga memiliki tujuan untuk melaksanakan penelitian kritis, yaitu menyelidiki dan menganalisis hubungan-hubungan kekuasaan yang terdapat dalam masyarakat dan merumuskan prespektif-prespektif normatif yang bisa digunakan untuk mengkritik hubungan-hubungan seperti itu berdasarkan pandangan terhadap kemungkinan-kemungkinan terjadinya perubahan sosial.

Ditinjau dari pangkal konstruksi sosial, pandangannya terhadap bahasa yang berasal dari linguistik strukturalis dan postrukturalis, serta pemahaman terhadap individu berdasarkan versi Marxisme strukturalis, ternyata ada kemiripan di antara pendekatan-pendekatan itu.

Dalam kaitannya dengan identifikasi titik-titik konvergensi dan divergensi di antara tiga pendekatan itu, diakui bahwa membandingkan pendekatan tersebut bukanlah pekerjaan yang mudah. Tiga pendekatan itu berasal dari disiplin-disiplin ilmu yang berbeda sehingga otomatis mempunyai karakteristik sendiri-sendiri.

Selain itu, banyak analisis wacana yang bekerja lintas perbatasan disipliner, dan terdapat banyak persoalan teoretis dan piranti metodologis yang tidak semata-mata diserahkan pada satu pendekatan tertentu. Meskipun analisis wacana bisa diterapkan pada semua bidang penelitian, analisis wacana ini tidak bisa dipakai dengan menggunakan semua jenis kerangka teoretis.

Selain itu, analisis wacana tidak bisa digunakan sebagai metode analisis yang terlepas dari pondasi metodologis dan teoretisnya. Tiga pendekatan yang telah ditetapkan untuk dibahas secara khusus di sini semuanya didasarkan pada konstruksionisme sosial.

Konstruksi sosial merupakan istilah pokok yang memayungi sederet teori baru budaya dan masyarakat. Analisis wacana merupakan salah satu pendekatan di antara beberapa pendekatan konstruksionisme sosial, namun merupakan salah satu pendekatan yang banyak digunakan dalam konstruksi sosial.

Dalam karya Burr (1995: 2-5), terdapat empat premis yang sama-sama dimiliki oleh semua pendekatan konstruksionis, yang dibangun berdasarkan uraian yang dikemukakan Gergen (1985). Premis-premis tersebut adalah:

Pertama, Metode Politik Kritis. Pengetahuan kita tentang dunia ini hendaknya tidak diperlakukan sebagai kebenaran objektif. Realitasnya hanya bisa kita akses melalui kategori-kategori, dengan demikian pengetahuan kita dan representasi dunia ini bukanlah refleksi realitas “di luar sana”, namun merupakan hasil yang kita capai dalam kategorisasi dunia ini, atau dalam istilah analitis kewacanaan, merupakan produk wacana.

Kedua, Metode Politik Kultural Historis. Pada dasarnya kita merupakan manusia kultural dan historis, pandangan terhadap pengetahuan kita tentang dunia ini merupakan produk pertukaran-pertukaran berdasarkan situasi secara historis di antara orang-orang.

Akibatnya, cara-cara kita dalam memahami dan mengambarkan dunia itu secara kultural dan historis bersifat khusus dan mungkin pandangan dunia dan identitas kita sesungguhnya bisa berbeda dan pandangan-pandangan duni dan identitaas itu berubah sepanjang waktu.

Ketiga, Metode Sosial Politik. Cara kita dalam memahami dunia ini diciptakan dan dipertahankan oleh proses sosial. Pengatahuan diciptakan melalui interaksi sosial tempat kita mengonstruk kebenaran-kebenaran bersama dan membandingkan apa yang benar dan apa yang salah.

Keempat, Metode Pendekatan Tindakan Sosial. Dalam pandangan dunia tertentu, beberapa bentuk tindakan menjadi alami, sedangkan bentuk tindakan lain tidak bisa dipertimbangkan.

Pemahaman sosial yang berbeda terhadap dunia ini menggiring ke arah tindakan sosial yang berbeda dan juga konstruksi sosial pengetahuan dan kebenaran memiliki konsekuensi-konsekuensi sosial.

