Libatkan Dewan Di Sidang WHA, Komisi IX Puji Langkah Menkes

0
90
Anggota Komisi IX DPR RI Hj Ermalena
Foto : Anggota Komisi IX DPR RI Hj Ermalena saat menghadiri pertemuan World Health Assembly (WHA) ke-72 di Jenewa, Swiss (MetroNTB/Dokumen)

Mataram, MetroNTB.com – Dalam pertemuan World Health Assembly (WHA) ke-72 di Jenewa, Swiss, Anggota Komisi IX DPR RI Hj Ermalena mengatakan bahwa pertemuan yang membahas Universal Health Coverage (UHC) sangat menarik.

Dalam pertemuan tersebut, dibahas tiga 3 indikator yang digunakan untuk mengukur UHC, yaitu pertama cakupan kepesertaan yang diharapkan bisa mengkover seluruh masyarakat.

Kedua tentang fasilitas kesehatan. Beberapa negara menghitung rasio ketersediaan fasilitas kesehatan yang bisa melayani masyarakat. Ketiga adalah kesiapan negara untuk menyiapkan anggaran.

“Ketiga hal ini yang perlu kita lihat ke dalam, apakah Indonesia sudah siap. Kita lihat ada perbedaan di Indonesia bagian Barat dan Indonesia bagian Timur dari demografi dan jumlah penduduknya,” ujar Ermalena melalui keterangan tertulis yang diterima media ini

Ia menilai Indonesia sudah bergerak cepat dalam jaminan kesehatan bagi warganya.

“Sejak 2014 kita sudah baik, sementara negara lain ada yang sudah puluhan tahun mengurus jaminan kesehatannya masih membenahi sistemnya,” kata Ermalena

Meski demikian, politisi PPP itu mengakui bahwa fasilitas kesehatan Indonesia belum cukup. Oleh karenanya sistem rujukan berjenjang menjadi alternatif, meskipun banyak pihak yang tidak senang karena harus mulai dari pelayanan primer, RS tipe D, dan seterusnya.

“Tapi ini adalah sebuah cara untuk mendistribusikan mereka yang sakit. Sekarang sudah ada Puskesmas rawat inap. Masyarakat tidak bisa langsung ke RS yang tipenya lebih tinggi. Indikasi medis bukan ditentukan oleh pasien, tetapi oleh tenaga kesehatan,” tuturnya

Mengingat pentingnya jaminan kesehatan ini, DPR menurut Ermalena, ingin tetap mempertahannya dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Foto : Anggota Komisi IX DPR RI Ermalena (MetroNTB/Dokumen)

“Yang kurang akan kita perbaiki, yang bagus harus dipertahankan, karena yang menerima manfaat adalah kita semua,” sambungnya

Soal pelayanan kesehatan Lansia (senior citizen) menjadi perhatian Ermalina, karena umur harapan hidup penduduk Indonesia saat ini cukup tinggi.

Ia menyontohkan apa yang sudah dilakukan Jepang dimana para Lansia yang masih aktif dan produktif, tidak menjadi beban bagi negara maupun keluarga dan dapat menghidupi diri sendiri.

“Masalahnya adalah adanya orang tua yang hidup lama dan tidak produktif lagi dan harus dipenuhi pelayanan kesehatannya, akan jadi PR besar. Indonesia akan sampai ke situ,” terangnya

Secara keseluruhan, Ermalena menegaskan bahwa dengan pertemuan ini Indonesia dapat belajar dari negara-negara yang sudah baik, termasuk dari negara yang memiliki banyak tantangan.

“Kita bisa melihat komitmen negara terhadap rakyatnya,” tegasnya

Selain itu, pendidikan dan pengetahuan masyarakat sangat menentukan pelayanan kesehatan. Ketika seseorang memahami bahwa kesehatan itu sangat mahal dan sangat penting, maka ia akan mempertahankan kesehatannya, pemerintah sesungguhnya sudah punya Germas.

Ermalena memuji Menteri Kesehatan (Menkes) dan tim di WHA ke 72 yang telah menyertakan Dewan dalam kegiatan ini.

“Kehadiran kita diperlukan dalam acara ini. Sehingga dewan dapat mendengar bahwa negara lain punya masalah tetapi negara lain ada pula yang sukses. Kita bisa saling belajar,” pungkasnya (red)

Comments

comments