Si Mawar Emas dan Dr Zul

0
Ketua LTN-NU NTB Suaeb Qury
Foto : Ketua LTN-NU NTB Suaeb Qury (MetroNTB/Man)

Ketua LTN NU NTB Suaeb Qury

Opini, MetroNTB.com – Gagagasn besar, belum tentu bisa diaplikasikan oleh setiap orang, pemimpin atau bawahannya. Gagasan “Mawar Emas”, melawan rentenir berbasis masjid adalah salah satu cara yang tidak biasa dilakukan oleh penguasa,  menggunakan masjid dan dari masjid untuk membantu orang miskin yang kesusahan dan membutuhkan bantuan simpan pinjam dan usaha.

Jika saja dari dulu masjid dijadikan sebagai ladang amal dalam membantu dan memudahkan masyarakat bermuamalah dan mudhorabah, maka paling tidak bisa mengurangi kesenjangan dan ketergantungan masyarajat miskin akan soal pinjam meminjam.

Memang harus diakui bahwa peristiwa pinjam meminjam atau rentenir bank subuh dan bank rontok sudah berjalan berpulahan tahun di Indonesia dan begitu juga di NTB. Dan hampir di seluruh desa dan pasar yang ada di NTB adalah transaksi bank subuh yang sudah beranak pinak dan susah dipisahkan dari lingkaran pasar tradisional.

Bisa dibayangkan, jika saja disetiap desa ada dua (2) sampai tiga orang yang berprofesi dan berusaha sebagai bank subuh atau rentenir, bila saja ada dua (2) orang saja sebagai rentenir  dari 1131 desa di NTB, maka tidak kebanyang dari mereka ini berasosiasi dan memiliki nasabah di masing-masing desa.

Dari banyak fenomena kehidupan sosial yang dialami oleh masyarakat desa yang dililit hutang akibat meminjam dari bank subuh dan rentenir dengan bunga yang berlipat ganda, maka tidak heran, korbannya adalah dengan menjadi tenaga kerja Indonesia di Malasya. Itu dilakukan untuk bisa membayar hutang dari akumulasi bunga yang dipinjam. Apa iya? si Mawar Emas ini bisa menjadi solusi bagi masyarakat di desa,  bukankah sudah banyak bantuan dari pemerintah yang bernama BLT dan Bumdes yang orentasinya sama yakni simpan pinjam.

Paling tidak awal yang baik,  apa yang digagas oleh Gubernur NTB yang bermula dari safari subuh berjamaah selama ini yang dilakukan oleh Dr Zulkieflimansyah dari masjid ke masjid, mendengar dan melihat kenyataan hidup masyarakat di desa. Pilihan progran yang bernama Mawar Emas, tentu didasari dari apa yang dialami masyarakat yang membutuhkan dana cepat tanpa banyak syarat dan proses berbelit-belit.

Dan sering kali masyarakat meminjam uang kepada dari rentenir, karena cepat. Namun, dengan segala konsekuensi, masyarakat terjebak dalam kesulitan melunasi dikarenakan bunga yang tinggi. Kehadiran pemetintah daerah sebagai solusi demi melindungi masyarakat NTB dari jerat Rentenir. Dan sebagai pelindung dan penjaminnya Otoritas Jasa Keuangan (OJK) NTB adalah lembaga yang menginisiasi program “Melawan Rentenir Berbasis Masjid (Mawar Emas). Begitu juga dengan dimanfaatkannya masjid sebagai pusat layanan bagi masyarakat bawah dan menengah untuk mendapatkan kemudahan pinjaman.

Semoga saja, program si mawar emas yang dijadikan pilot Projek di beberapa masjid di NTB tersebut bisa terwujud. Dan pada hari Selasa 23 Gubernur NTB, Dr H Zulkieflimansyah  didampingi Sekretaris Daerah Provinsi NTB dan Asisten I, II dan III Setda NTB serta sejumlah Kepala OPD lingkup Pemprov NTB menggelar pertemuan dengan OJK, Bank NTB Syariah, Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) dan Permodalan Nasional Madani (PNM) terkait program Mawar Emas tersebut yang berlangsung di Ruang Rapat Utama Kantor Gubernur NTB (baca MetroNTB.com)

Dan si Mawar Emas, bisa menjadi momentum kebangkitan ekonomi berbasis masjid. Dan masyarakat, bisa sadar akan risiko meminjam dengan rentenir ini. Dan meminjam stetmen sang Gubernur program ini Mawar Emas harus lebih praktis, lebih mudah mekanismenya bagi masyarakat dan dari masjid masyarakat makmur dari masyarakat juga bisa memakmurkan masjid. (*)

Comments

comments