Toleransi Saja Tidak Cukup

Foto : Foto bersama seluruh pemenang, tim juri, tim riset dan Direktur SEJUK, Ahmad Junaidi dalam acara Diversity Award 2021 pada Minggu, 12 Desember 2021 (MetroNTB/Dok SEJUK)

Jakarta, MetroNTB.com – Direktur Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK) Ahmad Alex Junaidi menyebutkan media masih banyak yang enggan memberitakan fakta-fakta peminggiran hak dan penindasan kebebasan terhadap kelompok minoritas.

“Media baru mengangkatnya jika telah terjadi konflik dan kekerasan,” kata Alex penganugerahan Diversity Award 2021, Minggu 12 Desember 2021

Ia menuturkan pandemi Covid-19 tidak lantas menghentikan praktik-praktik intoleransi, diskriminasi, dan kekerasan atas nama agama.

Penentangan dan penyegelan rumah ibadah, pelarangan beribadah, perusakan rumah ibadah terus bergulir, sampai penolakan pemakaman jenazah nonmuslim.

Celakanya, menurut mahasiswa program doktoral yang mengambil komunikasi di Institut Pertanian Bogor (IPB) ini, pemberitaan-pemberitaan media cenderung mengejar clickbait atau rating.

“Berita dibuat bombastis dan sensasional, tanpa menimbang dampak bagi korban atau kelompok minoritas, bahkan kerap mengeksploitasinya, sehingga situasi mereka menjadi semakin rentan,” tuturnya

Kali ini penganugerahan karya-karya jurnalistik terbaik media di Indonesia mengganjar penghargaan peliputan isu-isu keberagaman untuk kategori tulisan (cetak dan online), audio (radio dan podcast), audio visual (televisi dan produk audio visual), foto jurnalistik, dan satu kategori tambahan yang baru: media sosial (influencer).

“Di era digital di mana media-media tidak ramah terhadap keberagaman, SEJUK melihat kerja-kerja jurnalistik selalu menghadirkan optimisme dengan bersetia pada peran edukasi dan watchdog yang mengabarkan keberaaman, memihak kelompok yang dipinggirkan,” tegas Alex Junaidi memberikan alasan pentingnya untuk memberikan menggelar Diversity Award yang kali ini bertema “Pergulatan Minoritas di tengah Pandemi.”

Sisi optimis ini ditangkap juga oleh aktivis keberagaman senior Dédé Oetomo dalam orasi kebudayaan yang disampaikannya. Menurutnya, media adalah entitas sangat penting bagi komunitas LGBTIQ untuk menyuarakan aspirasinya.

“Kemitraan strategis dengan media dan lembaga ilmu pengetahuan yang menghargai dan menjunjung tinggi keberagaman itu sangat penting,” ujar pendiri dan pembina Yayasan GAYa NUSANTARA ini.

Sebagai gay yang beretnis Tionghoa di Indonesia tidak lantas membuat Dédé Oetomo meluapkan kemarahannya dengan hanya mengutuk diskriminasi bahkan persekusi yang dialami komunitasnya.

Ia tetap mendorong dan mengajak agar lebih banyak pihak yang tidak berhenti pada sikap dan tindak toleran terhadap kalangan yang berbeda dan rentan, tetapi juga sampai pada penerimaan atas manusia, apapun ekspresi dan identitasnya (red)


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here