Demokrasi Garis Lucu

Foto : Penulis : Aktivis Seni, Pemerhati Sosial dan Budaya Lombok, Lalu Faqih Saiful Hadie (MetroNTB/Ist)

Penulis : Lalu Faqih Saiful Hadie (Aktifis Seni, Pemerhati Sosial dan Budaya Lombok)

MetroNTB.com – Suatu ketika di sebuah rumah besar di zaman kolonial, perempuan pramuwisma itu bersimpuh di hadapan tuannya.

Majikan : Beberapa pekan terakhir ini saya amati pekerjaan kamu banyak yang tidak beres. Bahkan kemeja kantor saya bolong-bolong karena kelalaian kamu waktu menyetrika. Ik ben teleurgesteld over je werk, saya kecewa sama kamu.

Pembantu : Maaf Tuan, muntah saya ndak bisa ditahan, saya terpaksa lari ke toilet.

Majikan : Hmmm, kamu sakit? kenapa tidak bilang-bilang?

Pembantu : Saya takut Tuan…

Majikan : Hahaha, takut? Untuk bilang diri kamu sakit saja kamu takut? Apakah Kamu tidak tahu kalau di komplek ini, bahkan di seluruh di RT, RW, Kelurahan, Kecamatan, Kabupaten, Propinsi dan bahkan di seluruh negeri ini saya adalah majikan yang paling demokratis? Ini rumah demokrasi, kamu tidak perlu takut, katakan saja kamu sakit apa. Nanti saya suruh sais kereta antarkan kamu periksa ke rumah sakit, kamu tidak perlu sungkan, anggap rumah ini rumah kamu sendiri. Walaupun majikan, saya juga manusia. Saya sangat menghargai hak-hak kamu sebagai manusia. Kerja sama kita adalah bentuk simbiosis mutualisme sebagai sesama manusia. Kamu butuh pekerjaan dan saya butuh jasa dari kamu punya keahlian mencuci, memasak dan menyetrika. Sekarang katakan kamu sakit apa?

Pembantu : (Menunduk, terbata-bata, gemetar dan pucat) Saya ngidam Tuan, saya hamil.

Majikan : (Terkejut) Hah!? Wat zeg jij !? Kamu bilang apa !? Kamu ngidam !? Hamil !? Hfffhhh.. Okay okay, dat is normaal toch? Saya kira itu wajar. Saya akan berusaha memahami bahwa setiap orang punya potensi untuk mengalami historical accident, kecelakaan sejarah. Jangan kawatir, saya tidak akan marah, saya adalah majikan yang paling bijaksana dan demokratis. Mari kita selesaikan persoalan kamu. Sekarang jawab, siapa laki-laki tidak senonoh itu?

Pembantu : Tidak Tuan, saya takut.

Majikan : Oké, het lijkt alsof je niet begrijpt wat democratie is. Kamu rupanya belum paham apa yang saya katakan tentang domokrasi. Ayo katakan saja jangan takut.

Pembantu : Tidak Tuan.

Majikan : Nee, doet er niet toe. Tidak apa-apa, kamu harus katakan. Kamu perempuan baik en karena itu siapapun dia harus bertanggung jawab. Siapa? Ayo katakan !

Pembantu : (Ragu) Anak sulung Tuan.

Majikan : (Gusar) Apppaaah !? Anak saya !? Lancang kamu ya, verdomme ! Dasar kamu pembantu tidak tau diuntung ! Ini pasti gara-gara kamu suka menggoda anak saya. Je hebt mij in verlegenheid gebracht ! Memalukan saya ! Hari ini juga keluar kamu dari rumah saya ! Kamu saya pecat !

Pembantu : Tuan … ! (menangis).

Majikan : Pergi … !!! (red)

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here