Kadis Perdagangan NTB Tinjau Lokasi Pembenihan Udang Di KLU

0
680
Keterangan Foto : Kepala Dinas Perdagangan NTB, Hj Putu Selly Andayani meninjau lokasi Breeding (pembenihan induk dan nenur) Udang Vannamei (Litopenaeus vannamei) PT Bibit Unggul,  di Dusun Montong Pal Desa Rempek Kecamatan Gangga Lombok Utara (MetroNTB/Dokumen Dinas Perdagangan)

Lombok Utara, MetroNTB.com – Kepala Dinas Perdagangan NTB, Hj Putu Selly Andayani didampingi oleh Plt Kepala Bidang Perdagangan Luar Negeri Rachmat Wira Putra beserta staf dan Personel Ditintelkam Polda NTB meninjau lokasi Breeding (pembenihan induk dan nenur) Udang Vannamei (Litopenaeus vannamei) PT Bibit Unggul,  di Dusun Montong Pal Desa Rempek Kecamatan Gangga Lombok Utara, Jum’at

Peninjauan dilakukan untuk mengecek perkembangan operasional perusahaan ekspor Induk Udang Vannamei tersebut pasca gempa bumi Lombok.

Manager Produksi PT Bibit Unggul Sukmara mengatakan bahwa untuk operasional perusahaan pasca gempa bumi Lombok sudah mulai, walaupun harus dari awal lagi karena akibat gempa fasilitas yang dimiliki rusak berat dan bibit udang yang ada mati semua.

“Sehingga untuk tahap awal telur Udang Vannamei diimpor dari Hawai dan California Amerika Serikat. Untuk Pakan juga berasal dari Impor, yaitu dari laut dalam California Amerika Serikat, karena di Laut Indonesia dikhawatirkan akan tercemar,” ujar Sukmara saat menerima Kadis Perdagangan bersama rombongan

Ia menjelaskan, PT Bibit Unggul merupakan Perusahaan Breeding pertama di Asia yang telah memiliki sertifikat induk unggul untuk Induk Litopenaeus vannamei dengan nama “Global Gen”, karena menunjukan pertumbuhan yang cepat dan bebas terhadap virus seperti TSV, WSSV, IHHNV, NHP, BP, MBV, IMNV HPV DAN YHV.

“Untuk saat ini hanya ada 3 (tiga) Perusahaan Breeding di Indonesia yaitu 2 (dua) di Sumatera dan 1 (satu) di Lombok,” terang Sukrama

Perusahaan ini berdiri di atas lahan seluas 6 (enam) Hektar (Lahan milik perusahaan), dengan jumlah karyawan sekitar 40 orang, sebagian besar dari masyarakat sekitar dan perusahaan juga secara rutin memberikan bantuan kepada masyarakat sekitar.

“Target perusahaan hanya untuk ekspor dan telah realisasi ke beberapa Negara yaitu Cina, India, Vietnam, Kuwait dan Mesir. Sedangkan untuk lokal hanya untuk group sendiri yang biasanya dikrim ke Medan dan Rembang sekitar 20 s.d 50 box,” sambungnya

Dikatakannya, sekali panen biasanya sekitar 200 box. 1 box isi 2 kantong, 1 kantong berisi 5 ekor induk udang sehingga 1 box berisi 10 ekor induk udang, dengan harga 40 USD  per ekor Rp. 576.000,- per ekor untuk Kurs Rp. 14.400,- per USD.

“Untuk 1 ekor Induk Udang Vannamei ini di lokasi hatchery bisa menghasilkan 2 Juta bibit udang, dengan harga Rp. 40,- per ekor, sehingga harga 40 USD per ekor Induk masih terbilang murah,” jelas Sukrama

Ditambahkannya, ekspor perdana pasca gempa baru akan dilakukan ke Negara Cina sekitar akhir bulan Februari atau awal Maret 2019, dengan jumlah sekitar 400 box, 2 kali panen dengan selang sehari.

“Untuk ekspor sampai di lokasi tujuan Induk Udang tidak boleh mati, sehingga maksimal waktu pengiriman sekitar 40 Jam, dengan masa hidup udang sekitar 11 bulan. Ekspor Induk Udang Vannamei dikirim melalui Bali dengan dokumen ekspor dari NTB, karena belum bisa melalui BIL,” katanya

Sementara, Kepala Dinas Perdagangan NTB Hj Putu Selly mengatakan bahwa untuk ekspor perdana induk Udang Vannamei akan diupayakan bisa dihadiri oleh Bapak Gubernur NTB.

“Beliau sangat atensi dengan usaha-usaha pengembangan ekspor dan pemberdayaan masyarakat,” tuturnya

“Hal ini juga, untuk menunjukan bahwa pasca gempa bumi Lombok sektor ekspor NTB sudah mulai bangkit,” pungkas Selly (Mn/Mn)

Comments

comments