Kondisi Indonesia Terhadap Dampak Covid-19

0
123
Penulis : Gerardus Umbu Pati
Foto : Penulis : Gerardus Umbu Pati (MetroNTB/Ist)
Sebelum Post

Penulis : Gerardus Umbu Pati

Opini, MetroNTB.com – Pandemic covid 19 yang melanda Indonesia merupakan penyakit menular yang bermula dari Wuhan China pada Desember 2019 dan hingga saat ini 6 Mei 2020 kasus positif di Indonesia tercatat mencapai 12.438 orang dan jumlah kematian mencapai 895 orang per hari ini.

Dari dampak Covid 19, Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan peraturan pemerinta pengganti Undang Undang Republic Indonesia nomor 1 Tahun 2020, keputuan Presiden Republic Indonesia nomor 11 tahun 2020 dan peraturan Pemerintah Republic Indonesia nomor 21 tahun 2020, dan pemerintah Indonesia telah menghimbau untuk bekerja di rumah, belajar di rumah, ibadah di rumah. dari ketiga peraturan dan himbauan pemerintah tersebut sampai saat ini masih belum maksimal dan bahkan stagnan untuk mengatasi penyebaran Covid 19.

Sementara data yang di sampaikan oleh juru bicara pemerintah untuk penangan covid 19 Dr Achmad Yurianto dalam konfereni pers Rabu 6 Mei 2020 untuk sementara kasus virus corona di Indonesia mencapai 12.438 positif, 2.317 orang sembuh dan 895 orang meninggal dunia, jika kita mengacuh pada pernyatan kepala gugus tugas percepatan penanganan Covid 19 Doni Monardo berdasarkan data kajian Badan Intelijen Negara (BIN) memperkirakan bahwa puncak penyebaran covid 19 pada akhir Juni atau akhir Juli 2020.

Jika benar bahwa puncak penyebaran covid 19 bedasarkan prediksi (BIN) dan kalo penulis berasumsi meredahnya Covid 19 ini sekita Oktober atau November 2020 bahkan berakhirnya Covid 19 ini di asumsikan sampai 2021 maka dapat di pertimbangkan semaksimal mungkin besarnya bantuan sosial yang cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat hingga covid 19 ini selesai

Jika penulis menilai kebijakan pemerintah jokowi mengatasi dampak ekonomi dari Covid 19 dengan peluncuran Kartu Prakerja maka rasanya tidak tepat karena kartu prakerja ini tidak di butuhkan dalam konteks Indonesia yang sementara di landa pandemi Covid 19 dan lebih tepatnya jika di luncurkan setelah Covid 19 berakhir.

Dengan munculnya program kartu prakerja di saat wabah Covid 19 dan untuk menyukseskan kartu prakerja pemerintah menyediakan pelatihan  lewat online namun pada dasarnya bawah masyarakat Indonesia tidak terbiasa akan pelatihan online apa lagi masih banyak masyarakat Indonesia yang belum memahami penggunaan media sosial, dan lebih parahnya lagi bahwa masyarakat Indonesia tidak terbiasa bekerja di rumah atau bekerja lewat online.

Secara nilai plusnya, bahwa kartu prakerja sangat penting guna menyiapkan tenaga kerja yang unggul secara besik dan skill, Jika nilai plusnya untuk menyiapkan tenaga kerja maka perlu juga di bahas nilai minusnya untuk mengetahui seberapa besar dampak dari kartu prakerja yang di programkan oleh pemerintah Jokowi.

Secara nilai minusnya adalah bahwa kartu prakerja membutuhkan pelatihan secara online tetapi sebagian besar masyarakat Indonesia sudah menguasai kealihan di bidang masing masing namun sebagian besar masyarakat Indonesia pula di PHK karena terkena dampak Covid 19 berdasarkan catatan Menteri Ketenaga Kerjaan Ida Fauziah sudah sekitar 150 ribu orang yang di PHK atau 10% dari 1,5 juta pekerja yang terimbas Covid-19.

Jika dari data tersebut yang membuat peluncuran kartu prakerja maka sangat tidak wajar karena mayarakat yang di PHK bukan karena tidak bisa bekerja namun karena hampir sebagian besar masyakarat di PHK karena perusahan kena imbas dari Covid 19. Oleh karena itu kartu prakerja lebih baiknya di ganti dengan uang tunai guna memenuhi kebutuhan sehari hari masyarakat yang di PHK dan yang belum mempunyai pekerjaan sebelumnya.

Kartu pra kerja di canangkan oleh Jokowi pada masa kampanye ketika kondisi ekonomi Indoneia sedang normal sekitar 5% Maka wajar jika Jokowi mencanangkan program terebut untuk memacu SDM masyarakat namun kondisi saat ini tidak wajar jika kartu pra kerja menjadi prioritas pemerintah Jokowi di saat Covid 19.

Bahkan UMKM turut merasakan dampak Covid 19 hal itu sangat mengkwatirkan mengingat presentase masyarakat miskin berdasarkan Badan Pusat Statistik per September 2019 sebanyak 9,22%  dan rentan miskin, menurut Bank dunia 45% atau 115 juta orang Indonesia masih tinggi, jika di lihat dari data tersebut maka dalam keadaan wabah Covid 19 ini akan lebih meningkat masyarakat yang rentan miskin.

Oleh karena itu penulis menyarankan kepada pemerintah agar lebih focus pada menekan dan menyelesaikan penyebaran wabah Covid 19, dari pada focus pemerintah menjalankan program kartu prakerja yang berimbas pada meningkatnya penyebaran Covid-19.

Pada intinya bahwa masyarakat Indonesia saat ini membutuhkan bantuan langsung tunai atau bantuan langsung non tunai berupa sembako, karena masyarakat Indonesia membutuhkan makan bukan kartu yang di makan (*)

Comments

comments