Secara teoritik teori wacana yang di populerkan oleh Ernesto Laclau dan Chantal Mouffe merupakan teori postrukturalis yang paling “murni”. Teori ini bertitik pangkal dari gagasan postrukturalis yang menyatakan bahwa wacana mengonstruk makna dalam dunia sosial dan karena secara mendasar bahasa itu tidak stabil, maka tidak pernah bisa tetap secara permanen. Tidak ada wacana yang merupakan entitas tertutup, namun wacana senantiasa mengalami transformasi karena adanya kontak dengan wacana-wacana lain.

Sementara analisis wacana yang difokuskan pada pendekatan Norman Fairclough, juga menekankan peran aktif wacana dalam mengonstruk dunia sosial. Tetapi berlawanan dengan pendapat Laclau dan Mouffe, Fairclough menyatakan bahwa wacana hanyalah merupakan salah satu di antara banyak aspek praktik soaial. Bidang utama yang menarik dalam analisis wacana kritis yang dikemukakan Fairclough adalah penyelidikannya terhadap perubahan.

Penggunaan bahasa kongkret selalu berdasarkan struktur kewacanaan awal karena pengguna bahasa membangunnya berdasarkan makna yang telah mapan. Fairclough memusatkan perhatiannya pada persoalan ini melalui konsep antar tekstualitas yakni, bagaimana teks individu bergantung pada unsur-unsur dan wacana teks-teks lain.

Dengan jalan menggabungkan unsur-unsur yang berasal dari wacana-wacana yang berbeda itulah penggunaan bahasa kongkret bisa mengubah wacana individu tersebut dan dengan demikian juga mengubah dunia sosial dan kulturnya.

Melalui analisis antar tekstualitas ini kita bisa menyelidiki reproduksi wacana yang tidak memperkenalkan unsur-unsur baru dan perubahan kewacanaan melalui gabungan-gabungan baru wacana.

Fokus kajian empiris dengan analisis wacana, yakni persoalan khusus penggunaan bahasa dalam interaksi sosial. Psikologi kewacanaan merupakan suatu pendekatan pasa psikologi sosial yang telah kembangkan jenis analisis wacana untuk mengeksplorasi cara-cara terbentuknya dan berubahnya emosi-emosi, pikiran-pikiran, dan diri orang-orang melalui interaksi sosial dan untuk menjelaskan peran proses-proses tersebut dalam perubahan dan reproduksi sosial dan kultural.

Kemudian selain premis konstruksi sosial umum, semua pendekatan analisis wacana bertemu dalam pandangan bahasa dan subjeknya. Pendekatan pada analisis wacana mengambil titik awal dari pernyataan filsafat postruktural dan strukturalis, sehingga akses kita kepada realitas selalu melalui bahasa.

Dengan menggunakan bahasa, kita bisa menciptakan representasi realitas yang tidak pernah sekedar refleksi dari realitas yang ada sebelumnya, tetapi mampu memberikan kontribusi pada pengonstruksian realitas. Hal ini tidak berarti bahwa realitas itu sendiri tidak ada. Makna dan representasi itu sifatnya riil. Objek-objek fisik juga ada, tetapi objek-objek itu hanya mendapatkan makna melalui wacana.

Bahasa bukanlah sekedar saluran tempat komunikasi informasi tentang keadaan mental utama atau perilaku atau fakta-fakta dunia ini. Sebaliknya, bahasa merupakan alat yang menggerakkan, dan akibatnya menyusun, dunia sosial itu sendiri.

Selain itu, bahasa juga menata hubungan-hubungan dan identitas sosial. Maksudnya bahwa perubahan-perubahan yang terjadi dalam wacana merupakan alat untuk mengubah dunia sosial.

Pemahaman bahasa sebagai suatu sistem yang tidak ditentukan oleh realitas yang dirujuknya, berakar dari linguistik strukturalis yang lahir akibat bengkitnya ide-ide rintisan Ferdinand de Saussure, manyatakan bahwa tanda (sign) terdiri atas dua sisi, bentuk (signifiant) dan isi (signifie), dan bahwa hubungan antara kedua itu sifatnya arbiter.

