TGH Ibnu Halil Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan di Lembaga Dakwah Wattabliq Bima

Foto : Lembaga Dakwah Wattabliq Bima (MetroNTB/Ist)

Bima, MetroNTB.com – Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Dapil Nusa Tenggara Barat (NTB) TGH Ibnu Halil melaksanakan sosialisasi empat pilar kebangsaan, di Lembaga Dakwah Wattabliq Desa Sangiang, Kecamatan Wera, Kabupaten Bima, Rabu 6 Juli 2022.

Sebagai anggota DPD RI sekaligus sebagai anggota MPR RI diamanah oleh undang-undang No 17 tahun 2014, undang-undang No 42 tahun 2014 tentang MD3, berkewajiban untuk mensosialisasikan empat pilar kebangsaan.

Tantangan dalam bernegara di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tidak pernah selesai. Bagaimana pun ketika ingin menghidupkan agama, beribadah, tentu membutuhkan situasi yang aman.

“Maka, agama dengan Negara, tanah air tidak bisa dipisahkan. Coba di beberapa tempat di Timur Tengah, mereka tidak bisa shalat dengan khusyu’ dan tenang, karena tidak aman, tidak nyaman, maka itu juga prinsip kita menciptakan suasana yang aman,” ujar Ibnu Halil dihadapan jama’ah tabliq yang hadir.

Ia menegaskan bahwa semua Negara punya dasar dan ideologi, kalok tidak punya dasar atau ideolog akan mudah hancur.

“Nah kita ini punya dasar ideologi Pancasila,” tegas Ibnu Halil

Ia menjelaskan bahwa Pancasila ini sudah menjadi hasil kesepakatan para pendiri bangsa. Pancasila sudah direstui oleh para ulama.

Kenapa direstui? Coba bayangkan di Indonesia jumlah provinsinya 34, jumlah penduduk 278 juta lebih, jumlah pulau 17 ribu, jumlah bahasa daerah 718 dan jumlah suku 1.340 dan 6 Agama.

“Ini tentu sangat kita berpotensi terpecah. Karena itu perlu diikat dalam satu wadah dan menjadi kesepakatan para pendiri bangsa kita Pancasila sebagai dasar ideologi Negara. Kenapa ini direstui? Karena semua nilai-nilai Pancasila ini sudah ada di dalam Al Qur’an. Ini yang menyebabkan para ulama kita dulu sepakat,” ulas Ibnu Halil

Sila Pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa

“Dalam Pancasila mengandung ajaran Tauhid. Ini berdasarkan dalam Al Qur’an yang terkandung adalam surat Al Ikhlas,” jelasnya

Sila kedua, Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab

Ibnu Halil menjelaskan bahwa kemanusian, adil dan adab, ini semua ada dalam Al Qur’an. Seperti dalam surat Al Hujarat. Makanya dalam Islam ada Ukhwah Basyariah.

“Allah menjadikan kita bersuku, berbangsa, tujuannya untuk kita saling mengenal, saling menghormati dan saling menghargai. Bukan berpecag, bukan berperang dan sebagainya,” terangnya

Sila Ketiga, Persatuan Indonesia

“Kita ini adalah semuanya bersaudara. Kita sekarang bisa bersilaturrahim, karena kita bersaudara. Maka, hendaklah kita berdamai, kalok kita ada permasalahan jangan diperpanjang yang akan membuat Ukhwah Islamiyah kita retak. Tentu Allah tidak ridho. Maka kita harus rawat, jaga, disamping dakwah,  Ukhwah Islamiyah harus kita pertahankan. Bagaimana mau menjawab pertanyaan malaikat Mungkar Nakir nanti di dalam kubur, kalok kita tidak pernah berdamai, bersatu. Kita saling mengecam, saling gibah, saling fitnah,” terang Ibnu Halil mengingatkan

“Kalok ada saudara kita yang berbeda haluan, pandangan, pemikiran. Kita do’akan, jangan saling fitnah, apalagi saling bermusuhan, tidaka ada nilainya dan manfaatnya,” imbuhnya

Sila Keempat, Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan Dan Perwakilan

“Alhamdulillah, musyawarah ini ajaran agama. Rasullullah selalu mempraktikkan musyawarah dalam segala hal. Tidaka akan rugi orang yang bermusyawarah,” ucapnya

“Makanya, rasullullah walaupun rasul, memimpin Negara, memimpin umat, yang langsung menerima wahyu dari Allah SWT. Beliau selalu mengajak para sahabat untuk bermsyawarah.

Sila Kelima, Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia

“Jadi adil ini banyak sekali dalam Al Qur’an. Kita kawal terus bangsa ini dari tantang dari internal maupun eksternal,” ajak Ibnu Halil (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here