Belajar Dari Cina, Rektor UNU NTB : Penanganan Bencana Kuncinya Empati dan Mental Pejabat

0
293
Keterangan Foto : Rombongan UNU bersama PWNU NTB saat berkunjung ke Universitas Hainan Cina (MetroNTB/Dikomentari UNU)

Mataram, MetroNTB.com – Keluarga Besar UNU bersama PWNU NTB berkunjung ke Provinsi Sichuan dan Provinsi Hainan di China pada 16 hingga 24 Desember 2018 lalu. Kunjungan tersebut atas undangan Konjen China di Denpasar, Gao Haodong.

Rektor UNU NTB, Baiq Mulianah mengungkapkan pada akhir Agustus 2018 lalu, Konjen China di Denpasar, Gao Haodong bersama rombongan berkunjung ke Lombok untuk menyampaikan rasa empati dan bantuan untuk korban gempa bumi melalui Posko NU Peduli.

Saat itu, Haodong menyampaikan pemerintah dan masyarakat China bisa merasakan apa yang dirasakan masyarakat NTB yang dilanda bencana gempa bumi, karena China juga pernah merasakan bencana yang sama di Sichuan pada 2008 lalu.

“Beliau juga mengundang jajaran UNU NTB untuk berkunjung ke China dan melihat bagaimana Sichuan bisa bangkit kembali pasca bencana,” ujar Mulianah di ruangannya, Rabu (2/1)

Ia menceritakan, di China rombongan UNU dan PWNU NTB diterima jajaran pimpinan Universitas Sichuan, di Kota Chengdu, ibukota Sichuan, 17 Desember 2018 lalu oleh Rektor Universitas Sichuan, Prof Li Zhuyu, Kepala Prodi Manajemen Kebencanaan dan sejumlah jajaran Dekan. Mereka menjelaskan bagaimana Sichuan mampu segera bangkit setelah diterpa bencana dahsyat yaitu gempa bumi.

“Ternyata memang luar biasa. Shicuan bisa bangkit melakukan recovery, rekonstruksi hingga tahap pemulihan ekonomi tanpa uang dari pemerintah pusat. Mereka bangkit dengan bantuan Provinsi lainnya (yang tidak terdampak bencana),” kata Mulianah

Pasca bencana yang menelan lebih dari 14 ribu jiwa dan menghancurkan sebagian besar fasilitas publik di Sichuan, semua Provinsi di China bergerak membantu.

Polanya, lanjutnya tiap Provinsi menangani satu Kabupaten terdampak gempa di Sichuan, sementara tiap Kabupaten di Provinsi lain itu juga dibebani menangani satu Kecamatan terdampak di Kabupaten yang ada di Sichuan.

“Pola mereka ini menarik, jadi berangkat dari rasa empati. Dana tidak dari pusat tapi dari provinsi yang maju atau provinsi lain yang tidak
terdampak. Misalnya Guangdong, itu menangani Kota Cengdu ibukota Sichuan, kemudian kabupaten lain menangani Kecamatan terdampak, mereka bantu mulai tanggap daruratnya sampai recovery bahkan hingga pemulihan ekonominya,” terangnya

Menurut Mulianah, hal ini pun dilakukan dengan sangat serius dan bertanggung jawab. Pejabat-Pejabat Provinsi dan Kabupaten yang
bertanggungjawab menangani daerah terdampak bencana di Sichuan benar-benar turun ke lapangan dan mengawasi setiap perkembangan  yang dilakukan.

“Penanganan pasca bencana di sana sangat komprehensif, dan pejabatnya tidak saling menunggu. Apalagi pejabat yang membidangi tugas itu, mereka turun terus mengawasi,” tuturnya

Sebab bagi mereka, kata dia akan sangat malu jika tidak berhasil, karena ini menyangkut kehidupan dan nyawa manusia. Setiap dana yang digunakan harus jelas dan dapat dipertanggungjawabkan akuntabilitasnya.

“Saya lihat China itu sudah berhasil membangun karakter malu orang tidak berguna bagi negara. Dan ini saya dengan langsung dari
beberapa masyarakat yang kami temui disana. Baru saya dengar, mereka malu kalau tidak bisa berguna bagi negaranya. Ini karakter (kebangsaan) yang luar biasa,” katanya.

Selain kecepatan dalam penanganan pasca bencana, Provinsi Shicuan juga men potret bagaimana mitigasi bukan lagi sekadar wacana.

“Belajar dari pengalaman gempa bumi 2008 itu, sistem mitigasi bencana di sana terus diperkuat. Tujuannya tentu saja, agar jika bencana serupa terjadi, dampak korban jiwa dan kerusakan infrastruktur bisa semakin diminimalisir,” paparnya

Salah satu contohnya adalah pembangunan jalur-jalur evakuasi yang merata dilakukan hingga ke desa-desa terpencil sekalipun. Bangunan yang dibangun dalam tahap rekonstruksi pun harus dikaji secara teknis
dan ilmiah benar-benar bangunan yang kuat dan tahan gempa.

“Kami diajak melihat salah satu Desa tertua di Sichuan, itu desa terpencil dengan penduduk hanya 89 KK. Tapi aksesnya langsung jalan tol. Ada jalur evakuasi yang dibuat dengan terowongan sepanjang lebih dari 5 Km. Jadi di sana pemerintah sudah benar-benanr menyiapkan mitigasi, tidak ada lagi di Sichuan yang hanya satu jalur, selalu ada jalur alternatif dan jalur evakuasi, sehingga kalau ada bencana
terjadi proses evakuasi bisa lebih maksimal,” terang Mulianah

Yang lebih visioner, tambahnya Universitas Sichuan juga langsung membuka prodi Manajemen Kebencanaan, pasca gempa bumi 2008 silam. Prodi ini dibiayai komunitas olahraga berkuda di China, yang mendanai pembangunan kampus, penyediaan laboratorium dan kelengkapan prodi lainnya.

Universitas Sichuan juga membentuk kelompok mahasiswa yang bertugas melakukan workshop dan edukasi mitigasi bencana secara reguler hingga ke masyarakat pedesaan.

“Di sana juga ada SOP yang dibuat untuk penanganan bencana, jadi misalnya evakuasi berapa lama, tanggap darurat berapa lama, hingga masa pemulihan sampai benar-benar utuh. Dan SOP ini benar-benar dijalankan, pejabat di sana memberi contoh, dan di Sichuan ini kita bisa belajar bahwa Mitigasi di sana sudah benar-benar dilaksanakan secara nyata, bukan sekadar wacana,” kata dia

Baiq Mulianah juga mengatakan, dua pelajaran berarti dari Sichuan yang bisa dipetik juga untuk penanganan pasca bencana di NTB ini, adalah kuatnya rasa empati dan kebersamaan masyarakat China, dan juga mental pejabat, para pemangku kepentingan yang benar-benar bekerja tulus dan penuh tanggungjawab. (Mn/Ar)

Comments

comments