Makna yang kita berikan kepada kata-kata tidak melekat pada kata-kata itu melainkan merupakan hasil konvensi sosial tentang cara kita menghubungkan makna dengan bunyi tertentu.

Saussure memandang struktur semacam ini sebagai institusi sosial dan dengan dimikian bisa berubah sepanjang waktu. Saussure juga membedakan antara dua tataran bahasa yakni language dan parole. Langue adalah struktur bahasa, yaitu jaringan tanda-tanda yang memberi makna satu sama lain dan struktur ini sifatnya tetap dan tidak bisa berganti-ganti.

Sebaliknya, Parole merupakan penggunaan bahasa berdasarkan situasi, tanda yang benar-benar digunakan pemakai bahasa itu dalam situasi tertentu. Parole harus selalu didasrkan pada langue.

Postruktural memiliki titik awalnya dalam teori strukturalis namun mengubah teori strukturalis itu dalam beberapa hal penting. Postruktural mengambil gagasan dan postruktural yang menyatakan bahwa tanda mendapatkan makna-makna bukan melalui hubungan dengan realitas melainkan melalui hubungan-hubungan internal yang ada dalam jaringan tanda-tanda.

Postruktural menolak pandangan postruktural bahwa bahasa itu merupakan stuktur yang stabil, tidak bisa diubah dan menyeluruh, dan postruktural menipiskan perbedaan antara langue dan parole.

Struktur memang ada, tetapi dalam keadaan sementara saja sifatnya dan tidak harus dalam keadaan konsisten. Pemahaman semacam ini memberi postruktural alat untuk memecahkan salah satu masalah tradisional struktural, yakni masalah perubahan.

Karena dalam postruktural, struktur bisa diubah dan makna tanda-tanda bisa bergeser kaitannya satu sama lain. Tidak semua pendekatan analisis wacana secara jelas berakibat pada postruktural, tetapi semua menyepakati ide-ide utama berikut:

1. Berpikir Bahasa bukanlah merupakan refleksi realitas yang telah ada sebelumnya. Bahasa terstruktur dalam pola-pola atau wacana-wacana. Tidak hanya ada satu sistem umum makna sebagaimana yang dikemukakan strukturalisme Saussurean namun terdapat serangkaian sistem atau wacana, tempat makna-makna bisa berubah dari wacana satu ke wacana yang lain.

2. Pola-pola kewacanaan itu dipertahankan dan di transformasikan dalam praktik-praktik kewacanaan. Oleh karena itu, pemeliharaan dan transformasi pola-pola tersebut hendaknya dieksplorasi melalui analisis konteks-konteks khusus tempat bertindaknya bahasa.

Begitu juga, Micheal Foucault telah memainkan peran utama dalam perkembangan analisis wacana melalui karya teoretis dan penelitian praktis. Secara tradisional, karya Foucault terbagi antara fase “arkeologi” awal dan fase “genealogi” akhir, kendati keduanya tumpang tidih, dan Foucault terus menggunakan piranti dari arkeologi dalam karya-karya berikutya.

Teori analisis wacana membentuk bagian arkeologinya. Foucault menganut premis konstruksionis sosial umum yang menyatakan bahwa pengatahuan bukanlah sekedar refleksi atas realitas, kebenaran merupakan konstruksi kewacanaan dan rezim pengetahuan yang berbeda menentukan apa yang benar dan yang salah.

Terdapat pernyataan yang tak terhitung jumlahnya dan yang tidak pernah diucapkan dan tidak pernah diterima sebagai pernyataan yang bermakna, kaidah historis wacana tertentu itu membatasi apa yang mungkin dikatakan.

Mayoritas pendekatan analisis wacana kontemporer mengikuti konsepsi Foucault tentang wacana yakni sebagai sederet pernyataan yang relatif terikat pada kaidah sehingga menentukan batas-batas pada apa yang memberi makna, dan pendekatan analisis wacana tersebut membangun ide-ide kebenaran sebagai sesuatu yang paling tidak dalam derajat tertentu, diciptakan secara kewacanaan. Foucault memusatkan perhatiannya pada kekuasaan.

