PKPRB Unram : Edukasi Mitigasi Bencana Harus Dilakukan Terus Menerus

0
66
Foto : Foto : Wakil Rektor IV Unram Yusron Saadi, PhD, Rektor Unram Prof Dr H Lalu Husni dan Ketua Pusat Kajian Pengelolaan Risiko Bencana (PKPRB) Unram Eko Pradjoko, PhD (MetroNTB/Umam)

Mataram, MetroNTB.com – Gempa bumi merupakan fenomena alam yang hingga saat ini tidak ada satupun para ahli, peneliti atau manusia yang bisa menentukan dengan tepat kapan terjadinya. Meskipun tidak bisa menentukan kapan terjadinya, manusia tetap berusaha mempelajari atau meneliti bagaimana proses gempa bumi itu bisa terjadi.

Ketua Pusat Kajian Pengelolaan Risiko Bencana Unram (PKPRB), Eko Pradjoko, PhD menyebutkan kegiatan edukasi dan mitigasi kebencanaan harus dilakukan secara terus menerus dari generasi ke generasi.

“Hasil penelitian Professor Ronald Albert Harris (Ron Harris) beserta timnya dalam sebuah seminar kebencanaan yang sempat mejadi perhatian banyak pihak tidak bermaksud untuk menakut-nakuti masyarakat,” ujarnya saat bertemu Rektor Unram Prof Dr H Lalu Husni di Rektorat, Senin 8 Juli 2019.

Ia mengajak semua pihak untuk memperkuat mitigasi bencana, informasi terkait potensi gempa harus disikapi dengan meningkatkan kewaspadaan masyarakat.

“Pasca Gempa Lombok 2018 hendaknya masyarakat NTB menjadi tetap ingat, tetap waspada dan lebih siap menghadapi bencana selanjutnya yang mungkin terjadi,” kata Eko

Lebih lanjut Eko menjelaskan, tim Professor Ron Harris meneliti catatan-catatan sejak tahun 1800-an pada jaman pemerintah kolonial Belanda di Indonesia.

“Hasil penelitian tersebut didukung pula dengan metode survei di lapangan yaitu di sepanjang sisi selatan Pulau Jawa, Bali hingga Lombok,” tuturnya

Survei dilakukan dengan melakukan penggalian tanah di daerah pantai untuk menemukan lapisan sedimen yang menunjukkan jejak-jejak akibat tsunami. Pengukuran umur sedimen yang diduga jejak tsunami juga dilakukan untuk mengetahui kapan waktu kejadian tsunami tersebut.

“Dari hasil pengukuran umur sedimen tersebut menghasilkan dugaan adanya kejadian tsunami di selatan Jawa ratusan tahun yang lalu,” terang Eko

Pemahaman tentang proses gempa bumi melalui laju gerakan lempeng tektonik di selatan Indonesia juga menyimpulkan adanya potensi gempa hingga sebesar magnitudo 9.0 dari sisi selatan Indonesia.

“Dari pemahaman proses tersebut kita menyadari bahwa kejadian gempa bumi bisa berulang kembali. Oleh karena itu penelitian tentang gempa bumi juga berusaha dilakukan melalui pendekatan metode statistik berdasarkan kejadian-kejadian gempa di masa lalu,” tutur Eko

Metode itulah yang diterapkan oleh peneliti dari Brigham Young University (BYU) Professor Ron Harris yang merupakan salah satu dari sekian banyak penelitian tentang gempa bumi dan tsunami yang dilakukan bersama timnya di Indonesia.

Dalam dua dekade terakhir sebelum tahun 2000 sebenarnya sudah banyak sekali penelitian tentang potensi bencana. Namun disadari hasil-hasil penelitian tersebut hanya diketahui oleh kalangan peneliti, hasil-hasil tersebut tidak sampai ke pemerintah dan masyarakat untuk disikapi mengenai apa yang harus dilakukan dengan adanya potensi bencana tersebut.

“Pasca Gempa Lombok 2018 hendaknya masyarakat NTB menjadi tetap ingat, tetap waspada dan lebih siap menghadapi bencana selanjutnya yang mungkin terjadi,” cetusnya

Slogan “kita ingat, kita waspada, kita siap” telah dipakai oleh PKPRB Unram bekerja sama dengan Forum Tangguh Bencana Desa Kuta Pujut Lombok Tengah dan BMKG Stasiun Geofisika Mataram pada tanggal 19 Agustus 2017 dalam peringatan “40 Tahun Gempa Tsunami Sumba 1977″.

Ditambahkannya, unram sebagai perguruan tinggi terkemuka di NTB siap membantu masyarakat dan pemerintah NTB dalam kegiatan edukasi tentang kebencanaan.

“Selain membentuk beberapa pusat penelitian tentang kebencanaan, Unram juga tergabung dalam Konsorsium 3 Perguruan Tinggi Tangguh Bencana dengan anggota lainnya Universitas Syiah Kuala Aceh dan Universitas Tadulako Palu,” kata Eko menambahkan

Senada, Rektor Unram Prof Dr Lalu Husni mengatakan bahwa menurut penelitian, gempa bumi itu akan selalu terjadi, akan tetapi mengenai waktu terjadinya tidak ada yang bisa mengetahuinya.

“Hikmah yang bisa kita ambil adalah jangan sampai ketika terjadi bencana kita dalam keadaan tidak siap. Oleh karena itu, pemerintah termasuk perguruan tinggi dapat mengambil peran,” tandasnya

Unram, bersama Universitas Syiah Kuala Aceh dan Universitas Tadulako Palu telah melaksanakan konsorsium terkait mitigasi kebencanaan untuk melakukan riset dan kajian-kajian dari perspektif ilmu pengetahuan.

“Nantinya hasil penelitian itu bisa membantu pemerintah dalam melakukan mitigasi bencana. Sehingga ketika terjadi bencana kita tahu apa yang harus kita lakukan,” pungkasnya (red)

Comments

comments