Mendialogkan Ayat-Ayat Kebangkitan Nasional

0
129
Penulis : Sekretaris Lajnah Kaderisasi PBNW dan Tenaga pendidik Di SMA NW Pancor Dr Dr. Jamiluddin, M.Pd
Foto : Penulis : Sekretaris Lajnah Kaderisasi PBNW dan Tenaga pendidik Di SMA NW Pancor Dr Dr. Jamiluddin, M.Pd (MetroNTB/Ist)
Sebelum Post

 

(Trigger kesadaran kolektif dan sikap tajdid dalam melawan Covid-19 melalui pemahaman spirit 20 Mei dalam perspektif Islam)

Opini, MetroNTB.com – Perbincangan atau pun telaah tentang sejarah Kebangkitan Nasional bukan suatu yang baru kalau tidak boleh dibilang lawas. Karena itu sudah biasa dikonsumsi dan akibatnya nyaris tidak menarik. Bukan karena pesan-pesan rasa kebangsaannya, tetapi karena peta perbincangan tentang hal tersebut selalu berulang. Tidak ada sajian-sajian inovatif, apalagi keberanian untuk mengintegrasikan pesan-pesan momentum Kebangkitan Nasional tersebut dengan perspektif disiplin ilmu tertentu, khususnya dengan ilmu-ilmu keislaman.

Berikut ini kita akan mencoba mendialogkan peristiwa Kebangkitan Nasional 20 Mei 1908 dengan beberapa ayat dalam kitabullah. Tujuan perbincangan ini tidak neko-neko. Hanya untuk memperkaya hazanah ilmu pengetahuan dan menerbitkan selera anak-anak Indonesia untuk menenggelamkan diri dalam menghayati peristiwa sejarah bangsanya, sehingga memiliki keunnggulan dalam karakter kebangsaan dan tidak kehilangan jati diri.

Walaupun perbincangan kita sekarang ini tidak tentang sejarah murni (pure history), namun kita tentu tidak bisa menjauhkan diri secara total dari keniscayaan mengemukakan materi kesejarahan terkait Kebangkitan Nasional. Kita memerlukan perbincangan aspek kesejarahan Kebangkitan Nasional itu dalam posisinya sebagai pusat kajian. Selanjutnya, aspek kesejarahan Kebangkitan Nasional didialogkan dengan pisau bedah yang diambil (taken) dari maha sumber inspirasi pengembangan ilmu pengetahuan yang tertuang pada ayat-ayat dalam kitabullah.

Agar perbincangan ini lebih bersifat runtut dan mendasar, tidak keliru jika kita awali melalui pintu masuk yang mengantar kita ke ruang asbabul wurut kehadiran Kebangkitan Nasional. Sementara itu, pintu masuk ke ruang  asbabul wurut kehadiran Kebangkitan Nasional adalah ikhtiyar bangsa kita merebut kemerdekaannya.

Dalam sejarah merebut kembali kemerdekaan, bangsa kita melalui proses pengalaman yang panjang dan berliku. Hitung saja interval antara tahun 1600 sampai 1945. Pada awalnya, bangsa-bangsa asing datang  ke Nusantara bukan untuk menjajah. Rata-rata mereka membawa misi penjelajahan dan perdagangan. Oleh sebab itu, Resistant (perlawanan) tidak berlangsung sejak kedatangan mereka. Namun demikian, dalam menyambut misi bangsa asing itu, terutama sekali misi dagang mereka, anak-anak Nusantara tidak ragu dalam menunjukkan sikap kompetitifnya. Dengan  style (gaya) sambutan itu, bangsa-bangsa asing tersebut merasa kesulitan menjalankan misinya.

Fakta pengalaman itu menggoda bangsa-bangsa asing itu membuat keputusan untuk melakukan sesuatu, hatta sebuah kecurangan. Dengan sebuah perencanaan yang cukup matang, bangsa asing itu melakukan rekayasa perdagangan yang merugikan bangsa kita. Tidak cukup sekedar merekayasa politik dagangnya, bangsa-bangsa asing itu pun memprovokasi kerajaan-kerajaan bawahan agar melakukan perlawanan kepada kerajaan besar yang menjadi induknya.

Devide et impera  semakin mengacaukan integrasi bangsa kita. Misi dagang bangsa-bangsa asing itu-pun akhirnya berubah total menjadi misi politik imprealisme. Keadaan ini men-trigger terjadinya gesekan, bahkan akhirnya berujung perang. Kelicikan bangsa asing yang berubah menjadi imprealis tersebut memuncak. Mereka gencar merusak ukhuwah wathaniyah dan makin bernafsu menguasai kekayaan nusantara. Kezaliman bangsa imprealis ini akhirnya tak urungkan geliat anak-anak Nusantara menabuh genderang resistant (perlawanan).

