Menikah Dini, Remaja “Dibelas” Berujung Depresi

Foto : Sri Helmi Hayati, S.Psi, M.A, M.Psi, Psikolog

Penulis : Sri Helmi Hayati, S.Psi, M.A, M.Psi, Psikolog

MetroNTB.com – Pernikahan dini begitu menghawatirkan saat ini. Menjadi sorotan perhatian bagi banyak pihak (terutama pemerintah) karena bisa berdampak pada fisik maupun psikologis.

Persoalan akan menjadi lebih menghawatirkan jika tidak memperhatikan kondisi psikologis anak remaja yang melakukan pernikahan dini tersebut sehingga menyebabkan persoalan mental menjadi terganggu yakni, depresi.

Depresi mudah dialami anak remaja yang sedang dalam kondisi tertekan. Apalagi apa yang ingin dilakukannya tidak sesuai dengan kenyataan yang dihadapinya. Salah satunya saat memutuskan untuk pergi lari dari rumah untuk menikah.

Ada banyak penyebab anak remaja melakukan pernikahan usia dini, seperti tidak memiliki pengetahuan & pemahaman tentang dampak baik fisik maupun psikologis, tumbuh dalam disfungsi keluarga (perceraian orangtua, keluarga yang terlalu menekan, mengabaikan, sering bertengkar, orangtua jarang di rumah, kematian orangtua), kemiskinan, anak remaja sedang dalam fase pencarian identitas diri sehingga belum memahami sepenuhnya terkait jati dirinya, menjadi korban dari media sosial, korban pelecehan seksual sebelumnya sehingga melakukan perilaku seks pranikah dan menuntut pertanggungjawaban sehingga terpaksa dinikahkan, persoalan akademis di sekolah dan lainnya.

Penyebab tersebut sangat berpengaruh terhadap psikologis anak remaja sehingga mereka dengan mudah memutuskan menikah dini. Ada yang bisa bertahan melalui proses pernikahan tersebut dan ada yang gagal karena suatu sebab seperti menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga, korban dari cemoohan masyarakat, korban secara ekonomi karena belum mandiri dalam mencari penghidupan untuk keluarganya apalagi tidak ada dukungan keluarga, dan sebagainya.

Dampaknya anak remaja mengalami tekanan sampai berujung mengalami problem gangguan mental yakni depresi. Anak remaja dalam kondisi depresi akan mengalami kebingungan mau lari ke mana serta tidak mengetahui bagaimana penyelesaian dari apa yang sedang dialaminya.

Salah satu contoh kasus WY seorang perempuan berusia 15 tahun memutuskan menikah dini dengan kawin lari bersama pria (X) berusia 17 tahun. Mereka berkenalan melalui media sosial. Perkenalan hanya empat bulan membuat mereka memutuskan lari dari rumah untuk menikah.

WY berasal dari keluarga kurang berada, ibunya menjadi TKW ke luar negeri dan tinggal bersama bapak dan neneknya. Suasana di rumah yang kurang nyaman menyebabkan dirinya kurang betah di rumah. Apalagi ditambah kondisi pandemi saat itu yang menuntut sekolah dengan sistem daring membuatnya tambah bosan untuk sekolah. Kondisi lingkungan tempat tinggalnya juga tidak memperbolehkan seorang perempuan kembali ke rumah jika sudah dibawa keluar beberapa hari oleh laki-laki.

WY sudah meninggalkan rumah selama 2 hari dan tidak bisa kembali karena tidak diperbolehkan keluarga dan lingkungan tempat tinggalnya. Kejadian ini diketahui oleh petugas dari dinas tertentu dan memutuskan untuk melakukan belas atau memisahkan kedua anak remaja tersebut. Kedua anak remaja itu melawan dengan tetap ingin menikah. Petugas berhasil memisahkan kedua remaja tersebut dan yang terjadi adalah WY mengalami depresi.

Gejala-gejala yang sudah ditunjukkan yakni menangis setiap malam, tidak bisa tenang, sulit konsentrasi, tidak ada motivasi melakukan sesuatu, merasa tidak diperhatikan, enggan bertemu orang lain, merasa malu dan tidak berharga karena sudah diketahui banyak orang saat dibelas/dipisah, merasa malu jika nanti akan hamil karena melakukan hubungan seks pranikah selama pelarian, merasa malu dengan lingkungannya dan tidak berani pulang ke rumahnya, serta pernah berusaha untuk pergi / kabur dari tempat lokasi diamankan.

Kejadian tersebut adalah salah satu contoh kasus dari sekian kasus pernikahan anak yang dibelas. Kondisi seperti ini tentunya menjadi perhatian bagi semua pihak dalam menyelesaikan kasus pernikahan anak yang terjadi. Apalagi dengan berbagai macam kasus dan dinamika psikologis yang terjadi pada anak remaja yang memutuskan untuk melakukan pernikahan anak. Tentunya tidak cukup dibelas (dipisah saja) kemudian persoalan akan terselesaikan, akan tetapi perlu memperhatikan kondisi psikologis anak yang dibelas dan apa yang akan dilakukan setelah dibelas.

Tidak semua anak remaja bisa dengan mudah untuk diberikan pemahaman terhadap kondisi yang terjadi dan apa yang sedang dialaminya. Dengan demikian perlu penanganan secara lebih komprehensif dan melibatkan semua pihak serta melibatkan tenaga profesional sesuai bidang keilmuannya untuk mengatasinya saat anak remaja dalam kondisi depresi yakni salah satunya dengan melibatkan psikolog klinis / psikiater untuk mengatasinya (red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here