Pandemi COVID-19, Hidup di Bawah Bayang-Bayang Gejolak Stabilitas dan Relasi Masyarakat

0
Lalu Azmil Azizul Muttaqin, Santri Pondok Pesantren NU Almanshuriyah Ta'limushibyan Bonder, Alumnus Madrasah bertaraf internasional (MBI) Amanatul Ummah, Mojokerto, dan sekarang menjadi Mahasiswa di Universitas Al azhar Kairo, Mesir.
Foto : Lalu Azmil Azizul Muttaqin, Santri Pondok Pesantren NU Almanshuriyah Ta'limushibyan Bonder, Alumnus Madrasah bertaraf internasional (MBI) Amanatul Ummah, Mojokerto, dan sekarang menjadi Mahasiswa di Universitas Al azhar Kairo, Mesir (MetroNTB/Ist)

Penulis : Lalu Azmil Azizul Muttaqin, Santri Pondok Pesantren NU Almanshuriyah Ta’limushibyan Bonder, Alumnus Madrasah bertaraf internasional (MBI) Amanatul Ummah, Mojokerto, dan sekarang menjadi Mahasiswa di Universitas Al azhar Kairo, Mesir.

Opini, MetroNTB.com – Akhir Desember 2019 salah satu kota di Cina yakni Kota Wuhan digemparkan dengan sebuah kabar bahwa tujuh pasien dari pasar makanan laut lokal disana telah didiagnosis menderita penyakit mirip SARS dan dikarantina di sebuah rumah sakit di Kota Wuhan. Setelah diteliti, penyakit itu adalah virus korona, yang ternyata satu keluarga dengan virus sindrom pernapasan akut (SARS).

Penyakit Corona virus atau yang dikenal Covid-19 adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus jenis baru yang belum pernah teridentifikasi pada manusia. Virus ini menyebabkan penyakit saluran pernapasan (seperti flu) dengan gejala seperti batuk, demam, dan pada kasus yang lebih serius, pneumonia dengan akibat yang paling besar adalah mematikan.

Satu hal yang perlu digarisbawahi dari penyakit ini yakni penyebarannya yang sangat cepat sehingga pada 11 Maret 2020, WHO menetapkan virus ini sebagai pandemi global. Ini sesuai yang diungkapkan oleh Angela Rasmussen dari Columbia University mengatakan, ”Struktur virus korona memberikan petunjuk bagaimana virus itu menyebar begitu cepat.” Benar, dalam kurun waktu enam bulan sampai 20 mei 2020 WHO telah merilis data terbaru, bahwa virus korona telah menyebar ke 215 negara di dunia, dengan korban yang telah terkonfirmasi sebanyak 4.815.707 jiwa dan korban yang meninggal sebanyak 316.860 jiwa, termasuk Indonesia dengan jumlah korban yang terkonfirmasi sebanyak 18.010 jiwa dan korban yang meninggal sebanyak 1.191 jiwa.

Berdasarkan data terbaru di atas, virus korona ini tergolong sadis karena disamping jumlahnya juga dapat mematikan atau dapat menyebabkan luka permanen pada paru-paru pasien yang sudah terinfeksi dan sembuh. Secara umum bila ada yang mengalami demam, flu, batuk, dan sesak napas dalam waktu tertentu ini adalah suatu gejala penyakit covid-19, maka harus ada kewaspadaan dan kerja sama yang baik dengan keluarga atau rekan kerja selama beraktivitas di dalam rumah, di ruang kerja, dan di dalam lingkungan masyarakat.

Dilatar belakangi dari percepatan penyebaran covid-19 dan apa yang kita lihat terjadi dilapangan selama masa pandemi ini, maka situasi ini mendorong para kepala negara untuk cepat tanggap peduli atas kesematan rakyatnya. Hal ini dapat kita lihat dari berbagai pengumuman untuk meliburkan sekolah, meniadakan kuliah tatap muka(offline) yang diganti dengan online, larangan terlibat dalam keramaian, termasuk larangan ke luar negeri, baik untuk umrah, rekreasi bahkan ada isu haji pun akan dilarang.

Termasuk peraturan di negara di luar negeri yakni lockdown sangat menjadi trending topik. Namun, di indonesia peraturan lockdown tidak diberlakukan dan diganti dengan peraturan pembatasan sosial berskala besar(PSBB). Lockdown sendiri artinya membatasi satu wilayah atau daerah dan itu memiliki implikasi ekonomi, social, dan keamanan. Maka dari itu kebijakan untuk menerapkan kegiatan lockdown di indonesia belum bisa diterapkan saat ini. Namun sebagian sekolah, tempat pariwisata, dan pabrik telah di tutup untuk sementara.

