Tahun 2019, Dispar Optimis Kunjungan Wisatawan Ke NTB Mencapai 4 Juta

0
231
Keterangan Foto : Kepala Dinas Pariwisata NTB, Lalu Mohammad Faozal (MetroNTB/Man)

Mataram, MetroNTB.com – Tahun 2019, Pemerintah Provinsi NTB menargetkan kunjungan wisatawan sebanyak 4 juta orang. Dinas Pariwisata NTB Lalu Mohammad Faozal optimis angka kunjungan wisatawan ke NTB di tahun 2019 akan kembali normal.

“Kami optimis target tersebut akan tercapai, apalagi saat kita sudah bertemu dengan maskapai, mereka berkomitmen mengembalikan penerbangan yang sudah ada, juga akan ada rute-rute baru yang dibuka. Sembari kita juga melakukan pembenahan di beberap destinasi yang terdampak gempa,” ujar Faozal, Sabtu

Ia menjelaskan, saat ini pariwisata NTB sedang masuk dalam proses pemulihan (recovery) yang dimulai sejak September 2018. Dalam masa itu, NTB mendapat dukungan Kementerian Pariwisata (Kemenpar) melalui pembentukan tim Tourism Crisis Center (TCC) untuk melakukan promosi ke sejumlah pasar baik dalam negeri maupun luar negeri.

“Memang hasilnya belum bisa kita ukur sekarang. Tapi di beberapa destinasi kunjungan wisatawan sudah kembali normal, seperti di kawasan tiga Gili (Trawangan, Air dan Meno) dan kota Mataram,” jelas Faozal.

Selain itu, pada 2019 ini pihaknya juga berusaha mengembalikan penerbangan langsung luar negeri, khususnya Malaysia dan Singapura yang selama ini dilayani AirAsia dan Silk Air.

“Kenapa Malaysia dan Singapura, karena memang dua negara ini menjadi hub kita untuk wisatawan macanegara. Mudah-mudahan Februari semua bisa kembali normal untuk AirAsia,” katanya

Faozal juga mengakui bahwa jumlah kunjungan wisatawan ke daerah itu selama 2018 turun menjadi 2,8 juta orang dari target 3,5 juta orang.

“Jujur harus kami sampaikan angka kunjungan turun menjadi 2,8 juta. Wisatawan yang terdiri atas 1 juta wisatawan mancanegara dan 1,8 juta wisatawan nusantara,” ucapnya

Ditambahkan, penurunan angka kunjungan wisatawan paling dirasakan sejak NTB dilanda gempa pada akhir Juli hingga Agustus, sehingga dampaknya berimbas hingga akhir 2018.

“Praktis sejak gempa pertama kali terjadi pada Juli itu, pariwisata kita mengalami krisis. Karena banyak destinasi, hotel yang ikut terdampak. Bahkan, sampai hari ini beberapa destinasi seperti Gunung Rinjani belum normal untuk pendakian,” kata Faozal menambahkan (Mn/Ar)

Comments

comments