Hari ini, Imigrasi Mataram Deportasi Empat WNA Asal Cina

0
460
Keterangan Foto : Kepala Seksi Inteldakim Kantor Imigrasi Kelas I Mataram Yusriansyah Fazrin (dua dari kiri) saat pres rilis di Kantor Imigrasi Kelas I Mataram 23 Januari 2019 (MetroNTB/Man)

Mataram, MetroNTB.com – Kantor Imigrasi Kelas I Mataram melakukan pendeportasian kepada empat warga negara asing (WNA) asal Cina, Rabu (23/1).

Kepala Seksi Inteldakim Kantor Imigrasi Kelas I Mataram Yusriansyah Fazrin mengatakan, keempat WNA Cina itu terdiri atas tiga pria yakni JZ (40), SZ (32), dan SZ (61), serta seorang perempuan berinisial MX (38).

“Tiga pria Cina tersebut masuk ke Indonesia dengan menggunakan bebas visa kunjungan (BVK) pada 28 Desember 2018, sedangkan MX datang ke Indonesia dengan BVK pada 18 Desember,” ujarnya

Yusriansyah menyampaikan, keempatnya diamankan pada saat operasi gabungan pada 8 Januari 2019 di Dusun Tibu Lilin, Desa Labuan Tereng, Kecamatan Lembar, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB).

“Empat WNA Cina tersebut melalukan kegiatan tidak sssuai maksud izin tinggal yang diberikan. Kami temukan mereka sedang membuat tungku pembakaran arang putih,” terangnya

Dalam kegiatannya, dua orang yakni SZ dan JZ bertindak sebagai kuli bangunan, sedangkan SZ dan MX menjadi juru masak untuk konsumsi sehari-hari.

Dijelaskannya, tim gabungan menemukan satu tungku pembakaran arang yang sudah siap pakai dan dua tungku pembakaran arang masih baru setengah jadi.

“Tungku pembakaran arang dibuat secara konvensional, menggunakan bata merah dibangun melingkar dengan adukan semen,” tutur Yusriansyah

Ditambahkannya, empat WNA Cina dinilai telah melanggar pasal 122 huruf a Jo pasal 75 ayat 1 UU nomor 12 tahun 2011 tentang keimigrasian.

Atas pelanggaran tersebut, Kantor Imigrasi Kelas I Mataram telah melakukan pendetensian terhadap keempat WNA Cina tersebut di ruang detensi Kantor Imigrasi Kelas I Mataram sejak 8 Januari hingga saat ini.

“Kita akan melakukan pendeportasian terhadap keempat WNA tersebut pada hari ini melalui Bandara Internasional Soekarno-Hatta,” pungkasnya (Mn/M1)

Comments

comments