Biografi Singkat Din Syamsuddin, Pengagas Aliran Politik Alokatif

0
190
Rusdianto Samawa, Alumni Komunikasi Politik, Sekolah Pasca Sarjana Universitas Muhammadiyah Jakarta 2014 (MetroNTB/Istimewa)

Penulis : Rusdianto Samawa, Alumni Komunikasi Politik, Sekolah Pasca Sarjana Universitas Muhammadiyah Jakarta, 2014

ARTIKEL, MetroNTB.com – Nama besar Din Syamsuddin memang tidak asing lagi di tingkat nasional bahkan di dunia. Bapak yang dijuluki sebagai tokoh perdamaian ini lahir di sumbawa besar 31 Agustus 1958 dari pasangan Syamsuddin Abdullah dan Rohana.

iklan RSUD NTB

Kelahiran beliau dengan nama Muhammad Sirajuddin Syamsuddin dan popular Din Syamsuddin. Panggilan Din merupakan singkatan dari sebuah nama awal sesuai dengan budaya (kebiasaan) panggilan orang Sumbawa pada umumnya.

Din Symasuddin menempuh pendidikan di perguruan Nahdatul Ulama mulai dari Madrasah Ibtidaiyah dan Tsanawiyah NU di daerah kelahirannya. Beliau menyelsaikan Madrasah Ibtidaiyah ada tahun 1968 dan Madrasah Tsanawiyah tahun 1972.

Setelah itu beliau melanjutkan pendidikan di Pesantren Gontor Ponorogo hingga selesai tahun 1975. Seusai nyantri beliaupun lanjutkan kuliah di Fakultas Ushuluddin IAIN (sekarang UIN Syarif Hidayatullah) Jakarta di Ciputat dengan meraih gelar BA pada kurun waktu tahun 1979 dan menyelsaikan samapai ke jenjang program sarjana pada 1982.

Coin For Lombok

Kemudian pada tahun 1986 beliau mendapatkan beasiswa melanjutkan pasca sarjana di University of California Los Angeles (UCLA) dengan meraih gelar Master of Art (MA) pada tahun 1988 dan sekalian program doctoral Ph.D tahun 1991.

Perjalanan Din Syamsuddin untuk berkeluarga, memilih menikah dengan Fira Beranata (almarhum), putri dari keluarga pengusaha yang berasal dari Maninjau Sumatra Barat. Dalam pernikahannya dan merajut bahtera rumah tangga, beliau dikaruniai 3 orang anak laki-laki.

Memang kesuksesan Din Syamsuddin tidak hanya dilihat dari keluarganya. Tetapi dilihat juga dari proses penempaan diri seorang Din Syamsuddin yang dikenal cukup luas oleh kawan-kawannya sebagai orang yang hobi berorganisasi dan terlihat kepekaan terhadap lingkungan social masyarakat sangat tinggi.

Kita tahu, bahwa Din Syamsuddin selama masih di tanah kelahirannya, beliau sangat aktif berorganisasi dan menjadi aktivis. Sewaktu pelajar disekolahnya Din Syamsuddin menjadi ketua IPNU (Ikatan Pelajar Nahdatul Ulama) Cabang Sumbawa dan dalam usia yang masih sangat muda aktif bertablig (berdakwah) sehingga untuk ukuran tanah kelahirannya waktu itu, din Syamsuddin dikenal sebagai mubalig cilik yang hobi ceramah di masjid-masjid kampung.

Tidak hanya itu semasa di Pondok Pesantren Gontor beliau sangat aktif belajar berorganisasi dan terlibat langsung dalam organisasi Pelajar Pesantren Modern Gontor. Waktu itu, Din Syamsuddin sering mengadakan kegiatan social di pesantren, terutama kegiatan penerangan dan informasi yang hanya bertugas melakukan dakwah (penerangan).