Peraturan atau kebijakan yang telah ditetapkan oleh pemerintah tentu sangat berpengaruh terhadap segala sektor, termasuk ekonomi dan kehidupan sosial dalam masyarakat. Karena ekonomi merupakan bagian yang sangat vital dalam kehidupan masyarakat, maka tentu ini sangat berpengaruh pada stabilitas damainya kehidupan masyarakat. Di Indonesia virus korona telah menyebabkan lebih dari 1,5 juta karyawan putus kerja atau pemutusan hubungan kerja (PHK) dan dirumahkan.

Di mana 1,2 juta pekerja itu berasal dari sektor formal, 265.000 dari sektor informal, sekitar Rp207 miliar negara kita kehilangan pendapatan di sektor pelayanan udara,  impor Indonesia sepanjang Januari-Maret 2020 turun 3,7%, serta inflasi pada bulan Maret 2020 di Indonesia  tercatat sebesar 2,96%  yang disumbang oleh kenaikan harga emas perhiasan serta beberapa harga pangan yang melonjak.

Pengangguran yang bertambah banyak dan situasi lingkungan yang sepi, dimanfaatkan oleh para pelaku kriminal untuk beraksi. Realita ekonomi dan situasi PSBB seperti saat ini, memungkinkan semua masyarakat untuk berbuat kriminal. Sehingga kedamaian masyarakat berada di bawah bayang-bayang kebingungan untuk memenuhi tuntutan dan kebutuhan hidup sehari-hari.

Karopenmas Mabes Polri, Brigjen Pol Argo Yuwono menyatakan peningkatan kriminalitas sampai bulan april lalu sebesar 11,8% persen dari masa sebelum pandemi. Selain itu, dampak yang paling vital yang sangat mempengaruhi kehidupan sosial  masyarakat adalah hilangnya relasi yang sudah terbangun erat. Rasa kekerabatan lambat laun akan tergerus oleh keadaan.

Masyarakat sangat sensitif terhadap pendatang, akhirnya timbul rasa curiga dan hilangnya kepercayaan terhadap orang-orang yang ada di seputaran kita, apalagi orang orang asing yang baru saja kita kenal. Sebagai contoh pada saat kita membeli makanan yang itu sendiri adalah kebutuhan kita, maka secara otomatis akan muncul rasa was-was terhadap lingkungan atau si penjual yang menjual makanan tersebut.

Sebuah survei yang dilakukan oleh Snapcart untuk menilik seberapa besar dampak yang dibawa oleh virus corona terhadap gaya hidup orang Indonesia. Dilakukan pada 17-28 Maret 2020, survei yang melibatkan 2000 laki-laki dan perempan berumur 15-50 tahun di 8 kota besar di Indonesia (Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Medan, Palembang, Makassar, dan Manado). Dari survei yang dilakukan, sebanyak 48 persen responden mengaku bahwa kehidupan sosialnya sangat terganggu akibat virus corona covid-19.

Masyarakat Indonesia yang terbiasa dengan hidup gotong royong dan kentalnya interaksi dan relasi sosial berusaha mencari jalan keluar untuk tetap melakukan sosialisasi meski ada kebijakan physical distancing.

Rasa ketimuran yang selalu mengedepankan akhlak dan sopan santun ketika berhadapan dengan sesama, seketika berubah menjadi sifat egoisme yang ditimbulkan dari terlalu banyak berintraksi dengan alat elektronik. Masyarakat telah susah sekali dipisahkan dari smartphone mereka. Bagaimana tidak, virus korona ini menuntut aktivitas di dunia nyata beralih ke dunia maya.

Dari belajar online, memesan makanan online, game, meeting online, semua serba online. Akhirnya ini mengakibatkan masyarakat merasa tidak butuh terhadap sesama, dan hanya tergantung pada smartphone. Padahal sebenarnya esensi dari bermasyarakat adalah intraksi sosial.

Tidak hanya hubungan antar masyarakat saja yang terkena dampak virus korona ini, namun bahkan semua lini kehidupan pun terkena dampaknya. Ketika pembatasan sosial berskala besar (PSBB) semakin ketat diberlakukan, dari lini kesehatan pun, para ahli kesehatan mental memperingatkan bahwa kehilangan koneksi dan relasi ini bisa mendatangkan risiko psikologis yang tinggi.

Oleh karena itu, gejolak rusaknya stabilitas kerukunan masyarakat, kenyamanan berkeluarga, hubungan kelompok satu dengan kelompok lain yang terganggu tidak dapat dipungkiri bahwa penyebabnya adalah penyebaran covid 19 ini. Namun, yang perlu digaris bawahi dan perlu ditanamkan dalam benak masyarakat adalah ditengah covid 19 ini berikut berbagai dampaknya ada upaya yang dilakukan pemerintah yang semata-mata tujuannya untuk keamanan dan keselamatan rakyatnya. (*)

 

Comments

comments