Merawat Pancasila : Menemukan Kembali Negara Bersendi Kerta dan Gama, Menuju Masyrakat Adil Makmur Bersama Jokowi Amin

0
409
Penulis Adalah Eksekutive For One Milleneal (F1M) NTB,  Aktivis Lembaga Advokasi Rakyat untuk Demokrasi (LARD) NTB, dan Aktivis Jaringan Kemandirian Nasional (JAMAN)
Foto : Penulis Adalah Eksekutive For One Milleneal (F1M) NTB,  Aktivis Lembaga Advokasi Rakyat untuk Demokrasi (LARD) NTB, dan Aktivis Jaringan Kemandirian Nasional (JAMAN)

Oleh: Andra Ashadi*

Pancasila dan Nusantara bukanlah di cipta dalam satu malam yang tidak tidur, akan tetapi literasi sejarah menunjukkan kita sebagai Negara bangsa telah hidup berabad-abad lamanya dalam peradaban yang tinggi.

Fauding father  bersepakat Pancasila bukanlah hasil cipta karsa seseorang, tetapi Pancasila adalah suasana batin peradaban sejak nusantara lahir.

Nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila  bersifat Pilosofis, dan di dalam kehidupan bermasyarakat nilai Pancasila secara praktis merupakan  pandangan hidup. Sehingga dapat di katakan Nilai dan fungsi Pilsafat Pancasila telah ada jauh sebelum Indonesia merdeka, hal ini dibuktikan dengan sejarah majapahit (1293), Pada waktu itu hindu dan budha hidup berdampingan dengan damai dalam satu kerajaan, bahkan pasai sebagai sebuah kerajaan persekutuan juga meluk agama yang berbeda yakni Islam.

Empu prapanca menulis “negara kertagama” (1365). dalam kitab tersebut telah terdapat istilah “Pancasila” Bahkan dengan tegas dikatakan Negara teguh berpegang pada Pancasila.

Ktekika melisik lebih lampau, dalam literasi Kata Pancasila di temukan pada kitab Tri Pitaka dan Vinaya pitaka, yang kesemuanya itu merupakan ajaran moral untuk mencapai surga. Ajaran pancasila adalah merupakan lima aturan atau larangan, yang harus ditaati dan di jalankan oleh para penganutnya, yakni ajaran moral untuk: Panatipada veramani sikhapadam samadiyani, artinya “Jangan mencabut nyawa makhlum hidup” atau dilarang membunuh. Dinna dana veramani shikapadam samadiyani, artinya “Jangan mengambil barang yang tidak diberikan.” Maksudnya dilarang mencuri. Kameshu micchacara veramani shikapadam samadiyani, artinya “Jangan berbuat zina”. Musawada veramani shikapadam samadiyani, artinya “Jangan berkata bohong atau dilarang berdusta”.
Sura merayu masjja pamada tikana veramani, artinya “Janganlah minum-minuman yang memabukkan”.

Artinya sejak lampau (awal pembangunan peradaban) nenek moyang kita  dalam membangun Negara Bangsa sudah bersendi Kerta (Adat istiadat) dan Gama (Agama).

Namun sejak Sukarno di kudeta, warna dan fotret kesejarahan kita sebagai peradaban besar terus teradegradasi.
Tutur-tutur sejarah tentang kebesaran  Seriwijaya dan Majapahit tampaknya sudah mulai hilang dari ingatan.

Apalah lagi kita akan ingat akar  yang tergambar dalam sejarah dan babat pewayangan yang menggambarkan kita sebagai Bangsa besar;

“Hapasir hawukir ngadep segara kang bebandaran, hanengaka pasibinan. Bebek ajam radjakaya, endjang medal ing pangonan, surup bali ing kandhange dhewe-dhewe. Wong kang lumaku dagang rinten dalu tan wonten pedote, labet saking tan wonten sangsajaning margi”, yang bermakna negaranya penuh dengan bandar-bandar, sawah-sawah, dan begitu makmurnya hingga tidak ada pencuri. Itik, ayam ternak pagi-pagi keluar sendiri ke tempat angon, menjelang petang pulang sendiri kekadangnya. Orang berjalan dagang siang dan malam tidak ada putusnya, karna tidak ada gangguan di jalan.*

Negaranya “tata tentrem, kerta raharja, gemah ripah loh jinawi” negaranya adalah teratur, tentram, tanahnya subur, orang bekerja aman karna orangnya ramah ramah dan penuh kekeluargaan.

