Dosen Unizar Mataram Raih Penghargaan Alumni Grant Scheme dari Australia Awards Indonesia

0
Dosen di Universitas Al-Azhar Mataram, Toni Ariwijaya raih penghargaan Alumni Grant Scheme dari Australia Awards Indonesia.
Foto : Dosen di Universitas Al-Azhar Mataram, Toni Ariwijaya raih penghargaan Alumni Grant Scheme dari Australia Awards Indonesia (MetroNTB/Ist)

Mataram, MetroNTB.com Salah seorang Dosen di Universitas Al-Azhar Mataram, Toni Ariwijaya raih penghargaan Alumni Grant Scheme dari Australia Awards Indonesia.

Alumni Grant Scheme ini merupakan penghargaan tahunan yang diberikan oleh pemerintah Australia kepada para alumni mahasiswa Australia di seluruh Indonesia.

Tahun 2020 ini, terdapat 24 alumni peraih penghargaan yang selanjutnya diberikan sejumlah dana kegiatan penelitian dan pengembangan masyarakat, di dalamnya masuk nama Toni Ariwijaya.

Toni Ariwijaya, yang telah menyelesaikan Master of Education dan Master of Educational Leadership, di University of New South Wales, Sydney, Australia melalui beasiswa Australia Awards Scholarship atau beasiswa pemerintah Australia, menjadi kebanggaan pihak Kampus Unizar.

Dosen Bahasa Inggris yang memegang jabatan Kepala Learning Center (ULC) Unizar Mataram ini menuturkan, penghargaan itu bisa disabetnya karena telah mampu membuat project berjudul “Memories of a Papuq” yaitu project menyelidiki narasi lokal tentang pengurangan resiko bencana gempa bumi di Daerah Pesisir Selatan Pulau Lombok.

BACA :

https://www.australiaawardsindonesia.org/project/detail/167/15/memories-of-a-papuq-project-researching-local-narratives-on-indigenous-disaster-risk-reduction-in-the-southern-coastal-areas-of-lombok-island

“Program ini merupakan satu dari 24 program yang didanai dengan menyisihkan lebih dari 250 peserta yang berasal dari kalangan alumni Australia lainnya,” ungkap Toni, Sabtu 12 September 2020.

Yang jelas lanjutnya, project itu kegiatan penelitian tentang cerita rakyat di bagian pantai selatan Lombok Tengah yang telah punah. “Cerita yang diangkat yakni berisi tentang pembelajaran tanggap bencana yang pernah nenek moyang kita miliki,” kata dia.

Selanjutnya, cerita yang berhasil terkumpul dari penelitian, digabungkan bentuk sebuah komik yang akan dipergunakan sebagai bahan ajar tanggap bencana di Sekolah Dasar di Lombok Tengah.

Dia menuturkan, project ini terinspirasi dari beberapa anak di pesisir pantai Desa Batu Nampar Lombok Timur dan Teluk Awang Lombok Tengah yang ketika gempa dahulu tidak panic dikarenakan ternyata nenek mereka rajin bercerita tentang ke tanggapan bencana termasuk gempa bumi.

Itu semua, diharapkan kelak, dengan adanya project semacam ini maka orang tidak hanya akan bergantung dari ilmu pengetahuan modern saja. Namun dari program ini mengajarkan masyarakat untuk mengangkat kembali nilai-nilai luhur pengetahuan nenek moyang jaman dahulu.

Toni menambahkan, project rasional yakni kebijakan pengurangan risiko bencana di negara berkembang telah dilakukan dengan menggunakan pengetahuan ilmiah saat
mengabaikan nilai-nilai kearifan lokal di lapangan (Gaillard & Mercer, 2012; Rist & Guebas, 2016).

Asli pengetahuan biasanya kurang dihargai karena dipandang beberapa kalangan lebih rendah dari pengetahuan ilmiah. Namun, itu telah dipanggil dari generasi ke generasi untuk dimitigasi bahaya dan mengurangi bencana di komunitas lokal (UNISDR, 2005).

Melihat kembali gempa Lombok tahun 2018, anekdot, banyak anak sekolah di sekitar selatan wilayah pesisir pulau Lombok sudah dipersiapkan dengan baik dan tidak panik saat gempa melanda.

“Garis dasar kami wawancara dilakukan di dua desa di Lombok Selatan menyampaikan bahwa telah ada narasi lokal yang disampaikan umumnya, perempuan tua atau Nenek (“papuq” dalam bahasa lokal) dari daerah pantai, mengatakan bahwa ketika Bumi mengguncang semua anak yang harus dilakukan adalah mengemas beberapa makanan dan perlengkapan bertahan hidup tersebut sebagai obor dan selimut di tas sekolah mereka yang kemudian
dilanjutkan dengan berjalan kaki menuju perbukitan terdekat,” tuturnya.

Narasi itu disampaikan dalam berbagai cerita atau bahkan lagu pengantar tidur untuk berbagai masalah seperti banjir, masalah air bersih, penangkapan ikan berkelanjutan dan lain-lain.

“Mestinya fisik penghargaan itu mestinya saya terima bulan Agustus kemarin. Proposal seleksi diajukan akhir Januari 2020. Tapi karena pandemi Covid-19, pengumuman pemenang di tunda,” cetusnya.

Terkait hal itu, Rektor Universitas Al-Azhar Mataram, Dr Ir Muh Ansyar menyampaikan, prestasi yang diperoleh salah satu Dosen Kampus Unizar Mataram ini patut di syukuri.

“Alhamdulillah, dengan banyaknya dosen berprestasi, maka akan menjadikan Unizar Mataram lebih baik kedepan,” pungkasnya.(*)

Comments

comments