Sebanyak 249 Warga NTB Terkena DBD, 4 Meninggal Dunia

0
97
Keterangan Foto : Kepala Dinas Kesehatan Nusa Tenggara Barat (NTB) dr. Nurhandini Eka Dewi (MetroNTB/Man)

Mataram, MetroNTB.com – Kepala Dinas Kesehatan Nusa Tenggara Barat (NTB) dr Nurhandini Eka Dewi mengatakan sebanyak 249 warga NTB dinyatakan positif terjangkit demam berdarah dengue (DBD) pada periode awal Januari hingga saat ini.

“Jumlah warga yang diduga DBD tentu lebih besar dari angka 249, meski dia belum mengetahui angka pastinya,” ujarnya, Jum’at (8/2)

Eka mencontohkan, Kabupaten Lombok Barat dinyatakan sebagai wilayah paling tinggi.

“Dari 105 warga Lombok Barat yang //suspect// DBD, 73 di antaranya dinyatakan positif DBD,” katanya

Eka menyebutkan, dari kasus DBD pada Januari hingga saat ini, total korban meninggal dunia akibat DBD sebanyak empat orang, dengan rincian dua warga Dompu dan dua warga Bima.

“Kasus DBD yang terjadi di Indonesia, termasuk NTB, merupakan puncak dari siklus sepuluh tahunan,” terangnya

Eka mengajak masyarakat selalu menjaga kebersihan dengan tiga M plus yang meliputi membersihkan tempat yang sering dijadikan tempat penampungan air seperti bak mandi, ember air, tempat penampungan air minum, penampung air lemari es dan lain-lain; menutup, yaitu menutup rapat-rapat tempat-tempat penampungan air seperti drum, kendi, toren air, dan memanfaatkan kembali atau mendaur ulang barang bekas yang memiliki potensi untuk jadi tempat perkembangbiakan nyamuk penular DBD.

“Angka kasus DBD di NTB terus menurun dari tahun ke tahun,” kata Eka

Pada 2018, lanjutnya, hanya ada 827 warga yang dinyatakan positif atau angka terendah dalam lima tahun terakhir.

“Pada 2016, jumlah warga NTB yang positif DBD sempat mencapai 3 ribu orang,” cetus Eka

Pemberitahuan Bawaslu

“Kami minta masyarakat kalau merasa gejala panas tinggi mendadak segera memeriksakan diri dan perbanyak minum air, kecuali kopi dan soda,” imbuhnya

Kata Eka, sebanyak 54 persen penduduk NTB sudah terdaftar sebagai anggota BPJS sehingga bisa menggunakannya untuk periksa saat menemui gejala DBD.

Selain melakukan fogging di wilayah yang terkena DBD dan wilayah rawan DBD, Dinas Kesehatan NTB juga telah bersurat ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) NTB dan kabupaten kota yang ada di NTB dan Kantor Wilayah Kementerian Agama NTB untuk menggencarkan program pemberantasan sarang nyamuk (PSN) di sekolah-sekolah maupun pondok pesantren.

“Kami bersurat ke Dikbud dan Kemenag karena nyamuk biasanya menggigit pukul 10.00 sampai 11.00 WITA saat anak-anak di sekolah, kami minta program PSN digalakan di sekolah-sekolah,” tandasnya

Sementara, Direktur Utama RSUD NTB Lalu Hamzi Fikri mengatakan hingga saat ini RSUD NTB belum menerima pasien DBD.

“Penanganan kasus DBD masih bisa ditangani pemerintah kabupaten dan kota di NTB, termasuk RSUD yang ada di kabupaten dan kota,” tuturnya

“Sampai sekarang belum ada catatan yang masuk ke kita, biasanya pasien yang dirujuk ke kita sudah complicated dan perlu penanganan ICU,” kata Hamzi.

Kendati begitu, RSUD NTB selalu siap menerima rujukan pasien DBD dari kabupaten dan kota jika diperlukan. Hamzi mengimbau masyarakat untuk mewaspadai perubahan kondisi tubuh untuk antisipasi terjangkit DBD.

“Sampai saat ini rujukan ke kita belum ada, biasanya pasien awal ditangani kabupaten dan kota, kalau engak mampu ditangani baru ke kita,” kata Hamzi menambahkan. (Red)

Comments

comments