Ritual Bubur Beaq Desa Songak Lotim : Ini Tujuan dan Asal Usulnya

Foto : Ritual Bubur Beaq merupakan ritus yang rutin dilaksanakan masyarakat Desa Songak Kecamatan Sakra, di Masigit (Masjid,red) Bengan Desa setempat secara turun-temurun (MetroNTB/Peri)

 

Lombok Timur, MetroNTB –  Ritual Bubur Beaq merupakan ritus yang rutin dilaksanakan masyarakat Desa Songak Kecamatan Sakra, di Masigit (Masjid,red) Bengan Desa setempat secara turun-temurun.

Acara dilaksanakan oleh Lembaga Adat Darmajagat Desa songak setelah sebelumnya menggelar ritual Bubur Putiq.

Salah satu Tokoh Budaya Desa Songak, Murdiyah menjelaskan ritus Bubur Beaq merupakan warisan nenek moyang yang lahir dari kisah perjalanan Nabi. Ritual ini dilaksanakan setiap bulan Safar pada tahun Islam atau hijriyah.

“Asal-usul ritual Bubur Beaq dilaksanakan atas dasar keyakinan warga Desa Songak bahwa anak yang lahir pada bulan Safar akan dihantui rasa gundah, susah tidur, malas dan emosi yang tak terkontrol,” jelasnya

“Oleh sebab itu,  ritual Bubur Beaq diadakan sebagai obat bagi yang lahir pada bulan itu. rasa pengah itu tak akan berakhir sebelum melaksanakan ritual,” terang Murdiyah

Adapun ritual dalam ritus ini berupa dzikir dan do’a dengan dilengkapi dengan sesangan berupa bubur Beaq (merah,red) serta air kembang setaman.

Sangan, dalam ritual ini berupa bubur berwarna merah yang terbuat dari beras, ketan, gula merah serta bahan lainnya ini merupakan hal yang wajib dalam ritual tersebut.

Selain itu terdapat pula air dengan bunga setaman untuk diminum dan membasuh muka serta kepala.

Murdiyah menceritakan, tradisi Bubur Beaq ini sempat hilang di Masigit Bengan. Ritual tersebut dilaksanakan hanya di rumah-rumah warga. Baru di tahun 2000 ritus ini dilaksanakan kembali ketempat semula.

“Dalam tradisi apa pun di Desa Songak, masjid tua menjadi titik sentral pelaksanaan ritual. Seperti maulid adat, jleng minyak, Bejango, Bubur Putiq, Bubur Beaq, Neda, Mangkat dan Ritual yang lainnya,” paparnya

Kasi Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lotim, Khaliqi mengatakan, sesuai dengan Undang-Unang Nomor  5 tahun 2017, terdapat sepuluh pokok objek kebudayaan, salah satunya seperti ritual Bubur Beaq ini.

Khaliqi mengapresiasi pelaksanaan kegiatan Bubur Beaq. Ritus ini merupakan bagian dari upaya menghargai tokoh masa lalu.

“Kita telah banyak kehilangan jati diri dan identitas, dan adat luhur yang seharusnya sudah bisa dijalankan sesungguhnya,” sesalnya.

Khaliqi meyakini, media sosial dan pergaulan merupakan penyebab hilangnya jati diri dan identitas. Oleh sebab itu harus diantispasi dengan menghidupkan kembali ritua-ritus sesuai karakter lokal Gumi Sasak.

“Jadi apa yang telah kita lakukan, yang sdang, maupun yang akan kita lakukan sudah diakui oleh Undang-Undang,” kata dia

Menurut Khaliqi, bukti peninggalan sejarah serta ritus banyak dijumpai di Lombok Timur. Namun, karena kurangnya literasi berupa penulisan dan penceritaan, keberadaan hal tersebut kurang begitu diketahui seperti di daerah-daerah lain.

Dia meminta agar situs dan ritus desa setempat untuk segera ditulis agar keberadaannya diketahui publik. Dalam hal ini Pemerintah Desa dirasa mempunyai peranan penting untuk memfasilitasi kegiatan-kegiatan tersebut.

“Karena bagaimana pun keinginan kalau tidak ada dukungan Pemdes tentu akan mengalami kesulitan, karena rekomundasi juru pelihara dari Pemdes,” tutup Khaliqi (Per/Mn)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here