Membanggakan, Penduduk Muslim Chengdu Cina Rata-Rata Kenal Gus Dur

0
299
Keterangan Foto : Rombongan UNU bersama PWNU NTB saat berkunjung ke Universitas Hainan Cina (MetroNTB/Dikomentari UNU)

Mataram, MetroNTB.com – Rektor UNU NTB, Baiq Mulianah mengungkapkan bahwa yang membanggakan di penduduk muslim di Chendu Cina rata-rata mengenal tokoh Indonesia, Presiden RI ke 4 KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur.

Ia menceritakan, seorang pengurus Masjid Huangcheng di Kota Chengdu, malah menunjukan kaos bergambar Gus Dur yang ia kenakan, pada rombongan UNU NTB.

“Dia bilang pernah juga bertemu dengan Gus Dur, waktu berkunjung ke Beijing saat Gus Dur masih menjabat Presiden,” kata Mulianah saat menceritakan pengalamannya saat berkunjung Desember 2018 lalu, Sabtu (5/2)

Menurutnya, potret toleransi beragama juga sangat terlihat di Kota Sanya, Provinsi Hainan, China. Kota wisata ini menjadi Kota kedua yang dikunjungi rombongan UNU NTB.

“Di Hainan tepatnya di Kota Sanya itu ada satu distrik yang penduduknya mayoritas Islam. Ada enam Masjid di sana dan semua menaranya pakai toa (pengeras suara) untuk kumandangkan adzan,” ungkap Mulianah

Jumlah penduduk muslim di Sanya tercatat lebih dari 20 ribu jiwa, dan mereka semua hidup dan bermasyarakat tanpa ada diskriminasi dari
pemerintah dan negara.

Mulianah mengatakan, Kota Sanya bisa dibilang Hawainya China. Kota ini berdiri di pulau tersendiri, yang kini tengah giat dipromosikan dengan konsep wisata moslem friendly.

“Kota ini sangat indah dan bersih. Kami banyak bertemu wisatawan muslim dari Malaysia dan Indonesia juga, ada rombongan dari Kediri (Jawa Timur). Kita juga sempat bertemu dengan wisatawan dari suku Uighur dan sempat berbincang juga,” tuturnya

Wisatawan Uighur, lanjutnya yang datang dari Provinsi Xinjiang saat itu berjumlah
25 orang, terdiri dari beberapa keluarga. Dalam perbincangan, mereka juga mengaku baik-baik saja.

“Saya tanya apakah mereka didiskriminasi?, dan mereka jawab kalau benar didiskriminasi tidak mungkin mereka bisa berwisata ke Sanya.
Mereka juga bilang sedang mempromosikan Xinjiang sebagai destinasi halal tourism,” papar Mulianah.

Menurut Mulianah, dari kunjungan rombongan UNU NTB ke dua kota di China itu, sama sekali tak nampak ada diskriminasi terhadap umat muslim di sana. Semua warga negara diperlakukan sama, selama mereka tidak mengganggu kepentingan umum dan tidak mengganggu negara, apapun agama dan kepercayaannya.

“Sesama masyarakat juga mereka harmonis dan toleran. Karena memang ternyata ada budaya di sana yang tertanam sejak kecil bahwa hidup dan tindakan jangan sampai merugikan orang lain,” cetusnya

Prinsip hidup dan tindakan jangan sampai merugikan orang lain, bahkan juga berlaku dalam kehidupan keseharian masyarakat di sana dalam hal kecil.

Misalnya, saat makan di restauran, masyarakat di sana harus on time, tepat waktu. Sebab jika lama dan menghabiskan waktu yang berlebihan,
maka orang lain yang hendak makan akan menunggu lebih lama.

“Itu kami rasakan di Sanya, sangat tertib dan on time. Jadi kalau sudah pesan jam 12 siang, maka harus on time, karena kalau lewat maka kita dianggap merugikan orang lain yang juga hendak makan setelahnya. Ini contoh kecil kan, tapi luar biasa,” pungkasnya

Mulianah dan rombongan UNU dan PWNU NTB berkesempatan berkunjung ke Provinsi Sichuan dan Provinsi Hainan di China, 16-24 Desember 2018 lalu, atas undangan Konjen China di Denpasar, Gao Haodong. (**)

Comments

comments