Melihat Toleransi dan Harmoni Umat Beragama di Kota Chengdu Cina

0
529
Keterangan Foto : Rombongan UNU bersama PWNU NTB saat berkunjung ke Universitas Hainan Cina (MetroNTB/Dikomentari UNU)

Mataram, MetroNTB.com – Rektor UNU NTB, Baiq Mulianah menyebutkan meski minoritas, penduduk muslim di Provinsi Sichuan, China masih bisa beribadah menjalankan syariat agama dengan aman dan nyaman.

Selama tidak mengganggu ketertiban umum dan kepentingan negara, seluruh umat beragama di China bebas menjalankan keyakinan beragama mereka.

Geliat Islami cukup terasa di Kota Chengdu, ibukota Provinsi Sichuan. Seperti yang dirasakan rombongan Universitas Nahdlathul Ulama Provinsi Nusa Tenggara Barat UNU dan PWNU NTB, saat berkunjung ke Sichuan, China,
pertengahan Desember 2018.

“Ternyata kami tidak sulit untuk menunaikan sholat di Sichuan, karena ada Masjid cukup besar di Kota Chengdu,” ujar Mulianah saat menceritakan pengalamannya belum lama ini

Masjid Huangcheng terletak di pusat Kota Chengdu. Di dekatnya ada Tian fu Square, pusat perbelanjaan terkemuka, lapangan alun-alun kota tak jauh dari patung raksasa Mao Zedong, tokoh pendiri Republik Rakyat China.

Konon nama masjid Huangcheng yang berarti Pagar Istana, diambil karena Masjid berada di lingkar istana kuno zaman dulu.

Baiq Mulianah mengaku takjub dengan toleransi dan harmoni masyarakat di Kota Chengdu.

“Kota ini berpenduduk 14 juta jiwa, dan penduduk muslim hanya 2 ribu jiwa. Namun sebagai minoritas, muslim di sini bebas melaksanakan kegiatan ibadah, interaksi sosial bahkan juga aktivitas perekonomian.
Tidak ada diskriminasi,” katanya

Mengunjungi Masjid Huangcheng, Mulianah bersama rombongan sempat berbincang dengan pengurus masjid dan masyarakat muslim di sana.

Menurut warga Muslim di sana, mereka hidup, beraktivitas, dan melaksanakan ibadah dengan nyaman dan baik-baik saja di Chengdu.

“Malah pengurus Masjid Huangcheng bilang bahwa Masjid Huangcheng juga dengan biaya pemerintah (China). Dia bilang, umat agama apa
pun di China tidak ada diskriminasi. Selama mereka tidak mengganggu kepentingan umum dan negara, maka keamanan dan kenyamanan mereka dijamin negara,” ucap Mulianah mengutip pengakuan masyarakat muslim
di Chengdu.

Bangunan Masjid Huangcheng Chengdu cukup besar sekitar 7 are. Sementara halamannya sangat luas mencapai 1 hektare. Masjid yang berusia ratusan tahun ini digunakan oleh lebih dari 2000 penduduk muslim di Chengdu.

Menurut Mulianah, pemerintah China memang melarang pendidikan keagamaan masuk dalam kurikulum pendidikan nasional, namun setiap
warga negaranya tetap bebas menganut dan menjalankan agama dan kepercayaan masing-masing.

“Saya tanya ke masyarakat, mereka bilang kalau mau belajar agama di sekolah-sekolah nggak ada. Semua agama, mau Islam, Kristen, Budha,
Hindu, nggak boleh masuk kurikulum. Tapi pemerintah menyerahkan urusan agama itu ke urusan keluarga masing-masing,” terangnya

Chendu menjadi Kota paling maju di China saat ini. Sejumlah destinasi wisata juga banyak tersedia di Kota ini. Menariknya, Chengdu bagaikan perpaduan lintasan dua zaman, kuno dan modern kekinian.

Diungkapkannya, bagi traveler muslim, termasuk pelancong dari Malaysia dan
Indonesia, tidak terlampau sulit menemukan restauran atau warung makan halal di kota ini.

Di sekitar Masjid Huangcheng sejumlah restaurant dan warung halal tersedia, yang dikelola warga muslim setempat.

Harmoni dan toleransi antar umat beragama nampak menjadi budaya yang sudah sangat mengakar di Chengdu. Di perkampungan muslim sekitar Masjid Chengdu, banyak juga penduduk lokal yang berhijab.

“Mereka juga sangat respek pada tamu. Tanpa kita memberi tahu bahwa kita muslim, mereka bisa melihat dari aksesoris yang kita pakai. Satu
ketika ada warga melintas membawa ternak Babi, itu dia langsung bergegas agar ternaknya berlalu, dan kemudian dia minta maaf pada
(rombongan) kami. Ini yang saya rasa luar biasa,” urai Mulianah (*)

Comments

comments