Politik Alokatif : Analisis Teks Dan Wacana Politik

0
127
Rusdianto Samawa, Alumni Komunikasi Politik, Sekolah Pasca Sarjana Universitas Muhammadiyah Jakarta 2014 (MetroNTB/Istimewa)

OPINI, MetroNTB.com – Kali ini kita akan membahas teks dan wacana politik. Maka, terdapat dua pendapat yang berbeda dalam memandang teks dan wacana politik.

Pendapat pertama bahwa istilah teks dan wacana politik memiliki makna yang sama. Pendapat ini bersumber dari Halliday dan Hasan dalam Arifin & Rani, 2000: 5, bahwa teks terdiri atas kata-kata, kalimat, dan makna-makna. Pendapat serupa diungkapkan oleh (Ricour dalam Sobur, 2006: 53) bahwa teks adalah wacana berbentuk lisan yang difiksasikan ke dalam bentuk tulisan.

Karman Ad

Menurut Oetomo (1993 : 4) istilah teks lebih dekat pemaknaannya dengan bahasa tulis, dan wacana pada wacana lisan. Jadi perbedaan kedua istilah itu semata-mata terletak pada segi (jalur) pemakaiannya saja.

Pendapat kedua memandang teks dan wacana politik adalah dua istilah yang berbeda masing-masing pengertian yang berbeda pula. Seperti yang disebutkan oleh Edmondson dalam Tarigan, (2009 : 24) bahwa wacana politik adalah suatu peristiwa berstruktur yang dimanifestasikan dalam prilaku linguistik (yang lainnya), sedangkan teks adalah suatu urutan ekspresi-ekspresi linguistik terstruktur yang membentuk suatu keseluruhan yang padu.

Hoed (dalam Arifin dan Rani, 2000 : 5) yakni membedakan pengertian wacana politik dari teks berdasarkan pandangan yang membedakan langgue dan parole.

Pemprov 300×600

Dikatakan oleh Hoed bahwa wacana politik adalah bangunan teoritis abstrak yang maknanya dikaji yang kaitannya dengan konteks dan situasi komunikasinya. Unsur bahasa teks dirujuk oleh suatu ujaran, sedangkan situasi politik.adalah unsur nonbahasa yang dirujuk oleh suatu ujaran juga.

Dengan demikian, wacana politik ada dalam tataran langue, sedangkan teks adalah realisasi sebuah wacana dan ada pada tataran parole.

Brown dan Yule seperti yang dikutip oleh Muljani (2003 : 170) ungkapkan bahwa teks dipandang sebagai produk yang kesampingkan pertimbangan rasional, sedangkan wacana politik merupakan proses yang perhitungkan semua dalam teks sehingga terungkap makna.

Berdasarkan berbagai pendapat di atas, penulis cenderung memaknai teks dan wacana politik sebagai dua hal yang berbeda dimana wacana politik merupakan sebuah proses sedangkan teks merupakan hasil atau keluaran (output) dari proses tersebut.

Wacana politik dapat diklasifikasi beberapa sudut pandang berdasarkan langsung, tertulis, bentuk, dan tujuannya. Kalau langsung adalah kutipan wacana politik yang sebenarnya dibatasi oleh intonasi atau pungtuasi (pesan suara orasi politik).

Sedangkan wacana tidak langsung adalah pengungkapan kembali wacana politik tanpa mengutip kata-kata secara harfiah yang dipakai oleh pembicara dan meengunakan kontruksi gramatikal atau kata tertentu dengan klausa subordinatif, dan sebagainya (Kridalaksana, 2008 : 259). Berdasarkan bentuknya wacana dapat berupa puisi, prosa atau drama (Tarigan, 009 : 49).

Berdasarkan media yang digunakan maka wacana politik dapat dibedakan secara tulis dan lisan. Wacana tulis artinya wacana yang disampaikan dengan bahasa tulis atau melalui media tulis. Untuk dapat menerima memahami wacana tulis maka sang penerima atau pesapa harus membacanya.

Di dalam wacana tulis terjadi komunikasi secara tidak langsung antara penulis dengan pembaca. Sementara itu, wacana lisan berarti wacana yang disampaikan dengan bahasa lisan atau media lisan.

Untuk dapat menerima dan memahami wacana lisan maka sang penerima atau pesapa harus menyimak atau mendengarkannya. Di dalam wacana lisan terjadi komunikasi secara langsung antara pembicara dengan pendengar (Sumarlam, 2003 : 16)

Penulis: Rusdianto Samawa, Alumni Komunikasi Politik, Sekolah Pasca Sarjana Universitas Muhammadiyah Jakarta 2014

Comments

comments