Berperan Tangkal Hoaks, Jurnalis  Diingatkan Jaga Integritas

0
Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik Provinsi NTB, I Gede Putu Aryadi mengingatkan seorang jurnalis televisi diharapkan dapat terus menjaga integritas dan profesionalisme serta lebih hati-hati dan teliti dalam memproduksi informasi.
Foto : Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik Provinsi NTB, I Gede Putu Aryadi mengingatkan seorang jurnalis televisi diharapkan dapat terus menjaga integritas dan profesionalisme serta lebih hati-hati dan teliti dalam memproduksi informasi (MetroNTB/Dis)

Mataram, MetroNTB.com – Jurnalis berperan penting dalam menangkal informasi hoaks ditengah masyarakat. Pasalnya, informasi yang dipublikasikan melalui berbagai media, termasuk televisi, bisa sangat mempengaruhi pandangan masyarakat dalam menyimpulkan sebuah informasi.

Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik Provinsi NTB, I Gede Putu Aryadi mengingatkan seorang jurnalis televisi diharapkan dapat terus menjaga integritas dan profesionalisme serta lebih hati-hati dan teliti dalam memproduksi informasi.

“Informasinya harus benar dan sesuai fakta dan kondisi di lapangan,” kata Gede dalam program Bincang iNews yang berlangsung secara virtual, di ruang kerjanya, Kamis 19 November 2020.

Acara tersebut juga menghadirkan berbagai narasumber antara lain yakni Ketua IJTI Ridha Patiroi, Kepala LPP TVRI NTB Gede Mustito dan Ketua KPID NTB Yusron Saudi.

“Sangat diperlukan seorang jurnalis televisi atau pun media yang lain memegang kode etik, menjaga integritas dan profesionalitasnya. Lakukan konfirmasi sebelum suatu informasi berita ditayangkan agar informasi yang disampaikan adalah informasi yang produktif,” tuturnya

Ia menjelaskan bahwa informasi hoaks dibagi menjadi dua bagian, yaitu Informasi yang bentuknya disinformasi dan misinformasi. Disinformasi adalah suatu informasi yang diproduksi sebagai rekayasa atau sesuatu yang dibuat oleh oknum, seolah-olah peristiwa tersebut terjadi. Sementara itu misinformasi merupakan sebuah peristiwa yang didapatkan dari sumber-sumber yang tidak benar.

“Perbedaan keduanya yaitu disinformasi betul-betul rekayasa. Tetapi jika berbicara misinformasi boleh jadi peristiwa yang disampaikan itu ada, tetapi disampaikan dengan cara tidak benar sehingga merubah makna,” terang Gede.

Selain itu, ia mengharapkan agar para jurnalis memiliki rasa nasionalisme dan cinta kepada daerah dan bangsa sebagai modal dasar untuk menjaga bahwa informasi yang disampaikan dapat membangun semangat, membangun ekonomi dan budaya bangsa menjadi lebih kokoh dan kuat.

“Kami berharap peran media atau jurnalis televisi menjadi garda terdepan dalam mewujudkan NTB Gemilang,” serunya

Pada kegiatan tersebut, Yusril sebagai Wakil Ketua IJTI NTB mengungkapkan bahwa hoaks memberikan dua efek yakni efek pribadi dan profit. Efek pribadi dan profit berarti memberikan keuntungan tersendiri bagi penyebar hoaks tersebut.

Dijelaskan Yusril, hal tersebut sangat tidak baik karena akan membuat keresahan masyarakat, sementara pribadi diuntungkan untuk itu.

“Ketika ada media yang membuat berita hoaks yang kontrofersional untuk menarik perhatian publik dan menjadi sorotan maka akan muncul akses ekonomi sehingga profit internet dapat diakses,” jelasnya.

Sementara itu, I Gede Mustito, selaku Kepala LPP TVRI NTB  menjelaskan, TVRI NTB sebagai lembaga penyiaran publik milik negara akan memberikan yang terbaik untuk dapat mempublikasi informasi ke masyarakat.

Diantaranya dengan melakukan berbagai kerjasama dan bersinergi dengan berbagai intansi seperti BMKG, Badan SAR, BPBD, Pemadam Kebakaran, Dinas Komunikasi dan Informatika dan PMI.

“Kami harap masyarakat Ketika mencari informasi bisa menjadikan TVRI sebagai acuan. Karena TVRI merupakan chanel resmi milik pemerintah yang beritanya sudah terbukti kebenarannya,” katanya menambahkan (*)

Comments

comments