Tidak hanya di Pesantren Gontor, semasa kuliah Din Syamsuddin tidak kapok berorganisasi. Di saat perguruan tinggi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, beliau aktif di IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah) Cabang Ciputat (1978-1980) dan meraih jabatan ketua IMM ciputat. Karir beliau tidak sampai diisitu saja, pada tahun 1984-1985 beliau terpilih juga menjadi Ketua Umum DPP Sementara IMM yang diamanati oleh PP Muhammadiyah untuk melakukan konsolidasi organisasi dan menyelenggarakan Muktamar IMM karena lebih dari 7 tahun IMM mengalami kevakuman, stagnasi, dan tidak bermuktamar.

Prestasi Din Syamsuddin dalam berorganisasi begitu melejit dan patut diapresiasi sebagai conntoh bagi kaum muda, terutama generasi Sumbawa atau pulau bagian Timur.

Fakta menunjukkan tidak hanya sederet jabatan oragnisasi tetapi kerja-kerja intelektual yang menjadi basis pemikiran Din Syamsuddin merupakan sebuah landasan sosiologis untuk bekerja dan mewakafkan dirinya dalam masyarakat luas.

Beliau tidak asing lagi di khalayak publik, apalagi Angkatan Muda Muhammadiyah yang selama ini menjadi pioner dan motor penggerak kaum muda progressif. Dalam berbagai kesempatan Din Syamsuddin menyempatkan diri menyapa pemuda melalui forum diskusi kritis. Apalagi pria kelahiran Sumbawa ini dikenal sangat fokal dan kritis terhadap berbagai hal yang bersifat kemungkaran.

Dengan gaya dan karakter itulah, beliau terpilih sebagai Ketua Umum Pemuda Muhammadiah pada Muktamar IX di Palembang periode tahun 1989-1993 yang menggantikan M. Habib Chirzin. Atas keterpilihannya sebagai pemimpin Pemuda Muhammadiyah, Din Syamsuddin menorehkan tinta keberhasilan seluruh tingkatan Pemuda Muhammadiyah. Model kepemimpinan beliau sangat di apresiasi berkat keterbukaan dan kerja kerasnya.

Kini pria Sumbawa itu, ibarat selebritis di kancah nasional yang selalu di dengarkan nasehat dan perkataannya di manapun. Hal demikian tentu merupakan prestasi unggul yang selama ini dimiliki Muhammadiyah khususnya pulau Sumbawa yang tentunya sangat membanggakan. Karena faktor hobi berorganisasi dan sering tampil dalam kapasitas kepemimpinan, Din Syamsuddin banyak mendapat pujian, ibarat seorang artis yang baru masuk bursa kartisan.

Bahkan di internal Muhammadiyah pada saat Muktamar Muhammadiyah di Aceh tahun 1995 namanya beliau sudah mulai banyak dibicarakan. Pria kelahitran Sumbawa ini memiliki banyak kesempatan dan kiprahnya, tentu dengan trust dan value sebagai tokoh bangsa.

Pada kurun waktu tahun-tahun 2000-an Din Syamsuddin mulai ekspansi politik di dalam internal Muhammadiyah melalui bursa calon anggota Pimpinan Pusat Muhammadiyah tahun 2000 pada Muktamar Muhammadiyah ke-44 di Jakarta. Alhasil, Din Syamsuddin terpilih meraih suara terbanyak urutan kedua setelah Prof. Dr. Ahmad Syafi’i Ma’arif.

Posisi jabatan di PP Muhammadiyah sebagai wakil Ketua pada periode 2000 – 2005. Dengan bertambahnya usia dan beban jabatan organisasi, beliau sangat enjoy dan menjalankan amanat organisasi secara konsistensi, tanpa mengabaaikan hak dan kewajibannya sebagai elit aktivis Muhammadiyah ditingkat nasional.

Aktivitas organisasi Din Syamsuddin bukan hanya di Muhammadiyah, tetapi di luar Muhammadiyah pun menjadi sala satu hal yang penuh tantangan. Organisasi tersebut seperti, wakil ketua Majelis Pemuda Indonesia (MPI/KNPI) tahun 1990-1993dan ICMI Pusat mendapat posisi Anggota Dewan Penasihat (1990-1995), Wakil Sekretaris Dewan Penasihat (1995-2000) dan anggota Dewan Pakar (2000-2005).

