Ermalena Ajak Masyarakat Tak Mudah Terpropokasi

0
299
Suasana masyarakat saat menerima materi Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan bersama Dra.Hj.Ermalena,MHS di Lombok Timur (19/01/19).

Dra.Hj.Ermalena mengajak semua elemen maayarakat untuk tidak mudah terpropokasi oleh hal-hal yang bisa menyebabkan Negara Nesatuan Republik Indonesia hancur atau terpecah belah, lebih-lebih informasinya diketahui melalui media sosial. Hal ini disampaikan Anggota DPR RI Dapil NTB yang juga Wakil Ketua Komosi IX, Dra. Hj. Ermalena MHS, kembali menggelar kegiatan Sosialisasi Empat Pilar kebangsaan MPR RI Di Ponpes Riyadul Falah Desa Aikprapa Kec. Aikmel Lotim (19/01/2019).

Kegiatan tersebut dihadiri oleh perwakilan tokoh masyarakat dari unsur Nahdlatul Ulama beserta Badan Otonom NU Lombok Timur, diantaranya IPNU,IPPNU,Ansor, Muslimat dan Fatayat NU Lombok Timur,  tokoh agama, dan tokoh pemuda Kecamatan Aikmel Kabupaten Lombok Timur.

Seperti diketahui, Empat Pilar MPR RI merupakan empat hal yang perlu menjadi sandaran dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Empat Pilar MPR itu terdiri dari Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika.

Pancasila merupakan elemen yang menjadi ideologi bangsa Indonesia. Ideologi Pancasila lahir dari kesepakatan seluruh rakyat Indonesia. Pancasila merupakan dasar dalam pembentukan dan penegakan negara Indonesia yang digali kembali dari nilai-nilai luhur bangsa yang sudah tumbuh di tengah masyarakat kita. Oleh para pendiri bangsa Indonesia, Pancasila kemudian dirumuskan dalam bentuknya yang seperti kita kenal sekarang.

Sementara itu, UUD Tahun 1945, atau disingkat UUD 1945 atau UUD ’45, merupakan bentuk hukum dasar tertulis. UUD 45 adalah konstitusi yang menjadi muasal berbagai aturan hukum di negara Republik Indonesia. UUD 1945 disahkan sebagai undang-undang dasar negara oleh PPKI pada tanggal 18 Agustus 1945.

Adapun Negara Kesatuan Republik Indonesia atau NKRI merupakan bentuk negara Indonesia saat ini. Bentuk negara kita ini disebutkan secara tegas dalam Pasal 1 Ayat 1, UUD 45 yang berbunyi sebagai berikut.
“Negara Indonesia ialah Negara Kesatuan yang berbentuk Republik,”ungkapnya.

Ermalena mengajak kepada seluruh jamaah Nahdiyin yang hadir untuk betul-betul terlibat mensosialisasikan di tengah-tengah masyarakat nantinya. Agar mereka paham dan tidak mudah terjerumus oleh paham-paham agama lainnya, apalagi paham khilafah yang hari ini berkembang.

“Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah-daerah provinsi dan daerah provinsi itu dibagi atas kota dan kabupaten, yang tiap-tiap kota, kabupaten dan provinsi itu mempunyai pemerintahan daerah yang diatur dengan undang-undang”terangnya.

Pilar keempat, yaitu Bhinneka Tunggal Ika, adalah moto, atau slogan hidup masyarakat Indonesia. Slogan ini lahir dari fakta bahwa masyarakat Indonesia memiliki tingkat keberagaman yang sangat tinggi. Mulai dari suku, agama, ras, dan golongan.

Bhinneka Tunggal Ika diabadikan pada lambang negara Indonesia, yaitu Garuda Pancasila. Frasa ini berasal dari bahasa Jawa Kuno yang artinya adalah “Berbeda-beda tetapi tetap satu,”tegasnya.

“Bhineka Tunggal Ika dan sikap saling menghargai harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari kita di masayarakat. Dan harus mengikuti segala bentuk aturan negara yang ada dan tentunya cinta NKRI,”ulas Ermalena.

“Mari kita semua sama-sama menjaga kerukunan khususnya di Lombok Timur, kita harus damai dan tidak mudah terpropokasi oleh berita-berita yang tidak benar,”tutup Ermalena.

Comments

comments