Memutuskan Rantai Covid 19, Inilah Perintah Rasulullah SAW

0
616
Ketua LTN NU Lombok Timur Rof'il Khaeruddin, MA
Foto : Ketua LTN NU Lombok Timur Rof'il Khaeruddin, MA (MetroNTB/Ist)
Sebelum Post

MetroNTB.com – Dunia bagaikan terisolasi dalam keramaian, sontak wabah (الطاعون) membuat histeris penduduk planet ini. Wabah abad 21 ini kemudian dikenal dengan Covid 19 menjadikan setiap penjuru bumi ber’uzlah’ untuk sementara waktu, bumi seperti mengisyaratkan kepada manusia untuk muhasabah dan memuntahkan kepenatan agar manusia kembali merefleksi setiap kehidupannya.

At-Tho’un (الطاعون) dalam bahasa Arab, atau kita sebut wabah virus, adalah wabah yang bukan tergolong ‘baru’ dalam sejarah manusia. Sejarah telah mencatat wabah virus telah terjadi sebelum dan sesudah bi’tsah Nabi SAW, dan menimpa segenap ummat Islam pada massa itu.

Pesan dan cara Rasulullah SAW mencegah wabah Virus yang mematikan;

1. Ber’uzlah (Lock Down)

Uzlah dalam arti saat ini bukan untuk memutuskan serangkaian usaha (إختيار) atau riset dalam mencari vaksin (penawar atau penangkal), atau tidak berhenti untuk menemukan solusi terhadap apa yang menimpa kehidupan manusia, namun sebuah upaya untuk memutuskan tali rantai wabah yang telah merenggut puluhan ribu ummat manusia saat ini.

Misal saja pada zaman Rasulullah SAW pernah terjadi wabah kusta yang menular dan mematikan sebelum diketahui obatnya. Kala itu, Rasulullah SAW memerintahkan untuk tidak dekat-dekat atau melihat orang yang mengalami kusta atau lepra.

Dalam sebuah hadist, Rasullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

‏ لاَ تُدِيمُوا النَّظَرَ إِلَى الْمَجْذُومِينَ

Artinya: “Jangan kamu terus menerus melihat orang yang menghidap penyakit kusta.” (HR Bukhari)

Dalam buku yang ditulis oleh Nabil Thawil, di zaman Rasulullah SAW jikalau ada sebuah daerah atau komunitas terjangkit penyakit Tha’un, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam memerintahkan untuk mengisolasi atau mengkarantina para penderitanya di tempat isolasi khusus, jauh dari pemukiman penduduk.

Hal di atas terlihat dalam peristiwa yang terjadi pada zaman Khalifah Umar Bin Khattab, dalam hadist yang berasal dari Habib bin Abi Tsabit;

– حدثنا حفص بن عمر حدثنا شعبة قال أخبرني حبيب بن أبي ثابت قال سمعت إبراهيم بن سعد قال سمعت أسامة بن زيد يحدث سعدا عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال إذا سمعتم بالطاعون بأرض فلا تدخلوها وإذا وقع بأرض وأنتم بها فلا تخرجوا منها فقلت أنت سمعته يحدث سعدا ولا ينكره قال نعم (رواه البخاري في فتح البر، باب ما يذكر في الطاعون)

Diceritakan oleh Hafsh bin Umar dari Syu’bah berkata; Saya dikabarkan oleh Habib bin Abi Tsabit, berkata; aku telah mendengarkan Usamah bin Zaid yang diceritakan oleh Sa’ad bahwa Rasulullah SAW telah bersabda; “Apabila kalian mendapat (mendengar) berita tentang wabah pada suatu tempat, maka jangan kalian memasuki tempat (negeri) tersebut, dan jikalau terdapat (wabah) di tempat engkau tinggal, maka jangan kalian keluar darinya (isolasi diri)”. Habib berkata, aku telah bertanya kepada Ibrahim: “Apakah engkau benar-benar telah mendengar Usamah bercerita kepada Sa’ad tentang hal ini, dan dia tidak mengingkarinya? Dia menjawab: “Ya, dia tidak mengingkarinya.” (HR. Bukhari dan Muslim dalam lafazh yang berbeda).

Tha’un sebagaimana disabdakan Rasulullah SAW adalah wabah penyakit menular yang mematikan, penyebabnya berasal dari bakteri Pasterella Pestis atau bakteri yang sama bisa menyerang tubuh manusia.

Hadits yang diriwayatkan oleh Imam bukhari di atas merupakan refleksi sejarah yang terjadi pada zaman Rasulullah dan pada masa khalifah Ummar Bin Khattab. Pada masa Khalifah Umar, yakni sekitar abad 18 Hijriyah, telah terjadi wabah virus “Amwas”  yang sangat ganas sampai merenggut nyawa manusia, dituliskan dalam Jurnal Sejarah Virus ‘Amwas oleh Ibrahim Zaini, wabah ini telah merenggut sekitar 25 – 30 ribu jiwa (bayangkan pada masa itu penduduk planet ini masih sedikit dengan jumlah angka meninggal yang sangat besar).

2. Bersabar dan tetap tenang

Segala apa yang menimpa manusia di muka bumi ini adalah bentuk ujian bagi kehidupan. Bahkan dalam terpaan ujian tersebut manusia kadang melampaui batas kesabarannya sehingga berimplikasi terhadap kondisi kejiwaan yang tidak harmonis. Tentu kepanikan atas wabah (katakan; Corona) membuat manusia cemas, khawatir sampai guncangan kejiwaan yang tidak stabil.