Inilah yang menjadi spirit kepemimpinan jokowi, revolusi mental terlihat menjadi pijakan beliau dalam menata manusia Indonesia menjadi masyrakat pekerja.  Terlihat betapa Jokowi sadar pembangunan yang baik ketika pembangunan manusia (carakter building) seayun dan selengkah dengan pembangunan fisik,  imfrastrukturpun di bangun secara besar besaran.

Penyedian imfrastruktur pertanian seperti bendungan-bendungan dan saluran irigasi, pembangunan pembangkit listrik sekala mega what (besar-besaran), pembangunan jalan tol dan jalan pedesaan, pembangunan rumah bersubsidi untuk rakyat, adalah cermin terang akan ihtiar Jokowi akan mengembalikan kesejerahan kita sebagai bangsa besar dan beradab.

Ihtiar jokowi ini bukanlah tanpa ujian, kekinian badai dan gelombang mewarnai gerak kita sebagai bangsa yang lagi berbenah, badai dan gelombang muncul  seabagai akibat dari turbulensi pertarungan kaum Nasionalis PS imprialisme.

Sejak ordebaru berkuasa, liberalisasi sumber sumber kehidupan kita sebagai bangsa menjadi kesalahan sejarah orde baru itu sendiri. Perut bumi kita di keruk habis habisan baik itu di sektor pertambangan mineral dan batu bara, maupun hasil hutan kita. 32 tahun orde baru berkuasa, 32 tahun pula imprialisme barat hidup enak dan terlanjur menikmati kita sebagai bangsa melalui korporasinya, hingga enggan untuk enyah dari bumi nusantara ini.

Akibatnya hari ini imprialisme barat menyulut isu-isu sara, ujaran kebencian antara sesama anak bangsa, berita bohong (hoax)adalah senjata mereka dalam perang dingin ini, perang untuk melakukan penjajahan secara ekonomi politik atau kita sering sebut neolibralisme (neolib).

Tanpaknya Politik  devide et impera, politik pecah belah masih belum bergeser menjadi taktik imprialisme barat di negara-negara target neolibralisme. Sesama anak bangsa Terlebih dahulu di adu domba, _berkacalah pada cermin buram negara negara di timur tengah yang lagi berkonflik, yang hampir tiap hari ada darah yang mengalir, anak-anak dan perempuan tidak menemukan sejengkal tempat yang aman.

Untuk itulah patriotik rasanya jika seluruh rakyat Indonesia, melihat ancaman besar ini, untuk mawas diri sebagai Negara Bangsa jika imprialisme terus berusaha membajak pemilu kita lewat membuka-kan kran ekonomi politik kaum radikalis. Penyesalan selalu datang di kemudian hari kata Dilan, untuk itulah kita harus membuka mata, melihat kepemimpinan jokowi sebagai pase perang dingin perebutan kembali kedaulatan Negara kita, melihat dengan sebening embun di pagi hari Jokowilah yang terlihat nyata berani berhadap-hadapan dengan Imprialisme AS.

Hingga tidak ada alasan bagi kita rakyat Indonesia untuk tidak membangun persatuan Indonesia (nasional)untuk meyudahi riak riak perpecahan akibat turbulensi yang menguat dalam pilpres 2019 ini dan segera mengembalikan akar sejarah kita sebagai bangsa besar dan beradap, Negara yang bersendi Kerta dan Gama, serta  menjemput takdir sebagai masyrakat adil dan makmur.

*Penulis Adalah Eksekutive For One Milleneal (F1M) NTB,  Aktivis Lembaga Advokasi Rakyat untuk Demokrasi (LARD) NTB, dan Aktivis Jaringan Kemandirian Nasional (JAMAN)

Comments

comments