Resistant (perlawanan) bangsa kita dimulai dengan perjuangan yang dimobilisasi oleh para raja di seluruh Nusantara. Walaupun merepotkan imprealis, perjuangan para raja itu akhirnya dapat dipatahkan. Satu persatu, raja-raja di Nusantara tunduk dan takluk di bawah kekuasaan imprealis. Keadaan ini tidak memadamkan api perjuangan bangsa. Para mujahid dan tokoh-tokoh bangsa yang berjiwa besar dan memiliki semangat kebangsaan yang hebat kembali melakukan perlawanan secara sporadic.

Sampai awal abad 20 siklus perjuangan para raja dan mujahid terus berlangsung. Gugur satu tumbuh seribu. Mirisnya, satu pun dari perjuangan itu belum berhasil mengantar bangsa kita ke depan pintu gerbang kemerdekaan. Dengan kata lain perjuangan bangsa kita yang jelas bertujuan mulia selalu dipatahkan oleh kezaliman bangsaa imprealis. Kondisi objektiv adanya gap tujuan pejuangan bangsa kita dengan hasilnya ini dapat dipahami dengan mengurai sebuah realitas bahwa tujuan memang penting, tetapi cara mencapainya sudah pasti sangat penting.

Tujuan masih ditingkat idealisme, sedangkan cara mencapainya telah di zona praxis. Tujuan dengan proses perumusannya bisa ideal dan elegan. Pada proses pencapaiannya, tidak sedikit challenger dan trouble membayangi, bahkan mengggurkan idealism dan perfectionism tujuan tersebut.

Premis-premis di atas tidak merendahkan posisi tahap perumusan tujuan, tetapi mengilustrasikan kecenderungan terjadinya gap antara tujuan dengan ikhtiyar serta intaj (produk) adalah sunnatullah. Ingat dan sadarilah bahwa tujuan itu juga makhluk yang wajib memiliki cela atau keterbatasan.

Sementara itu, cela atau keterbatasan dari sebuah tujuan dan cara mencapainya, cenderung akan terlihat ketika tujuan itu diikhtiyarkan atau bukan ketika dirumuskan. Atinya, pada waktu perumusan, cela dan keterbatasannya diabaikan, serta kadang-kadang tidak terdeteksi sama-sekali. Oleh sebab itu seringkali tidak terantisipasi, bahkan ketika terdeteksi, kerap kali memunculkan kesulitan mereaksi secara cepat untuk menentukan penawar atau solusi yang efektif.

Dalam Qur’an Surat Lukman ayat 34, kesulitan ini dinyatakan dalam firman Alloh yang berbunyi: “Wama tadri nafsun madza taksibu ghodan” yang berarti: setiap manusia tidak memiliki kapasitas untuk menentukan secara pasti dan tepat apa yang hendak ia dikerjakan esok hari.

Walaupun telah dipahami sebagai sebuah sunnatullah, fakta gap antara tujuan dengan ikhtiyar serta intaj (produk) pejuangan bangsa kita tersebut memicu kegalauan akademik (sense of academic crisis) para nasionalis dari golongan cendikia. Untuk menjawab kegalauan itu, mereka mensimulasikan beberapa fakta perjuangan, bahkan merujuk beberapa contoh pecapaian bangsa-bangsa di dunia sebagai refrence dan perbandingan.

Beberapa contoh pencapaian dimaksud antara lain: (1). Berkembangnya liberalism dan faham human right, (2). Diterapkannya pendidikan system barat dalam pelaksanaan politik etis pada tahun 1902 yang memberikan pengalaman luas bagi pelajar, (3). Kemenangan Jepang terhadap Rusia pada tahun 1905 yang membangkitkan semangat masyarakat Asia-Afrika dalam melawan penjajah, (4). Gerakan Turki Muda pada tahun 1896-1918 yang betujuan mengobaran nasionalisme, (5). Pergerakan Pan-Islamisme Djamaluddin Al-Afgani yang meporak-porandakan imprealisme Barat, dan (6). Pergerakan nasionalisme India, Tiongkok, serta Philifina.

Analisis para cerdik-pandai yang memiliki nasionalisme “setengah dewa” tersebut akhirnya dapat menjawab muatan sense of academic crisis terkait kegagalan perjuangan memukul mundur imprealisme di Nusantara. Kata kunci jawaban yang diperoleh dari hasil telaah mereka adalah bahwa selama ini perjuangan bangsa kita gagal karena belum terorganisasi dengan rapi. Dengan kata lain kita perlu melakukan “Pergerakan dan Pejuangan Yang Terganisasi, simultan, dan massif”.  Artinya, setidak-tidaknya ada 2 hal yang sangat dipentingkan dalam pergerakan dan perjuangan menumpas kekuasaan penjajah, yaitu: Pertama, kesadaran kolektif yang dihadirkan oleh rasa senasib, sebangsa, dan setanah air. Kedua. Modernisasi pergerakan dengan ciri adanya pengorganisasian gerakan yang ditopang oleh kapasitas intlektualitas, komunikasi politik, dan jaringan, baik dalam lingkup regional, nasional, serta dunia internasional.

