Dewantoro : ASITA 71 Tidak Ada, Anggotanya Tidak Jelas

0
Foto : Ketua ASITA NTB terpilih periode 2020-2025 Dewantoro Umbu Joka (MetroNTB/Man)

Mataram, MetroNTB.com – Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia atau Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) Nusa Tenggara Barat (NTB) memastikan ASITA 71 tidak ada.

“Yang ada hanya ASITA. Yang menamakan diri ASITA 71 tidak jelas anggotanya,” tegas Ketua ASITA NTB terpilih periode 2020-2025 Dewantoro Umbu Joka saat diwawancara, Selasa 10 November 2020.

Ia menjelaskan bahwa akta tanggal 28 Desember 2016 nomor 30 tersebut adalah satu kesatuan dan bagian yang tidak terpisahkan dari akta tertanggal 15 Maret 1975 nomor 170 yang dibuat dihadapan Raden Suratman Notaris di Jakarta.

“Pembuatan akta notaris tahun 2016 sebagai satu kesatuan dari 1975
Logo Asita itu milik kita dibawah Dr Nunung Rusmiasmti Ketumnya. Dan terdaftar terdaftar di HAKI. kalau ada menggunakan pasti kita laporkan,” terang Dewantoro

Ia juga menyinggung pelaksanaan konferensi pers di kantor Dispar NTB. Selain itu, Ketua GIPI juga turut hadir.

“Mungkin informasi ke mereka itu kurang atau salah informasi juga. Pak Kadis juga salah informasi, sehingga di terima. Nah itu, sehingga terjadi konferensi pers di situ (Kantor Dispar) menurut saya sebenarnya tidak layak. Sangat tidak layak,” kata Dewantoro

Padahal selama ini ASITA, lanjutnya sudah bersinergi lama dengan dengan pemerintah dalam hal ini Dispar. Seharusnya Dispar mengkonfirmasi soal ini.

“Ini yang saya sayangkan Dispar. Kantor Dispar tidak layak tempat konferensi Pers ASITA yang tidak jelas, ASITA hanya mengaku,” tandasnya

Seharusnya, Dinas dan GIPI mengayomi apalagi di GIPI itu tugasnya GIPI itu mengayomi asosiasi  mendamaikan atau apa lah namanya. Tetapi yang jelas Dr Nunung Rusmiati terpilih sah tahun lalu di dukung oleh 34 Prov. Sebelum DKI dan Bali dibekukan.

“Yang nama organisasi itu bukan pintar-pintar an tapi banyak pendukung. Terus mau apa lagi? Anggota kita yang aktif 113 dari 140 an,” kata Dewantoro menambahkan (*)

Comments

comments