Warga Pagutan Batukliang Keluhkan RTG, Pokmas Diduga Mark up Harga Material

0
Warga desa Pagutan, Batukliang Lombok Tengah mengeluhkan rumah tahan gempa (RTG) yang dibangun oleh Pokmas. Pasalnya, diduga adanya markup harga material bangunan yang dilakukan UD tempat pengambilan material
Foto : Warga desa Pagutan, Batukliang Lombok Tengah mengeluhkan rumah tahan gempa (RTG) yang dibangun oleh Pokmas. Pasalnya, diduga adanya markup harga material bangunan yang dilakukan UD tempat pengambilan material (MetroNTB/Ist)

Lombok Tengah, MetroNTB.com – Warga desa Pagutan, Batukliang Lombok Tengah mengeluhkan rumah tahan gempa (RTG) yang dibangun oleh Pokmas. Pasalnya, diduga adanya mark up harga material bangunan yang dilakukan UD tempat pengambilan material.

Bendahara Pokmas Pagutan II Sahril mengungkapkan sekitar 21 warga yang mendapatkan RTG dengan kondisi rusak sedang dengan anggaran Rp 25 juta satu rumah.

“Kami menduga ada markup harga yang dilakukan oleh oknum UD tempat pengambilan bahan material. Misalnya spandek permeter harganya sekitar Rp 37.000 akan tetapi di hargakan Rp. 45.000,” ungkapnya kepada MetroNTB.com

Sahril juga mengungkapkan barang material yang dipesan oleh masyarakat berbeda dengan yang diterima masyarakat.


“Kami memesan spandek jenis 030 akan tetapi yang kami terima spandek jenis 025. Spandek jenis 025 yang kami terima dihargakan sama dengan spandek jenis 030,” tuturnya

Ia menyebutkan, tidak hanya spandek saja akan tetapi bahan material lainnya juga harganya ikut meroket.

“Kayu lokal yang harga aslinya sekitar Rp 3 juta  perkibik, akan tetapi di UD ini memberikan harga sampai dengan Rp 6 juta perkibik. Batu bata juga yang harganya sekitar Rp 450.000 tapi di jual dengan harga Rp. 900.000 seribu batang,” kata Sahril

Ia menegaskan, sampai saat ini pihaknya belum diajak untuk bermusyawarah oleh ketua Pokmas Pagutan II terkait dengan UD mana yang menjadi tempat pengambilan material dan menentukan kesepakatan harga.

“Kami belum pernah di ajak rapat oleh ketua Pokmas terkait dengan kesepakatan harga dan UD mana tempat pengambilan material. Kami pernah meminta untuk lalukan rapat tapi ketua Pokmas sudah mengesahkan atas petunjuk Kepala Desa untuk mengambil barang di UD ini,” tegas Sahril

Sementara, Warga Pagutan Ayik mengatakan pihaknya merasa ada yang janggal karena kualitas barang tidak sesuai dengan harga.

“Kami bahkan sempat mendapat ancaman dari ketua Pokmas bahwa akan dicoret dari daptar penerima RTG karena memprotes persoalan ini,” cetusnya

Dengan persoalan markup harga ini, maka kecil kemungkinan rumah warga bisa selesai dikerjakan

“Tidak mungkin rumah kami bisa selesai dikerjakan karena barang yang kami dapatkan sedikit dengan harga yang mahal. Intinya semua bahan RTG mengalami kenaikan harga,” jelas Ayik

Pihaknya juga menduga ada kongkalikong antara Kepala Desa, Pokmas dan UD terkait persoalan yang terjadi saat ini

“Kami menduga ada kongkalikong antara Kepala Desa bersama Pokmas dan UD karena kami tidak pernah di ajak rapat untuk menentukan UD dan penentuan harga,” tudingnya

Tidak hanya harga kayu dan spandek saja yang mengalami kenaikan harga, lanjut Ayik akan tetapi barang material lainnya juga mengalami kenaikan harga.

“Tidak hanya kayu dan spandek saja akan tetapi cat merk Aries 5 Kg yang harga ecerannya sekitar Rp 75.000 menjadi Rp 140.000 per kalengnya. Warga pernah meminta untuk menurunkan harga tapi tidak mau,” tandasnya

Ketua Pokmas Pagutan II yang dikonfirmasi Wartawan melalui via telpon hingga berita ini diterbitkan belum bisa menjawab panggilan dan belum bisa memberikan tanggapan (Zan/De)

Comments

comments