Menukil ayat-ayat Alloh dalam mengurai lebih lanjut jawaban atas sense of academic crisis para pejuang dan kaum nasionalis kita, dipastikan akan mengantar kita pada pemahaman yang tepat dan mantap terhadap kegagalan perjuangan bangsa sebagaimana fakta sejarah di atas. salah-satu ayat yang dapat diajukan adalah: QS. As-Shaaf ayat 4 yang artinya: “Alloh sangat menyukai orang-orang yang berperang dengan barisan yang rapi dan kokoh bagai sebuah bangunan yang tersusun dengan konstruksi kuat”.

Ayat ini secara terang dan jelas memberikan petunjuk tentang strategi berperang atau menghadapi lawan. Dalam sebuah pertempuran atau peperangan, ayat ini mengajarkan bahwa para pihak membutuhkan sebuah pengorganisasian pasukan, bahkan system makro kenegaraannya. Perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, evaluasi, dan tindakan lanjutan akibat peperangan harus utuh dan singkron. Dalam konteks resistant bangsa kita terhadap bangsa imprealis yang teus gagal sebagaimana paparan fakta sejarah di atas, tampaknya disebabkan oleh belum adanya upaya pengorganisasian yang utuh dan singkron sebagaimana petunjuk ayat di atas.

Terkait dengan pentingnya pengorganisasian dalam setiap gerakan, golongan harakiyyun (kaum pergerakan) menegaskan bahwa: “Al-haqqu bila nizhom yaglibuhul bathil binnizhom” (kebaikan yang tidak diorganisasi dengan benar akan tekalahkan oleh kejahatan yang terorganisasi secara tepat).

Kesadaran para nasionalis dan cerdik pandai tentang perlunya melakukan “Pergerakan dan Pejuangan Yang Terganisasi, simultan, dan massif” sebagaimana uraian di atas, akhirnya menghadirkan suatu keputusan untuk mengkonstruk sebuah paradigma gerakan yang mengakar dengan usaha pencerdasan bangsa dan melangit dengan sayap kebangsaan yang mengepak dari Sabang sampai Merauke.

Setelah tanpa enggan belajar dari Serikat Dagang Islam yang lahir tahun 1905 di Yogyakarta, akhirnya pada tanggal 20 Mei 1908, Dokter. Soetomo, Dokter. Wahidin Sudirohusodo, Soewardi Suryaningrat, dan beberapa orang mahasiswa STOVIA, seperti Gunawan Mangoenkuesoemo, mengawali paradigma baru ini dengan pendirian Budi Utomo. Kemudian pada perkembangannya, Dokter. Wahidin Sudirohusodo menggagas Budi Utomo ini untuk focus pada pengorganisasian kegiatan yang bersifat social, ekonomi, dan kebudayaan.

Pengkhususan sifat gerakan ini tentu merupakan sebuah proteksi yang strategis agar terhindar dari kecurigaan penjajah. Selain itu, pengkhususan sifat gerakan Budi Utomo awalnya diperuntukkan bagi golongan cendikia Jawa dalam misi pendidikan dan kesejahteraan.

Ketika dipimpin Noto Dirodjo, Budi Utomo berhasil digiring hingga masuk ke ruang politik. Kekentalan gerakan politik Budi Utomo ini semakin berasa ketika Douwes Deeker yang merupakan seorang Indo-Belanda berhasil mempublikasikan secara massif melalui media massa. Salah satu sukses propaganda Douwes Deeker adalah pemahaman cendekia Jawa yang mantap tentang kebangsaan dan tanah air.

Pemahaman yang sedemikian rupa itu pun kemudian menjadikan Budi Utomo sebagai organisasi yang terbuka untuk setiap putera-puteri Nusantara. Dengan sifat keterbukaannya, Budi Utomo kemudian menyelenggarakan Kongres Budi Utomo pada tanggal 3-5 Oktober 1908 yang behasil menetapkan pemekaran zona gerakan yang ditandai dengan pembentukan beberapa  cabang, di antaranya: Bogor, Bandung, Magelang, Yogyakarta, Surabaya, dan Ponorogo. Pada Kongres ini pun ditunjuk Raden Adipati Tirtokuesoemo, mantan Bupati Karanganyar sebagai Ketua.