Tingkat global Din banyak penghargaan sebagai tokoh perdamaian, yang dilihat dari persfektif multikultural dan pluralitas. Karena Din Syamsuddin tipiikalnya menganut pemikiran teologi tengahan dengan basis argumentasi social kemanusiaanya.

Sehingga Din Syamsuddin dengan kerja-kerja perdamaian serta menjaga pluralitas agama yang ada didunia maupun penyelsaian berbagai konflik antar Negara atas nama agama. Sehingga prestasi Din Syamsuddin atas kerja perdamaian tersebut, kemudian di hargai oleh forum Indonesian Committee on Religion and Peace untuk memimpinnnya (menjadi ketua) dan beliau juga menjadi seorang presiden Asian Conference on Religion and Peace pertama dari perwakilan Indonesia.

Tentu dengan sederet penghargaan dan jabatan tokoh perdamaian, Din Syamsuddin telah bekerja sepenuh hati untuk memelihara dan mengharumkan nama baik Indonesia di mancanegara. Ini adalah hal yang patut di hargai dan hormati bagi seluruh rakyat Indonesia dmanapun berada.

Karena Din Syamsuddin, bisa saja melebihi kapasitas presiden Republik Indonesia atas seluruh hasil kerja-kerja kemanusiaannya yang membuat Indonesia di hargai oleh berbagai Negara manapun, termasuk Amerika Serikat sangat berhati-hati apabila Din Syamsuddin menjadi lokomotif perubahan Indonesia maupun dunia.

Pengalaman internasional yang dimilikinya, yaitu sebagai peserta assembly V dan V dari World Conference on Religion and Peace (WCRP) masing-masing di Nairobi Kenya (1984) dan Melbourne Australia (1989), Riva Del Garba Italia (1994); peserta assembly III, IV, V dari Asian Conference on Religion and Peace (ICRP) masing-masing di Seoul Korea (1987), Nepal Kathmandu (1991) dan Ayuthaya Thailand (1994).

Din juga sering tampil di forum-forum internasional sebagai pembicara seperti dalam Cristian Dialogue (Manila, Philiphina 1994), forum International Seminar on Social Sciences in Southeast Asia CASA Amsterdam Belanda (1995). Din sudah mengunjungi lebih dari 20 negara di dunia dan beberapa negara sudah dikunjunginya berkali-kali.

Atas prinsp dakwah yang di anut oleh Din Syamsuddin dan menjadi aktivis Muhammadiyah sehingga sangat dipercaya oleh mua umat Islam termasuk tokoh-tokoh ulama dari berbagai ormas Islam maupun ulama-ulama dunia.

Atas kepercayaan yang diabngun itu, Din awalnya menjadi Sekretaris Jenderal MUI Pusat periode 2000 – 2005, pada periode 2005 – 2010 adalah wakil ketua MUI pusat dan sekarang sudah naik jabatan menjadi Ketua Umum MUI Pusat periode 2013 – 2015 melanjutkan kepemimpinan KH. Sahal Mahfudz (almarhum) periode 2010 – 2013 yang meninggal beberapa waktu lalu.

Di bidang politik pun, Din syamsuddin tidak ketinggalan kereta, sebagai kader tulen golkar beliau di percaya aktif dikepengurusan Golkar sejak tahun 1993-1998 di bawah kepemimpinan Harmoko, kemudian menjadi wakil Sekretaris Jendral pada periode Akbar Tandjung tahun 1998 – dan kemudian mengundurkan diri pada bulan Februari 1999.

Factor mengundurkan diri dari golkar karena aspirasi yang kian keras tekanannya dari para warga Muhammadiyah diberbagai struktur Muhammadiyah itu sendiri agar Din Syamsuddin kembali aktif di Muhammadiyah untuk mengisi kepemimpinan Muhammadiyah.