Sejalan dengan wacana, kekuatan bukanlah milik agen-agen tertentu seperti individu-individu atau negara atau kelompok-kelompok yang memiliki kepentingan-kepentingan tertentu, namun kekuasaan tersebut menyebar dalam praktik-praktik sosial yang berbeda.

Kekuasaan harusnya tidak dipahami semata-mata sebagai sesuatu yang bersifat menindas, melainkan produktif, kekuasaan menyusun wacana, pengetahuan, benda-benda subjektivitas.

Konsep Foucault tentang kekuasaan/pengetahuan juaga memiliki konsekuensi terhadap konsepnya tentang kebenaran. Foucault menyatakan bahwa tidak mungkin mendapatkan akses ke kebebaran universal karena mustahil membicarakannya dari posisi di luar wacana.

Dalam fase arkeologi Foucault, “kebenaran” dipahami sebagai sistem prosedur-prosedur untuk pemroduksian, pengaturan dan pendifusian kalimat-kalimat. Dalam fase genealoginya, Foucault membuat hubungan antara keenaran dan kekuasaan, dengan menyatakan bahwa “kebenaran” disematkan dan dihasilkan oleh sistem kekuasaan.

Foucault juga telah memberikan titik awal bagi pemahaman analisis wacana terhadap subjek. Pandangannya adalah bahwa subjek diciptakan dalam wacana. Dia menyatakan bahwa “wacana bukanlah pengejawantahan yang indah dan agung pemiliran, pengetahuan, penuturan subjek”.

Bagi ketiga pendekatan itu, fungsi wacana merupakan praktik sosial yang membentuk dunia sosial. Konsep praktik sosial memandang tindakan dari sudut pandang ganda, di satu sisi tindakan itu bersifat kongkret, individu dan sifatnya terikat.

Namun di sisi lain, tindakan-tindakan juga terlambangkan dan terikat sosial dan karena itu muncul kecenderungan ke arah pola-pola regularitas. Analisis waana memberikan konsep wacana untuk teks, pembicaraan, dan sistem aemiologis lain dan membuat konsep ini tetap berbeda dengan dimensi lain praktik sosial.

Praktik kewacanaan dipandang sebagai suatu dimensi atau momen setiap praktik sosial dalam suatu hubungan dialektis dengan saat-saat lain suatu praktik sosial. Praktik kewacanaan mereproduksi atau mengubah dimens-dimensi lain praktik sosial seperti halnya dimensi sosial lain yang membentuk dimensi kewacanaan itu.

Secara keseluruhan, dimensi kewacanaan dan dimensi-dimensi lain praktik sosial itulah yang membentuk dunia kita. Pendekatan Laclau dan Mouffe tidak membedakan antara dimensi kewacanaan dan dimensi non kewacanaan dunia sosial.

Hal ini tidak berarti bahwa yang ada bukanlah apa-apa melainkan teks dan pembicaraan, tapi sebaliknya, wacana itu sendiri sifatnya material dan bahwa entitias merupakan bagian dari wacana.

Oleh karena itu, dalam teori Laclau dan Mouffe, tidak ada interaksi dialektik antara wacana dan sesuatu yang lain: wacana itu sendirilah yang sepenuhnya menyusun dunia kita.

Sebagian pendekatan memusatkan perhatiannya pada kenyataan bahwa wacana itu diciptakan dan diubah dalam praktik-praktik kewacanaan sehari-hari dan dengan demikian menekankan pada pada perlunya analisis empiris yang sistematis terhadap pembicaraan orang-orang dan bahasa tulis.

Pendekatan lain lebih peduli terhadap pola-pola umum dan bertujuan melakukan pemetaan yang lebih abstrak wacana-wacana yang beredar di masyarakat pada saat tertentu atau pada domain sosial khusus.