Perluasan peruntukan Budi Utomo dari hanya untuk ningrat Jawa hingga untuk seluruh anak-anak Nusantara menggambarkan adanya sebuah change (perubahan), terutama pada model orientasi pergerakan dan perjuangan. Anak-anak Nusantara telah diantar oleh Budi Utomo menggaris-bawahi pentingnya pesaudaraan dan kebersamaan untuk melawan politik Devide Et Impera. Arah orientasi pergerakan dan perjuangan ini sesungguhnya telah terilhami oleh ayat Alloh Ta’ala yang menegaskan, “ Hai orang-orang yang beriman, apabila kalian bertemu musuh, maka beteguh hatilah, bezikir sebanyak-bayaknya agar kalian menang. Dan taatlah kepada Alloh dan Rasululloh, janganlah beselisih karena akan menghadirkan rasa gentar dan akan melemahkan pertahanan kalian. Perbanyak sabar karena Alloh bersama orang-orang yang sabar”.(QS. Al-Anfal Ayat 45-46)

Setelah kiprah Budi Utomo, kesadaran kolektif dan modernisasi pergerakan di Nusanatara semakin menjamur. Beberapa di antaranya: Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, Penerbitan Al-Munir di padang, Pesantren Al-Mujahidin yang menjadi embrio NWDI-NBDI di Lombok, dan lain-lain.

Pergerakan yang simultan, massif, dan terorganisasi di seluruh Nusantara membidani kekuatan raksasa yang secara cepat mampu mencabik-cabik kekuasaan imprealis. Atas berkat Rahmat Alloh Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur anak-anak Nusanatara, akhirnya Indonesia sampailah pada saat yang membahagiakan, yaitu kemerdekaan 17 Agustus 1945.

Fakta-fakta ini kemudian menginspirasi para nasionalis, termasuk Soewardi Suryaningrat atau Ki Hajar Dewantara untuk mengukuhkan berdirinya Budi Utomo sebagai Hari Kebangkitan Nasional pada peringatan milad Budi Utomo Pertama di Istana Kepresidenan Yogyakarta tanggal 20 Mei 1948 dan dihadiri langsung oleh Presiden Ir Soekarno.

Secara sadar atau tidak, pengambilan diksi kata Kebangkitan Nasional sebagai sebutan peristiwa lahirnya pergerakan modern anak-anak Nusantara yang ditandai dengan lahirnya Budi Utomo adalah sebuah keberkahan. Menururt pakar, kata Kebangkitan, jika disetarakan dengan kata dalam Bahasa Arab menjadi Nahdlatul. Kata ini merupakan isim masdar dari kata “nahdla” yang berarti Qiyam (rising) atau dalam Bahasa Indonesia “bangkit”. Lebih lanjut, para pakar juga menyatakan bahwa isim masdar lain dari kata “nahdla” adalah “nuhudi” Dalam hal penamaan badan atau organisasi, para pakar sepakat memilih  kata Nahdla (Nahdlatul).

Argumentasinya adalah karena Nahdla (Nahdlatul) merupakan isim marrah yang berarti sebuah peristiwa itu terjadi hanya sekali karena sangat luar biasa. Jadi Nahdlatul itu artinya sekali bangkit dan bertahan selamanya. Walaupun demikian jika terjadi “gesekan”, itu hanya menunjukkan sifat makhluk yang dengan izin Alloh nantinya akan bisa dilewati dan berujung indah.

Para ahli berpendapat bahwa kata Nasional dalam Bahasa Arab  setara juga dengan al-Wathan. Dalam wikepedia dinyatakan bahwa Al-Wathan berarti al-Jannah sehingga kata “Hubbul Wathan minal Iman berarti cinta surge sebagain dari iman. Selanjutnya, al-Wathan diartikan pula sebagai tanah air. Dengan demikian Kebangkitan Nasional setara dengan Term Nahdlatul Wathan yang berarti Sebuah pergerakan nasionalisme atau pergerakan yang mengantar menuju surga.

Sedemikian hebat dan komprehensifnya spirit Kebangkitan Nasional sehingga meyakinkan kita untuk bisa merefleksinya dalam segala momentum dan perintiwa, termasuk keadaan luar biasa. Sebut saja dalam keadaan darurat kesehatan akibat Pandemi Covid 19. Kita sangat memerlukan sinergitas dan agenda-agenda yang terorganisasi tanpa perdebatan dan perselisihan dalam mengentasnya.  Jadi jika semangat atau spirit Kebangkitan Nasional kita refleksikan dalam penanganan Pandemi Covid 19, maka atas izin Alloh segalanya akan berujung indah. Wallohu’alamu.

*Penulis : Sekretaris Lajnah Kaderisasi PBNW dan Tenaga pendidik Di SMA NW Pancor Dr Dr. Jamiluddin, M.Pd

Comments

comments