Ini Cara Zul-Rohmi Jaga Stabilitas Harga Komoditi Pertanian Di NTB

0
155

MATARAM, MetroNTB.com – Pasangan Calon Gubernur dan Calon Wakil Gubernur NTB, Dr Zulkieflimansyah dan Dr Hj Sitti Rohmi Djalilah (Zul-Rohmi) memiliki
cara tersendiri untuk menjaga stabilitas harga komoditi pertanian di NTB terutama di sektor pertanian tanaman pangan.

Stabilitas harga komoditi Padi dan Jagung, juga akan bermuara pada
peningkatkan kesejahteraan petani yang dapat diukur dengan indeks
Nilai Tukar Petani (NTP) yang disusun BPS nantinya.

ADS IRZANI

Seperti diketahui, selama ini harga komoditi sektor tanaman pangan
khususnya padi dan jagung kerab tidak stabil. Jika musim panen harga
menjadi anjlok sangat murah, dan berdampak pada pendapatan petani dan tingkat kesejahteraannya. Sementara jauh dari musim panen, harga meningkat tajam dan menyebabkan inflasi daerah.

Cagub NTB, Dr Zulkieflimansyah menilai, ketidakstabilan harga komoditi itu disebabkan lantaran belum hadirnya industri-industri pengolahan yang bisa menampung hasil produksi pertanian petani di NTB.

Menurut dia, pendekatan yang digunakan selama ini masih terkesan
pendekatan snapshoot, yang hanya menyelesaikan masalah, ketika
ketidakstabilan harga terjadi, tanpa mengatasi akar masalahnya,
sehingga menjadi masalah klasik yang tiap tahun terjadi.

Misalnya, ketika harga anjlok maka petani diberi bantuan dan stimulan,
sementara saat harga tinggi pemerintah melakukan operasi pasar untuk melindungi masyarakat kurang mampu.

“Zul-Rohmi tidak menggunakan pendekatan yang snapshoot seperti itu, tapi pendekatan yang berkesinambungan dan menukik ke akar masalahnya.

Banyak ketidakstabilan ini bukan hanya masalah pangan, tapi karena
tidak hadirnya industri pengolahan,” kata Dr Zul, dalam siaran persnya, Senin (28/5) kepada Media.

Ia mengatakan, produksi gabah dan jagung di NTB selalu surplus, namun
ketidakstabilan harga masih terjadi. Sebab, selama ini komoditi yang
dijual keluar masih dalam bentuk mentah.

“Harga tidak stabil karena, baik yang diserap Bulog maupun yang kita
kirim keluar, ke Bali Jakarta dan Surabaya dalam bentuk mentah. Tugas kami adalah bagaimana dorong agar industri pengolahan hadir, sehingga nilai tambah muncul. Kalau itu terjadi Insya Allah ketidakstabilan itu
bisa dicegah, bahkan bisa jadi ekonomis produksi,” kata Dr Zul.

Zul mengakui, untuk menghadirkan industri pengolahan bukan persoalan
sederhana dan membutuhkan komitmen juga waktu. Sebab, untuk
menhadirkan investasi industri pengolahan, daerah juga harus memiliki sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni.

“Memang bukan masalah sederhana, karena ini tidak semudah kita
membalik telapak tangan. Sehingga kita juga hadirkan infrastruktur
non-fisik di Kampus-Kampus untuk menciptakan SDM yang kondusif tentang itu,” katanya.

Dr Zul menambahkan, kehadiran industri pengolahan dan penyiapan SDM yang memadai akan memperkuat posisi NTB yang selama ini merupakan
lambang lumbung pangan nasional.

“NTB ini kan lambang lumbung pangan nasional, jadi jangan sampai
petani kita ini miskin di tengah keberlimpahan kita. Kenapa kita tidak datang dengan pendekatan yang mendasar, hadirnya industri pengolahan itu akan menjadi nilai tambah,” tukasnya.

*Peran  Perbankan*

Selain kehadiran industri pengolahan, papar Zul, peran sektor
perbankan juga akan ditingkatkan untuk upaya stabilisasi harga
komoditi pertanian dan juga untuk peningkatan kesejahteraan petani di
NTB.

Selama ini, kredit perbankan yang dikucurkan sebagian besar masih
didomonasi kredit konsumtif, dan juga akses petani untuk pinjaman
modal masih sangat terbatas.

“Kami juga akan dorong peran perbankan di NTB, tapi dengan cara
berpikir agak berbeda. Perbankan ini harus ada political will untuk
dorong kredit modal usaha dan kredit ke hal yang produktif,” katanya.

Semangat program kerja yang akan dijalankan Zul-Rohmi ini, juga sempat disampaikan pasangan nomor urut 3 ini dalam debat kandidat Paslon Pilkada NTB beberapa waktu lalu.

Hal serupa juga disampaikan langsung oleh Dr Zul maupun Dr Hj Sitti Rohmi dalam setiap kali kampanye blusukan mereka ke para petani di Lombok dan Sumbawa.

Comments

comments