Meskipun psikologi kewacanaan difokuskan pada praktik keseharian orang-orang, psikologi ini senantiasa melibatkan struktur kemasyarakatan yang lebih luas yang di transformasikan atau dilakukan oleh orang-orang dalam praktik kewacanaan.

Namun pada saat yang sama, posisi-posisi pendekatan yang berbeda mencerminkan adanya perbedaan-perbedaan penekanan teoretisnya.

Psikologi kewacanaan jauh lebih tertarik pada penggunaan wacana secara aktif dan kreatif sebagai sumberdaya untuk mencapai tindakan-tindakan sosial dalam konteks khusus interaksi dibandingkan teori wacana Laclau dan Mouffe. Psikologi kewacanaan tidak tertarik pada bagaimana wacana, secara lebih umum, membatasi kemungkinan kita untuk melakukan tindakan.

Bagi analisis wacana, tujuan penelitian adalah tidak untuk “menyokong” wacana, menemukan apa yang benar-benar dimaksudkan orang ketika mereka mengatakan ini atau itu, atau menemukan realitas di balik wacana.

Titik awalnya adalah bahwa realitas tidak pernah bisa dicapai di luar wacana dengan begitu waana itu sendirilah yang menjadi objek analisisnya.

Dalam penelitian analisis wacana, yang dilakukan tidaklah memilah-milah pernyataan nama tentang dunia dalam materi penelitian itu mana yang benar dan mana yang salah.

Sebaliknya, analisis wacana harus menggarap apa yang benar-benar dikatakan atau ditulis, dengan cara mengeksplorasi pola-pola yang muncul pada lintas pernyataan dan mengidentifikasi konsekuensi-konsekuensi sosial representasi kewacanaan yang berbeda atas realitas.

Berdasarkan tiga pendekatan tersebut, masalah mengenai cara mengatasi kemungkinan kebenaran ternyata paling penting dalam psikologi kewacanaan dan teori wacana Laclau dan Mouffe, dan dua pendekatan itu memecahkannya dengan cara yang berbeda. Masalah ini kebanyakan diabaikan oleh Laclau dan Mouffe.

Teori dan analisis mereka yang di sajikan seolah-olah keduanya merupakan uraian objektif dunia dan mekanismenya. Sebaliknya, psikologi kewacanaan mencoba menguraikan peran analisis wacana melalui bentuk-bentuk reflektivitas yang berbeda.

Apabila memperbandingkan psikologi kewacanaan dan teori wacana Laclau dan Mouffe, dilema tersebut sekilas tidak nampak begitu penting dalam analaisis wacana kritis Faircloughkarena Fairclough melakukan pembedaan antaa wacana ideologis dan non-ideologis. Pada prinsipnya, peneliti harus mampu menghasilkan wacana non-ideologis.

Peneliti selalu mengambil posisi yang berhubungan dengan bidang kajian dan posisi itu memainkan bagian dalam menentukan apa yang bisa dia lihat dan dia sajikan sebagai hasil dan selalu ada posisi lain ditilik dari realitas mana yang tampak berbeda.

Namun hal ini tidak berarti bahwa semua hasil penelitian itu sama-sama bagus. Umumnya, konsistensi teoretis menuntut agar analisis wacana mempertimbangkan dan membuat jelas posisinya terhadap wacana tertentu yang dikaji dan analisis wacana mengakses ke kemungkinan-kemungkinan konsekuensi yang timbul dari kontribusinya kepada pemroduksian kewacanaan dunia kita.

Relativisme yang melekat dalam konstruksionisme sosial tidak berarti bahwa analisis itu tidak bisa bersikap kritis. Semua pendekatan manganggap dirinya kritis. Singkatnya, posisi kami adalah bahwa penerapan yang ketat teori dan metodelah yang melegitimasi pengetahuan yang dihasilkan secara ilmiah.

Dengan memandang dunia melaui satu teori tertentu sajalah kita bisa menjaga jarak kita sendiri dari sebagian pemehaman kita yang dianggap lumrah dan menyelaraskan materi kita dengan pernyataan lain dibandingkan apa yang bisa kita lakukan ditinjau dari prespektif sehari-hari.

Comments

comments