Santri Darul Falah Diharapkan Jadi Kader Penggerak Revolusi Mental

0
56

Mataram, MetroNTB.com – Santri Pondok Pesantren (Ponpes) Darul Falah Pagutan Kota Mataram NusaTenggara Barat (NTB) diharapkan menjadi kader dan motor penggerak perubahan gerakan nasional revolusi mental.

“Perubahan dalam revolusi  mental itu adalah perubahan cara pandang, cara kerja budaya, kemudian prilaku sebagai individu maupun institusi,” ujar Asisten Deputi Pemberdayaan Masyarakat Kemenko PMK RI, Mustikorini Indrijatiningrum Talkshow “Layanan Publik Inspiratif dan Inklusif”, di Aula Al Abhar Ponpes Darul Falah Mataram, Minggu 8 September 2019

Ia menjelaskan, tugas para kader adalah  terlibat secara langsung, dalam kerja perubahan secara nyata di tingkat komunitas, desa/kelurahan dan institusi dari pusat hingga dusun.

“Kami akan terus mendorong santri-santri dan masyarakat di NTB ini menjadi kader dan motor penggerak revolusi mental untuk membawa perubahan yang lebih baik bagi bangsa Indonesia,” ungkap Mustikorini

Menurutnya, sasaran dalam gerakan revolusi mental sebagaimana ditetapkan didalam intruksi Presiden Nomor 12 tahun 2016 pada prinsipnya adalah terwujudnya akses masyarakat terhadap keadilan serta partisipasi dalam penyusunan kebijakan dan pengentasan kesenjangan sosial.

Visi tersebut, akan dicapai melalui, pertama adalah terwujudnya Indonesia melayani. Dimana seluruh kelompok masyarakat memiliki akses yang sama untuk mendapatkan layanan publik yang baik, cepat, tepat dan mudah.

Hakekatnya revolusi mental dalam pembangunan inklusif membutuhkan berbagai prasyarat yaitu perubahan struktur sosial yang eksklusif menjadi struktur sosial yang akomodatif.

‘Kemudian perubahan dari akses struktural dengan mengembangkan nilai nilai yang lebih berempati kepada kepentingan kelompok marjinal,” ungkapnya

Kedua, lanjut Mustikorini Indonesia bersih, tertib, mandiri dan indonesia bersatu. Inklusif adalah keterlibatan penuh seluruh masyarakat.

“Artinya tidak ada satupun yang tertinggal. Sehingga mereka terlibat dalam pembangunan manusia secara nasional,” cetusnya

Sementara, Pimpinan pondok pesantren Darul Falah, TGH. Muammar Arafat mengatakan, revolusi mental sebenarnya telah lama dipraktekan oleh para santri Ponpes Darul Falah.

“Hanya saja skalanya lebih pada aktivitas santri dalam kehidupan sehari-hari,” terangnya.

Misalkan dalam bentuk menjaga kebersihan lingkungan pesantren, baik dari masalah kebersihan kamar mandi hingga sampai pada ketertiban mengikuti kegiatan belajar mengajar.

Ia berjanji para santri di ponpes Darul Falah Pagutan akan siap menjadi motor penggerak revolusi mental yang inklusif,  demi perubahan yang lebih baik bagi daerah maupun bangsa Indonesia.

Dialog Aksi Nyata Gerakan nasional Revolusi Mental Dalam Pembangunan Manusia Inklusif dengan Tema “Kolaborasi pemerintah dengan masyarakat sipil untuk mendorong layanan publik inklusif dan inspiratif”.

Hadir sebagai narasumber pada acara dialog itu, Prof Dr. Ma’sum Mahfuz,  Waketum PBNU, Kepala Kampung Media NTB, Fairuz Abadi serta Kadis Dukcapil Kota Mataram.

Kegiatan dirangkaikan dengan peringatan 4 tahun Majelis Badruttamam Darul Falah Pagutan yang diawali dengan jalan santai bersama lima ribuan masyarakat dan santri juga Bazar Layanan Publik seperti pembuatan e-KTP, Layanan SIM dan SAMSAT termasuk Layanan Pengaduan NTB (red)

Comments

comments