Kondisi tersebut, sejurus kemudian membuatnya tidak patuh terhadap himbauan pemerintah dan para alim ulama yang telah mengeluarkan peringatan dini. Disini, terjadilah ego jabbariyah merasuki pikirannya, bahwa hidup mati sudah dituliskan dalam lauhul mahfuzh.

Pentingnya sikap sabar dan tenang dalam menghadapi wabah virus covid 19, adalah salah satu jalan untuk memutuskan rantai pandemik virus ini. Artinya, bagi yang masih sehat, diharapkan menjaga diri, senantiasa mawas diri, hidup sehat serta menahan diri untuk kontak langsung dengan mereka yang telah dinyatakan Orang Dalam Pantauan (OPD) atau Pasien Dalam Pengawasan (PDP) bahkan dengan pasien yang positif. Fenomena ini telah jelaskan oleh Rasul SAW;

لا يورد ممرّض على مصحّ (رواه المسلم)
“Janganlah engkau mendatangi (berkumpul) dengan orang yang sakit (terkena wabah) bagi orang yang sehat” (HR. Muslim dalam al- Mashdar Shohih Muslim)

3. Cuci tangan dan muka setelah bangun tidur

Cuci tangan dan muka setelah bangun tidur adalah salah satu cara Nabi SAW. Dengan mencuci tangan terlebih dahulu, maka tangan menjadi sterill dari berbagai penyakit. Sebab sebelum atau disaat tertidur kemungkinan penyakit berasal dari bakteri yang menempel di tangan masih ada.

Cuci tangan juga dianjurkan setelah melakukan aktifitas lainnya demi terhindar dari berbagai bentuk penyebaran virus atau bakteri.  Dari Abu Hurairah ra, bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

إذا استيقظ أحدُكم من نومِهِ، فلا يَغْمِسْ يدَه في الإناءِ حتى يغسلَها ثلاثًا . فإنه لا يَدْرِي أين باتت يدُه

“Jika salah seorang di antara kalian bangun dari tidurnya, maka jangan mencelupkan tangannya ke dalam bejana sebelum ia mencucinya tiga kali. Karena ia tidak mengetahui dimana letak tangannya semalam” (HR. Bukhari no. 162, Muslim no. 278).

4. Membaca do’a tolak bala dan tho’un

Islam mengajarkan pemeluknya untuk senantiasa berzdikir baik dengan cara berdo’a agar terhindar dari berbagai Bala’, penyakit dan wabah (الطاعون). Salah satu do’a yang diajarkan oleh Nabi SAW antara lain:

روى أبو داود والترمذي وغيرهما عن عثمان بن عفان رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:
” ما من عبد يقول في صباح كل يوم ومساء كل ليلة :
{ بسم الله الذي لا يضر مع اسمه شيء في الأرض ولا في السماء وهو السميع العليم، ثلاث مرات، لم يضره شيء}.

Diriwayatkan dari Abu Daud dan Turmudzi dan dari yang lainnya, dari Utsman bin Affan ra, berkata; Rasulullah SAW bersabda;“Tidaklah seorang hamba membaca di pagi dan sore hari

بِسْمِ اللَّهِ الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ لَمْ يَضُرَّهُ شَيْءٌ

“(Aku berlindung) dengan Nama Allah yang bersama nama-Nya tidak ada sesuatu di bumi dna di langit yang bisa membahayakan. Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui,” sebanyak tiga kali (melainkan) tidak ada sesuatu yang membahayakannya.” (HR. Abu Dawud & Al-Tirmidzi, lafadz milik al-Tirmidzi)

5. Senantiasa berjihad mencegah Pandemik Wabah

Khusus bagi pakar Virology, harus tetap berjuang untuk mencari vaksin dari wabah virus yang melanda ummat manusia demi kemaslahatan bersama. Kaitannya dengan kasus saat ini, maka ikhtiar dari para pakar (Muslim) dan tim medis merupakan bentuk jihad.

Rasulullah menjelaskan dalam sebuah riwayat haditsnya sebagai jihad dan syahid bagi orang – orang yang gugur dalam ikhtiar pencegahan dan penyembuhan wabah, semisal corona (covid 19). Sebab mereka berjuang untuk mempertahankan kehidupan ummat manusia (حفظ النفس).

Dalam riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW mengatakan sabda serupa dengan hadits riwayat Muslim.

وعن أبي هريرة رضي الله عنه، قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم الشهداء خمسة المطعون والمبطون، والغريق، وصاحب الهدم، والشهيد في سبيل الله (متفق عليه)

Artinya, “Dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, ‘Orang yang mati syahid ada lima macam, yaitu orang yang kena tha’un (wabah), orang yang mati karena sakit perut, korban tenggelam, korban yang tertiban reruntuhan, dan orang syahid di jalan Allah.’” (HR Bukhari dan Muslim).

Demikianlah, semoga apa yang diajarkan oleh Insan Agung Nabi Muhammad SAW, senantiasa kita indahkan serta kita berwashilah kepadanya semoga dengan izin Allah SWT musibah ini segera berakhir. Semoga bermanfaat (*)

Ketua LTN NU Lombok Timur : Rof’il Khairuddin

Comments

comments