Kurikulum; Neoliberalisme Vs Idealisme Pendidikan

Foto : Penulis : Wifa Lutfiani Tsani, SH., MH (MetroNTB.com/Dok Pribadi)

Opini, MetroNTB.com – Kurikulum Pendidikan acapkali berubah seiring pergantian Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, setiap orang memiliki ide gagasan tersendiri yang menurutnya patut direalisasikan dan diimplementasikan pada dunia Pendidikan Indonesia. Secara hierarki, tentu sekolah sebagai Lembaga formal Pendidikan harus mengacu pada regulasi dan kurikulum yang dikeluarkan oleh pemerintah, mau tidak mau siswa pun wajib tunduk pada aturan yang kerap berubah tersebut.

Melalui beberapa program penilaian seperti PISA, AKSI, UNBK/USBN, TIMSS, PIRLS menunjukkan bahwa Pendidikan merupakan bagian vital yang menentukan keberhasilan suatu negara. Baik buruk naik turun suatu negara sangat ditentukan oleh pencapaian rakyatnya dalam bidang Pendidikan.

Menelisik capaian Pendidikan Indonesia, masyarakat kerap kali dibingungkan oleh produk kurikulum yang dikeluarkan pemerintah. Pun sebagian besar kausalitas degradasi Pendidikan adalah persoalan kurikulum itu sendiri, meski dalam hal ini tidak menutup kemungkinan banyak pula yang mendapat achievement bagus di bidang Pendidikan.

Berdasarkan penilaian PISA (Programe for International Student Assessment), Indonesia masih menempati peringkat bawah. Padahal dalam konteks global sistem Pendidikan Indonesia merupakan yang terbesar ke-4 setelah China, India, Amerika Serikat (sumber: OECD) bahkan didalamnya terdapat dua kementerian yang mengatur dan mengelola sistem Pendidikan Indonesia yakni Kementerian Agama (Kemenag) dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Berikut grafik Indonesia menurut penilian PISA :

Gambar 1.1 Nilai Peringkat PISA dari tahun ke tahun

Rendahnya peringkat Indonesia dalam penilaian PISA disebabkan oleh beberapa faktor baik faktor positif maupun negatif. Lebih lanjut, penulis akan memaparkan Pendidikan secara global terutama yang erat kaitannya dengan PISA, karena salah satu alasan perubahan kurikulum adalah sebagai cara Indonesia dalam merespon hasil penilaian PISA.

PISA berdasarkan historisitas, kajian ekonomi dan sosial memiliki keterikatan yang kuat dengan neoliberalisme. Yang mana, standarisasi didalamnya mendorong Indonesia untuk mengangkat peran kapitalis pada dunia Pendidikan yang kedepannya tentu berorientasi terhadap nilai jual pasar. Apabila Pendidikan sudah bersinggungan dengan neoliberalisme maka mau tidak mau sistem Pendidikan harus mengikuti keinginan pasar global dan jelas hal tersebut berpotensi pada kesenjangan antara kelas atas dan kelas bawah.

Berangkat dari kecenderungan neoliberalisme dalam PISA, Indonesia harus melakukan perubahan kurikulum sebagaimana tuntutan pasar. Dengan begitu produk Pendidikan hanya akan dijadikan sebagai gudang orang berpendidikan yang siap diserap oleh dunia industri. Pendidikan ini menjadi komersial serta kehilangan makna filosofis dan humanis. Apabila Indonesia secara patuh mengikuti arahan dari program tersebut, Indonesia akan mampu mengejar ketertinggalan di bidang Pendidikan dan dapat sejajar dengan negara-negara lain.

Namun, Ketika halnya Indonesia mempertahankan sikap idealismenya yakni menyeimbangkan sisi humanism dan  prinsip Pendidikan ; membimbing serta mendidik siswa agar menjadi pribadi yang cerdas, berpengetahuan tinggi, kreatif, inovatif, bertanggung jawab, dan siap masuk dalam kehidupan bermasyarakat” jelas akan sedikit lamban dalam mengejar Pendidikan negara lain. Tarik menarik antara keduanya menciptakan dilematisasi Pendidikan di Indonesia.

Berdasarkan jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, achievement Indonesia dalam kacamata PISA disikapi sebagai bagian kecil indikator keberhasilan Pendidikan, tidak periu dijadikan faktor dominan yang membawa arah kebijakan Pendidikan Indonesia. Banyak hal yang harus dijadikan dasar laju kembang penentuan sistem pendidikan bangsa seperti meminimalisir adanya kesenjangan melalui penyelarasan akses Pendidikan.

Idealisme yang diterapkan tidak hanya fokus pada tumbuh kembang sebuah Pendidikan, melainkan harus mampu membentuk karakter yang baik, meningkatkan kemampuan dasar, membentuk kehidupan sosial, sehingga menjunjung tinggi nilai manusia yang seutuhnya (red)

Penulis : Wifa Lutfiani Tsani, SH., MH

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here