Literasi Matematika Siswa Indonesia Termasuk Salah Satu Yang Terendah di Dunia

0
244
Foto : Oleh : Shahibul Ahyan, M.Pd. Dosen Pendidikan Matematika Universitas Hamzanwadi (MetroNTB/Ist)

Oleh : Shahibul Ahyan, M.Pd.

Dosen Pendidikan Matematika Universitas Hamzanwadi

Opini, MetroNTB.com – Baru-baru ini, tepatnya pada tanggal 3 Desember 2019, Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) resmi merilis hasil studi Programme for International Student Assessment (PISA) tahun 2018. PISA merupakan salah satu studi internasional yang mengukur kemampuan siswa usia 15 tahun dalam menggunakan pengetahuan dan keterampilan membaca (reading literacy), matematika (mathematical literacy), dan sains (scientific literacy) mereka dalam menjawab tantangan kehidupan nyata. Hasil studi PISA dijadikan sebagai salah satu acuan dalam mengukur kualitas pendidikan suatu negara. Studi ini dilakukan tiga tahun sekali yang dimulai sejak tahun 2000. Indonesia sendiri ikut serta dalam program ini sejak tahun 2000.

Sejak keikutsertaan Indonesia dalam program ini, capaian siswa pada bidang matematika, membaca, dan sains selalu di bawah rata-rata OECD, bahkan menjadi salah satu negara yang berada pada posisi paling rendah. Berdasarkan hasil studi PISA 2018 yang baru saja dirilis menunjukkan bahwa rata-rata skor matematika siswa Indonesia masih di bawah rata-rata OECD yaitu sebesar 379, dimana rata-rata OECD sebesar 489.

Sedangkan, pada bidang membaca rata-rata skor siswa Indonesia adalah 371, dimana rata-rata OECD sebesar 487. Terakhir, rata-rata skor bidang sains siswa Indonesia sebesar 396, dimana rata-rata OECD sebesar 489. Capaian ini belum menunjukkan peningkatan dari studi-studi PISA sebelumnya, seperti yang terlihat pada gambar di bawah.

Gambar 1. Tren capaian siswa Indonesia dalam membaca, matematika, dan sains (sumber: oecd.org/pisa)

Berdasarkan hasil PISA 2018, sekitar 28% siswa Indonesia mampu menyelesaikan permasalahan matematika level 2 ke atas, dimana rata-rata OECD sebesar 76%. Zambia menjadi negara terendah yang mampu menyelesaikan permasalahan level 2 ke atas yaitu sekitar 2%, sedangkan Beijing, Shanghai, Jiangsu dan Zhejiang (Cina) menjadi negara tertinggi yaitu sekitar 98%.

Selanjutnya, hanya sekitar 1% siswa Indonesia yang mampu melampaui level 5 ke atas, dimana rata-rata OECD sebesar 11%. Sedangkan, beberapa negara-negara Asia seperti Beijing, Shanghai, Jiangsu dan Zhejiang (Cina); Singapura; Hong Kong (Cina); Makao (Cina); Cina Taipei; dan Korea mampu berada di atas rata-rata OECD. Beijing, Shanghai, Jiangsu dan Zhejiang (Cina) sebesar 44%, Singapura sebesar 37%, Hong Kong (Cina) sebesar 29%, Makao (Cina) sebesar 28%, Cina Taipei sebesar 23%, dan Korea sebesar 21%.

Dengan hasil studi PISA tersebut, Indonesia menjadi salah satu negara yang menempati posisi paling rendah diantara 79 negara peserta. Indonesia hanya berada di atas Saudi Arabia, Maroko, Kosovo, Panama, Filipina, dan Republik Dominika.

Beijing-Shanghai-Jiangsu-Zhejiang (China) menjadi negara yang paling tinggi capaiannya dalam bidang matematika dengan rata-rata skor sebesar 591. Singapura dan Macao (China) menempati posisi kedua dan ketiga dengan masing-masing rata-rata skor sebesar 569 dan 558.

Diantara negara-negara ASEAN peserta studi PISA 2018, Filipina menjadi pemuncak terbawah bidang matematika dari negara-negara ASEAN lainnya. Kemudian, disusul oleh Indonesia, Thailand, Brunei Darussalam, dan Malaysia. Brunei Darussalam yang baru pertama kali mengikuti studi PISA ini mampu berada di atas raihan Indonesia, dengan rata-rata skor matematikanya sebesar 430.

Beberapa negara lain seperti Finlandia, Jepang, dan Jerman mengalami penurunan rata-rata skor bidang matematika dibandingkan dengan hasil PISA 2015. Finlandia turun empat peringkat ke posisi 16 dengan rata-rata skor sebesar 507 (turun 4 poin), Jepang turun satu peringkat ke posisi enam dengan rata-rata skor sebesar 527 (turun 5 poin), dan Jerman turun lima peringkat ke posisi 21 dengan rata-rata skor sebesar 500 (turun 6 poin).

Sedangkan, beberapa negara lain seperti Belanda, Brazil, dan Uni Emirat Arab mengalami peningkatan rata-rata skor pada bidang matematika. Rata-rata skor Belanda naik 7 poin menjadi 517, Brazil naik 7 poin menjadi 384, dan Uni Emirat Arab naik 8 poin menjadi 435.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) RI, Nadiem Anwar Makarim, menanggapi hasil studi PISA tersebut saat mengikuti acara rilis hasil PISA 2018 di Kantor Kemendikbud. Beliau menyampaikan bahwa hasil penilaian PISA menjadi masukan yang berharga untuk mengevaluasi dan meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia yang akan menjadi fokus pemerintah selama lima tahun ke depan.

Mendikbud juga menyampaikan bahwa hasil penilaian PISA sangat penting bagi Indonesia karena memberikan sebuah perspektif, sebuah insight baru, atau angle baru yang menunjukkan hal-hal yang tidak kita sadari tentang diri kita (red)

Comments

comments