Pendapat Din Syamsuddin, tentu sebagai kader Muhammadiyah yang berasal dari ortom Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah bertanggungjawab atas perannya yang selama ini di harapkan.

Selain jabatan dipartai politik, beliau pernah menjadi anggota MPR RI periode 1997 – 1999 dan Wakil Ketua Fraksi Karya Pembangunan MPR RI pada tahun 1998. Pada saat itulah, beliau tampil sebagai tokoh reformasi bersama Amin Rais untuk serta mereta melakukan konsolidasi demokrasi berbagai ketimpangan yang dilakukan rezim Soeharto waktu itu.

Hal itu merpakan wujud keberpihakan Din Syamsuddin atas persoalan bangsa, dimana beliau harus ikut memberikan stimulasi pemikiran dan aktualisasi gerakan kebangsaan, agar bangsa Indonesia menjadi besar dan dihargai di mata dunia.

Sebagai anak bangsa yang peduli, tentu aktualisasi kebangsaan dicerminkan dar sikap yang saling mengikat antara satu dengan lainnya (mutualisme simbiosis), untuk mengejawantahkan sikap tersebut beliau memilih jalan aktif di birokrasi menjadi Direktur Jenderal Pembinaan Penempatan Tenaga Kerja (binapenta) Departemen Tenaga Kerja pada kurun waktu Mei 1998 – Juni 2000 masa kementrian Fahmi Idris.

Memang Din Syamsuddin dengan sederet prestasi, ternyata beliau beliau juga tidak pernah meninggalkan aktivitas intelektual dan kademisinya yang bertugas sebagai dosen di IAIN/UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sejak tahun 1982 sampai sekarang ini. Status akademisi inilah beliau dikenal sebagai intelektual progressif dan pemikirannya sangat solutif terhadap berbagai persoalan kebangsaan.

Demikian juga, tulisan-tulisan Din Syamsuddin kerap mewarnai media massa nasiona, sehingga banyak kampus atau universitas yang meminta beliau untuk mengajar di program Pascasarjana, seperti di Universitas Indonesia, IAIN Syarif Kasim Pekanbaru dan Universitas Muhammadiyah Jakarta.

Di Universitas Muhammadiyah Jakarta, beliau bersama koleganya merintis mendirikan program Pascasarjana Studi Islam yang kemudian menjabat sebagai Ketua Program sejak tahun 1995 -2000.

Dalam konteks pemikiran Islam dan politik, Din Syamsuddin dikukuhkan sebagai Guru Besar Tetap dalam bidang Pemikiran Politik Islam IAIN Syahid Jakarta pada bulan Februari 2001. Tidak sedikit karya tulisnya yang telah diselesaikan, tetapi baru beberapa buah yang sudah diterbitkan, antara lain Islam dan Politik Islam and Politics in Indonesia: The Case of Muhammadiyah in Indonesia’s New Order (2000), Usaha Pencarian Konsep Negara dalam Sejarah Pemikiran Politik Islam yang diterbitkan pada tahun 1999.

Berdasarkan uraian disekitar kehidupan Din Syamsuddin, baik dalam perjalanan studi maupun dalam perjalanan kariernya, maka terlihatlah kalau Din Syamsuddin sejak kecil sudah berkecimpung dalam berdakwah (mubaligh kecil) dan merupakan seorang yang arif bijaksana baik dari segi keilmuan ke-Islamannya dan pemikiran politik.

Kenyataannya pria Sumbawa ini, tidak rendah kualitasnya sebagai kader Muhammadiyah. Pemikiran Din sangat memberikan banyak solusi. Tentu sebagai intelektual berbobot memiliki kelebihan dalam cara pendekatannya baik dengan umat sebagai objek dakwah maupun dengan birokrasi pemerintahan. Hal ini dilakukan beliau untuk menjamin kelancaran dalam berdakwah.

Comments

comments