MotoGP 2022 Harus Miliki Epek Terhadap Kunjungan Wisata ke NTB

Deputi Bidang Industri dan Investasi Kemenparekraf RI, Fadjar Hutomo mengatakan gelaran MotoGP harus memiliki efek dan pengaruh besar terhadap kunjungan wisata di NTB dan Indonesia pada umumnya
Foto : Deputi Bidang Industri dan Investasi Kemenparekraf RI, Fadjar Hutomo didampingi Kepala Dinas Pariwisata NTB Yusron Hadi saat audensi bersama Wakil Gubernur NTB Sitti Rohmi Djalilah di rungan kerjanya, Rabu 22 Desember 2021 (MetroNTB/Ist)

Mataram, MetroNTB.com – Deputi Bidang Industri dan Investasi Kemenparekraf RI, Fadjar Hutomo mengatakan gelaran MotoGP harus memiliki efek dan pengaruh besar terhadap kunjungan wisata di NTB dan Indonesia pada umumnya.

“Sehingga kita dapat mendapatkan manfaat ekonomi dari kegiatan ini. Kebermanfaatannya untuk masyarakat, itu yang paling penting,” kata Fadjar saat audiensi bersama Wakil Gubernur NTB Sitti Rohmi Djalilah di rungan kerjanya, Rabu 22 Desember 2021.

Pihaknya menekankan terkait rantai pasok dan peran serta dan keterlibatan masyarakat atau UMKM lokal untuk ambil bagian dalam persedian potensi produk dan bahan lainnya.

Diakuinya bahwa berbicara rantai pasok untuk persediaan perhotelan, usaha restoran dan lainnya melibatkan kepentingan dan kebijakan multi pihak.

“Baik itu industri, UMKM, perdagangan, pertanian, perkebunan, peternakan dan pihak lain untuk bersinergi dan berkolaborasi,” tutur Fadjar

Untuk itu, perhotelan dan UMKM dan semua pihak dapat menjalin kemitraan dan Kerjasama.

Ia mencontohkan sebuah hotel setiap hari membutuhkan bahan sembako, seperti beras, ikan, daging, telor, sayur, buah untuk kebutuhan konsumsi pengunjung hotel.

“Maka, penting kemitraan dan Kerjasama dengan UMKM lokal untuk memasok bahan sembako ini. Begitupun bidang transportasi atau rencar, sehingga ekonomi kita bergeliat,” kata Ketua Asosiasi Perusahaan Modal Ventura Daerah Seluruh Indonesia.

Menurutnya, hal ini juga berkaitan dengan pariwisata berkelanjutan. Artinya bukan hanya persoalan lingkungan, namun ada 4 pilar tata kelola, yang pertama  destinasi dan ekosistem, kedua ekonomi lokalnya, ketiga sosial budaya lokal dan keempat baru berbicara lingkungan.

“Rumah besar inilah yang menjadi paying kita,” kata Fadjar menambahkan (red)


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here