Workshop Food and Beverage Budgeting Tahun 2022

Foto : President IFBEC NTB Sudirman Sahabudin, CHRM (MetroNTB/Ist)

Lombok Tengah, MetroNTB.com – Pandemi Covid-19 telah menghantam industri pariwisata dan ekonomi kreatif di Indonesia. Sejak Februari 2020 jumlah wisatawan mancanegara yang masuk ke Indonesia mengalami penurunan sangat drastis, dan puncaknya terjadi April 2020 dengan jumlah wisatawan hanya sebanyak 158 ribu, sesuai dengan data yang kami rangkum pada buku tren pariwisata 2021 yang diterbitkan oleh Kemenparekraf/Baparekraf.

Jika ditotal, sepanjang tahun 2020 jumlah wisatawan mancanegara yang masuk ke Indonesia hanya sekitar 4,052 juta orang. Bisa dibilang, angka tersebut sangat memprihatinkan, karena dari total tersebut hanya sekitar 25% dari jumlah wisatawan yang masuk ke Indonesia pada 2019.

Hal ini pun berdampak pada pendapatan negara di sektor pariwisata. Adanya pembatasan sosial berskala besar dan ditutupnya akses keluar-masuk Indonesia, menyebabkan penurunan pendapatan negara di sektor pariwisata sebesar Rp20,7 miliar!.

Pandemi COVID-19 juga berdampak langsung pada berbagai lapangan pekerjaan di sektor pariwisata. Menurut data BPS 2020, sekitar 409 ribu tenaga kerja di sektor pariwisata kehilangan pekerjaan akibat pandemi COVID-19.

Berbagai upaya dilakukan untuk menyelamatkan pariwisata Indonesia. Ada tiga fase “penyelamatan” yang dilakukan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf), yaitu Tanggap Darurat, Pemulihan, dan Normalisasi.

Fase Tanggap Darurat fokuskan pada kesehatan, seperti menginisiasi program perlindungan sosial, mendorong kreativitas dan produktivitas saat WFH, melakukan koordinasi krisis pariwisata dengan daerah pariwisata, serta melakukan persiapan pemulihan. Selanjutnya adalah fase Pemulihan, di mana dilakukan pembukaan secara bertahap tempat wisata di Indonesia.

Persiapannya sangat matang, mulai dari penerapan protokol CHSE (CleanlinessHealthySafety, and Environmental Sustainability) di tempat wisata, serta mendukung optimalisasi kegiatan MICE (MeetingIncentiveConvention, and Exhibition) di Indonesia.

Terakhir adalah fase Normalisasi, yaitu persiapan destinasi dengan protokol CHSE, meningkatkan minat pasar, hingga diskon untuk paket wisata dan MICE. Salah satu program yang telah dilaksanakan adalah Virtual Travel Fair sejak bulan Agustus-September 2020.

Pasca Pandemic Covid 19 Industri pariwisata semakin berkembang yang menuntut adanya suatu penciptaan suasana yang nyaman dari berbagai aspek untuk diberikan atau ditawarkan sebagai suatu produk kepada calon pelanggannya.

Secara umum, produk yang dijual oleh pihak manajemen hotel terdiri dari dua produk utama yaitu produk nyata (Tangible Product) seperti kamar hotel, restoran, spa, dan berbagai fasilitas hotel lainnya dan produk tidak nyata (Intangible Product) seperti kenyamanan, pelayanan, suasana dan lain sebagainya (Soekadijo, 1996:3).

Di dalam sebuah organisasi hotel bagian yang memberikan pelayanan makanan dan minuman dikenal dengan istilah Food and Beverage Service (FBS), yaitu salah satu bagian hotel yang bertanggung jawab dalam menyajikan makanan dan minuman kepada tamu secara profesional dengan tujuan mendapatkan income atau revenue dan profit.

Selain itu F&B Department ini merupakan bagian dari hotel yang mengurus dan bertanggung jawab terhadap kebutuhan pelayanan makanan dan minuman serta kebutuhan lain yang terkait, dari para tamu yang tinggal maupun yang tidak tinggal di hotel tersebut dan dikelola secara komersial serta professional.

Sehingga dapat dikatakan Food and Beverage service ini memegang peranan penting dalam suatu hotel, dampak baik dan buruknya hotel, populer dan tidaknya suatu hotel, juga dipengaruhi oleh Food and Beverage Service (FBS) karena selain FO bidang ini juga termasuk front liner disemua hotel seluruh dunia.

Dilihat dari fungsinya dapat disimpulkan bahwa Food and Beverage Department memiliki arti penting dalam kemajuan suatu hotel karena dapat menarik tamu dan menambah pemasukan bagi hotel.

Seiring dengan perkembangan zaman, Food and Beverage Department sebagai bagian yang menangani makanan dan minuman bagi para tamu juga menjadi penentu bagi sebuah hotel untuk dapat dikatagorikan sebagai hotel berbintang.

Semakin baik rasa dan kualitas makanan dan minuman yang dihidangkan maka semakin terangkat pula nama suatu hotel. Bahkan beberapa hotel berbintang dan bertaraf Internasional biasa mematok harga yang cukup tinggi untuk makanan dan minuman yang mereka tawarkan.

Hal ini membawa dampak positif bagi hotel dalam bidang pemasukan keuangan, karena hasil penjualan makanan dan minuman tersebut memberi banyak keuntungan bagi pemasukan keuangan hotel.

Atas pentingnya hal tersebut diatas maka IFBEC NTB akan melaksanakan agenda bergengsi yang belum semua hotel terbuka melaksanakanya, keunggualan dari kegiatan Workshop Food &Beverage Budgeting yang akan dilaksanakan pada tanggal 3 September 2022 dengan Narasumber yang sudah kompeten dibidangnya seperti Bpk. I Nyoman Gede Suasta, CHT (Vice Presedent IFBEC National) dan Bpk Ketut Darmayasa, MM., CHT., CRMH., CHPM., CPS. (President IFBEC Chapter Bali) yang berkolaborasi dengan akademisi dan sponsor yang berkaitan dengan makanan dan minuman.

Kegiatan ini diharapkan Selain memperluas Peluang Kerja juga mampu memebrikan peuang para Leaders di Industri pariwisata khususnya para Manager F&B di hotel, Akademisi dan Umum bisa mendapatkan Ilmu dan pengelaman tentang bagaimana system perencanaan dan pengelolaan Budget yang dibutuhkan di seluaruh jenis Property untuk kemajuan dan mmemperlancar system pelaporan keuangan di Industri Pariwisata (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here