Mengenal Sosok Bidan Yang Kini Jadi Politisi PKB

0
Sosok srikandi dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kota Mataram, Mita Dian Listawati
Foto : Sosok srikandi dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kota Mataram, Mita Dian Listawati (MetroNTB/Dok)

Mataram, MetroNTB.com – Sosok srikandi dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kota Mataram, Mita Dian Listawati dengan berbekal pengalamannya menjadi bidan dalam kurun sepuluh tahun terakhir telah membuatnya terbiasa menangani keluhan masyarakat sekaligus berjibaku dengan administrasi.

“Saya memiliki cara sendiri dalam menyerap aspirasi masyarakat di daerah Sandubaya tempat saya terpilih menjadi salah satu anggota DPRD Kota Mataram,” ujarnya kepada MetroNTB.com, Sabtu 28 Maret 2020

Pada Februari-Maret 2020, Mita melaksanan reses di enam (6) titik Kecamatan Sandubaya. Kelurahan Mandalika, Selagalas, Bertais, Bertais Daye, Pengempel Indah, Selagalas, Gerung Butun Barat, Karang Parwe, dan lingkungan Abian Tubuh menjadi sasaran masa resesnya untuk menyerap aspirasi konstituennya.

“Masyarakat sering menyampaikan keluhannya meski diluar masa reses yang telah ditentukan waktunya. Masyarakat biasanya mengambil kesempatan saat pengajian, maupun saat berobat ke rumahnya,” ungkapnya

Memang sampai saat ini sosok Mita masih menyediakan stok obat-obatan di rumahnya untuk melayani keluhan kesehatan masyarakat sekitar.

“Selain masalah kesehatan, masyarakat juga mengeluhkan hal lain, misalnya penanganan banjir, di wilayah Sandubaya dan sekitar,” tutur Mita

Kecamatan sandubaya sendiri di beberapa titik memang dikelompokkan menjadi daerah rawan banjir. Melalui masa resesnya.

Mita bertekad mulai mengatasi hal ini melalui penanganan sampah yang tepat, dan bangunan drainase. Sampah dan drainase memang menjadi dua hal yang tidak bisa dipisahkan dari banjir.

“Jika sampah menumpuk sembarangan, ditambah buruknya konstruksi drainase tentu banjir tak terelakan,” ucapnya

Masalah drainase, lanjutnya melalui dinas terkait akan mencarikan solusi agar tidak saja mencegah banjir, namun memperindah tampilan lingkungan pula.

“Begitu pun dengan masalah sampah yang kerap kali menumpuk sembarangan,” cetusnya

Masalah sampah, untuk tahapan awal Mita menyediakan kendaraan roda tiga sebagai pengangkut sampah. Hadirnya kendaraan roda tiga ini dimaksudkan agar tidak terjadi penumpukan sampah dilingkungan.

“Penumpukan sampah ini, dikhawatirkan memicu permasalahan kesehatan, dan permasalahan lingkungan,” tandasnya

Mita mengaku ini sebagai tahap awal dalam penanganan sampah. Artinya akan ada inovasi lain berkelanjutan dalam mengatasi permasalahan ini.

Srikandi Komisi I Bidang Hukum dan Ham DPRD Kota Mataram ini juga mengutarakan, nantinya akan mendatangkan peralatan daur ulang, sampai industrialisasi sampah.

Ia memang tidak pada komisi empat yang membidangi lingkunagn. Namun dengan pengalamannya bersama masyarakat melalui pengabdian sebagai bidan, tentu kebijakan dibidang lingkungan terutama kesehatan akan sangat diperhatikannya.

“Seperti misal masalah kuburan di salah satu lingkungan dapilnya yang sempat disinggung saat reses,” tukasnya

Alumni Poltekes Mataram ini mengaku prihatin dengan pemakaman yang ditinjau, disalah satu daerah konstituennya. Bagaimana tidak, tanah yang longsor, tidak adanya pembatas kuburan, juga tiadanya aula makam membuatnya miris.

“Bagaimanapun, selain melayat dan berziarah, pemakaman juga tempat yang sakral, karena disana kita juga mengngingat akan kematian. Jadi harus rapi dan nyaman,” tuturnya

Oleh karenanya, Mita berusaha menumbuhkan kesadaran masyarakat, untuk permasalahan kerapihan pemakaman ini. Selaian problem makam, dirinya juga dihadapkan pada sebuah permintaan wajib saat reses.

Sudah menjadi hal yang wajar jika pada masa reses dewan, masyarakat akan berharap Bantuan Sosial (Bansos). Biasanya bantuan ini berupa rupiah tunai yang diberikan kepada masyarakat untuk membantu dalam bidang pemberdayaan atau usaha.

“Secara pribadi, sata ingin menekankan kepada masyarakat bantuannya akan lebih banyak dalam bentuk fisik,” ungkapnya

Menurutnya, keluhan masyarakat tidak melulu akan diselesaikan dengan pemberian uang tunai, melainkan dengan sarana terkait keluhan masing-masing.

“Bukan tanpa alasan, saya berharap masyarakat agar mandiri dan mampu menemukan solusi. Solusi masyarakat inilah yang akan dijadikan sebagai bahan pengambilan kebijakan selanjutnya,” cetusnya

Mita mengaku tidak terkejut dengan permasalah pada ranah legislasi, terutama menjadi pendengar aspirasi masyarakat.

“Saya maju sebagai wakil rakyat, merupakan desakan masyarakat, jadi bagaimanapun masalah yang dihadapi kemudian, saya tidak sendiri, melainkan berdiri bersama masyarakatnya,” kata Mita menambahkan (red)

Comments

comments