Mau Berwisata ? Ini Danau Biru dan Lembah Surga Di Hutan Lindung Nuraksa Solusinya

0
166
Foto : Penampakan Danau Biru dan Lembah Surga yang berada di kawasan hutan lindung Nuraksa di Desa Karang Sidemen, Kecamatan Batukliang Utara, Kabupaten Lombok Tengah NTB (MetroNTB/Ist)

Lombok Tengah, MetroNTB.com – Salah satu spot wisata yang sedang dikembangkan adalah Danau Biru dan Lembah Surga yang berada di kawasan hutan lindung Nuraksa di Desa Karang Sidemen, Kecamatan Batukliang Utara, Kabupaten Lombok Tengah NTB.

Disebut danau biru karena airnya yang hijau kebiruan. “kolam besar” ini terbentuk karena pertemuan dua sungai yang mengalir dan terkumpul menjadi telaga besar atau danau. Warnanya yang hijau kebiruan berasal dari tumbuhan air di dasar danau.

Danau ini dikepung pepohonan yang rindang di atas ketinggian perbukitan. Suasana hutan yang bebas polusi suara membuat tempat ini layak diperkenalkan sebagai wisata alam baru yang menawarkan ketenangan dan keindahan alam hutan.

Akses jalan yang masih alamiah menuju hutan dan sesekali kebun-kebun milik warga setempat menjadikan spot wisata Danau Biru tersembunyi dari keramaian penduduk.

Meski dapat dilalui kendaraan roda empat, akses jalan ini juga dimanfaatkan untuk soft tracking ke bukit-bukit sekitar atau olahraga lain seperti sepeda gunung.

Berjarak kurang lebih satu kilometer dari lokasi pemukiman terakhir, spot wisata Danau Biru ini telah dilengkapi dengan fasilitas standar. Seperti jalan turun menuju danau sudah diperkeras dengan beton dan fasilitas toilet yang berderet di pinggir danau.

Diatasnya juga telah dilengkapi beberapa berugak kayu berukuran sedang dan lapak lapak pedagang yang menyediakan sejumlah kebutuhan dan asesoris untuk dijual kepada para pengunjung yang datang.

Menurut Yuli salah seorang pengelola Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Selendang Rinjani, Danau Biru lebih banyak dikunjungi oleh pelancong lokal di akhir pekan.

“Masih banyak yang harus dibenahi termasuk paket wisata dan pelibatan usaha lokal seperti gula semut untuk mendukung spot wisata ini maupun mendukung ekonomi warga setempat yang kini sedang mengembangkan industry gula semut yang dikemas modern,” ungkapnya

Salah satunya dengan memasukkan satu kemasan gula semut ke dalam harga tiket masuk bagi pengunjung.

Dengan demikian, spot wisata yang telah masuk kedalam program unggulan 99 desa wisata ini akan dikelola secara mandiri untuk pengembangannya dan dapat menjadi pendapatan bagi warga dan desa.

Selain itu, atraksi budaya unik lainnya yang hanya ditemui di Desa Karang Sidemen ini adalah tradisi Breke. Sebuah tradisi yang hanya digelar pada saat khitanan maupun meninggalnya seseorang.

Bedanya dengan tradisi serupa di tempat lain di Lombok adalah jamuan bagi pemuka agama yang memimpin upacara tradisi ini (Penghulu) berupa biji bijian. Seluruh pepohonan yang menghasilkan biji yang dapat dimakan disajikan sedemikan rupa sebagai jamuan.

“Bagi Pokdarwis Selendang Rinjani, spot wisata Danau Biru tinggal diperkaya promosinya agar pelancong mancanegara dapat pula menikmati keindahan hutan dan danau Desa Karang Sidemen,” tutur Yuli

Holtipark sendiri mulai dibangun tahun 2016 lalu, namun tanaman yang berada didalam kawasan itu sudah ada sejak tahun 2014 lalu.

“Dibutuhkan waktu hingga tahun 2020 agar segala macam tanaman buah yang ada di dalam kawasan bisa dinikmati oleh masyarakat atau wisatawan,” cetusnya

Awalnya kawasan Holtipark adalah kawasan kebun Kopi . Luas kebun kopi tersebut seluas 150 hektar. Sekarang ini selain buah, Tanaman Kopi itu masih dipertahankan meskipun sekarang sudah dicampur dengan tanaman buah lainnya.

Hasil pertanian dan Perekebunan di kawasan Holtipark maupun diluar kawasan dijadikan makanan olahan seperti kripik, bongkel pisang, kripik ubi, Singkong dan permen serta dodol.

Tidak hanya menjadi makanan olahan akan tetapi juga menjadi minuman olahan salah satunya adala Kopi Persil atau yang dikenal dengan Kopi Lapen. Kopi Lapen memiliki rasa yang khas.

Kopi hasil olahan Desa Karang Sidemen memiliki rasa yang khas dengan aroma kopi yang harum dan menggoyang lidah.  Kopi ini juga dipercaya dapat menghilangkan penyakit seperti pusing oleh karena itu Kopi ini diberinama Kopi Lapen yang diambil dari bahasa Sasak  (Lapen : Telang Peneng).

Pengelola Holtipark mengatakan pengelolaan kawasan Holtipark dilakukan oleh masyarakat sendiri.

“Ada sekitar 600 orang  yang mengelola kawasan itu. Mereka rata rata diberikan hak pengelolaan seluas 25 are,” pungkasnya (red)

Comments

comments