Ini Solusi Cerdas Selly Atasi Alih Fungsi Lahan Di Perkotaan

0
Ketua Umum KAFEGAMA Cabang Nusa Tenggara Barat (NTB) Dra Hj Putu Selly Andayani (baju hijau) saat membuka KAFEGAMA Academy Batch IV di Pondok Pesantren Darul Qur'an, Bengkel, Lombok Barat, NTB, Jum'at 21 Februari 2020.
Foto : Ketua Umum KAFEGAMA Cabang Nusa Tenggara Barat (NTB) Dra Hj Putu Selly Andayani (baju hijau) saat membuka KAFEGAMA Academy Batch IV di Pondok Pesantren Darul Qur'an, Bengkel, Lombok Barat, NTB, Jum'at 21 Februari 2020 (MetroNTB/Ist)

Mataram, MetroNTB.com  – Peningkatan jumlah masyarakat miskin perkotaan, merupakan dampak dari alih fungsi lahan.

Hal itu diungkapkan Ketua Umum KAFEGAMA Cabang Nusa Tenggara Barat (NTB) Dra Hj Putu Selly Andayani saat membuka KAFEGAMA Academy Batch IV di Pondok Pesantren Darul Qur’an, Bengkel, Lombok Barat, NTB, Jum’at 21 Februari 2020.

Pemilik nama muslimah Tanzilul Khodijah Amiroh itu mengatakan, hal itu terjadi karena adanya pergeseran peran pemilik tanah yang mendapatkan penghasilan dari komoditas pertanian, menjadi pekerja penggarap atau bahkan pengangguran karena mereka umumnya tidak memiliki keterampilan atau keahlian selain bercocok tanam.

Menurutnya, kondisi itu merupakan titik awal terjadinya kerawanan pangan.

“Untuk mengantisipasi terjadinya kerawanan pangan, harus ada terobosan kebijakan dari pemangku kepentingan. Salah satunya dapat dilakukan melalui urban farming (pertanian perkotaan, red), yang dilakukan baik secara horizontal maupun vertikal.

Perempuan berkacamata yang pernah menjadi Penjabat Walikota Mataram itu menjelaskan, urban farming adalah konsep pemindahan pertanian konvensional ke pertanian perkotaan.

Dimana pertanian konvensional lebih berorientasi pada hasil produksi dengan lahan pertanian yang luas, sedangkan urban farming lebih pada karakter pelakunya yakni masyarakat kota dengan lahan yang sempit.

“Jadi yang berbeda ada pada pelaku dan media tanamnya saja,” ucapnya.

Selain urban farming dapat bermanfaat sebagai ruang terbuka hijau (RTH), lanjutnya, juga dapat memenuhi konsumsi pangan keluarga.

“Bahkan bisa menghasilkan pendapatan yang berkali lipat. Tentunya dengan memanfaatkan teknologi pertanian, yang tepat disesuaikan dengan suhu lingkungan dan komoditas yang ingin dikembangkan,” kata Selly

Istri anggota DPR RI Dapil NTB II atau Pulau Lombok H Rachmat Hidayat ini menyampaikan, berkaca dari fenomena tersebut Keluarga Alumni Fakultas Ekonomika Gadjah Mada (KAFEGAMA) Cabang NTB, hadir memberikan solusi kepada masyarakat perkotaan dengan cara membuka kembali KAFEGAMA Academy, mengusung topik “Mencetak Petani Kota”.

“Saat ini sudah angkatan keempat. Para peserta akan diberikan pelatihan tentang budidaya hidroponik dari teori sampai praktik. Selain materi tentang hidroponik, akan ada materi tentang pengelolaan keuangan dan pemasaran digital. Bahkan di hari terakhir kami sudah siapkan pemateri, untuk pemanfaatan limbah menjadi kerajinan seperti bunga dan lain sebagainya,” ujarnya.

“Akhirnya, dengan mengucap Bismillahirrahmanirrahim, KAFEGAMA Academy Angkatan IV ini saya nyatakan resmi dibuka,” tutupnya.

Sementara Ketua Harian KAFEGAMA NTB, Supiandi, S.E., M.Ec., Dev. berharap tahapan demi tahapan KAFEGAMA Academy, dapat diterapkan oleh para peserta di lingkungan masing-masing.

“Harapan kami, apa yang didapatkan di pelatihan ini, bisa diimpelemtasikan di rumah, kelurahan atau desa masing-masing. Buatlah yang terbaik agar bisa ditiru langsung oleh masyarakat,” harapnya

Senada Hj. Selly Andayani, Supiandi juga menuturkan bahwa selain menjadikan lingkungan asri, budidaya hidroponik juga sangat menguntungkan secara ekonomi.

“Saat ini, KAFEGAMA NTB membina beberapa petani hidroponik dan sudah memiliki pasar yang terjamin, yaitu beberapa hotel dan supermarket,” ujarnya.

Ia menyebutkan, permintaan harian sayur hidroponik melewati KAFEGAMA NTB saat ini mencapai 20 kg/hari, dengan harga rata-rata Rp. 20 ribu/kg.

“Kami akan terus berkomitmen untuk mendampingi masyarakat agar semakin sejahtera, sejahtera yang ditandai dengan bertambahnya pendapatan,” tandasnya.

Sedangkan salah satu pemateri, yang merupakan konsultan publik KAFEGAMA NTB Nurwahidin menyampaikan, pertumbuhan penduduk dan meningkatnya urbanisasi merupakan tantangan di masa depan.

“Diperkirakan pada tahun 2025, sebanyak 65 persen penduduk dunia tinggal di kota. Peningkatan jumlah penduduk yang tinggal di perkotaan ini akan menimbulkan permasalahan-permasalahan terkait infrastruktur publik, tempat tinggal, tenaga kerja, kerawanan pangan, lingkungan dan sanitasi.

Menurutnya, permasalahan-permasalahan tersebut disebabkan oleh keterbatasan lahan, alih fungsi lahan, dan tata kelola perkotaan yang tidak terencana sejak awal.

“Alih fungsi lahan pertanian menjadi lokasi permukiman atau tempat tinggal, tempat usaha, industri, dan perkantoran berdampak pada penurunan luas lahan pertanian, untuk menghasilkan komoditas pertanian atau bahan baku pangan,” tuturnya.

“Karena itu, ide atau gagasan yang ditawarkan KAFEGAMA ini sangat-sangat komprehensif, untuk tercapainya ‘Mataram Baru’ guna mewujudkan ‘Mataram Cemerlang’,” tutupnya.

Hadir dalam acara pembukaan, Pimpinan Ponpes Darul Qur’an Bengkel TGH. Halilussarby (cucu Almarhum Almaghfurullah Hadratussyeikh TGH. Moh. Shaleh Hambali) , Pimpinan Cabang BRI Praya, dan Public Relations FKSM NTB Willy Permata. (red)

Comments

comments