Tiga Mahasiswa Miliki Keterbatasan Pendengaran Raih Gelar Sarjana di UBG

Kekurangan bukan menjadi alasan untuk tidak meraih gelar sarjana. Ungkapan itu dibuktikan oleh tiga mahasiswa Universitas Bumigora (UBG) Ahmad Fikri Hidayat, Zainuddin dan Debi yang berhasil gelar sarjana pada Wisuda ke II UBG 13 November lalu.
Foto : Kekurangan bukan menjadi alasan untuk tidak meraih gelar sarjana. Ungkapan itu dibuktikan oleh tiga mahasiswa Universitas Bumigora (UBG) Ahmad Fikri Hidayat, Zainuddin dan Debi yang berhasil gelar sarjana pada Wisuda ke II UBG 13 November lalu. (MetroNTB/Ist)

Mataram, MetroNTB.com – Kekurangan bukan menjadi alasan untuk tidak meraih gelar sarjana. Ungkapan itu dibuktikan oleh tiga mahasiswa Universitas Bumigora (UBG) yaitu Ahmad Fikri Hidayat, Zainuddin dan Debi yang berhasil gelar sarjana pada Wisuda ke II UBG 13 November lalu.

“Itu benar-benar tuli dan bisu,” ungkap Dekan Fakultas Tehnik dan Desain Christofer Satria kepada MetroNTB.com

Ia menuturkan bahwa pihaknya tahun ini telah mewisudakan tiga orang. Dua cowok benar-benar tuli dan bisu, ada satu cewek, itu dia bisa bicara tapi pendengaran sangat kurang bisa di bilang tidak bisa mendengar tetapi bisa membaca gerakan bibir.

“Cuma masalahnya pandemi, kita kan pakai masker, jadi tidak bisa membaca,” tuturnya

Satria mengakui selama ini, pihak dosen mengajar ekstra untuk bisa memberikan pengajaran kepada tiga mahasiswa yang memiliki kekurangan pendengaran.

“Selama ini kami dari dosen UBG khusus prodi Desain Komunikasi Visual (DKV), itu biasanya kita mengajarkan setelah selesai pengajaran. Jadi kita mengajarkan ekstra, sampai kita belajar bahasa isyarat tetapi kita tidak terlalu mendalami, sekedar saja,” ceritanya

Sedangkan, lanjutnya dosen yang lain biasanya mereka setelah pelajaran memberikan tulisan dan dia nanya dengan tulisan. Bertanya dengan tulisan, menjawab dengan tulisan juga.

“Ada beberapa mahasiswa juga memiliki aplikasi. Mereka teman tulinya mempunyai aplikasi khusus lewat HP. Jadi kita ngomong sudah tertulis omongan kita, sedangkan dia mau nanya dia ngetik terus kita jawab lagi dengan aplikasi itu,” kata satria

“Tahun ini tiga, tahun kemarin itu empat atau lima dan yang masih kuliah sisa atau dua, satu Maba dan satu mau skripsi. Masih sisa dua. Prodi Desain Komunikasi Visual,” cetusnya

Sementara, Ketua Prodi Desain Komunikasi Visual Fakultas Tehnik dan Desan UBG Hasbullah menegaskan pihaknya tidak membeda-bedakan. Menurutnya, semua orang berhak untuk mendapatkan pendidikan. Keterbatasan tidak menjadi alasan.

“Kami tidak membedakan. Kita menerima siapa saja, karena semua orang berhak untuk belajar, UBG menerima,” ungkapnya

Kita berusaha juga membuatkan tanda misalnya petunjuk ruangan informasi-informasi secara visual. Yang baru hanya tuna rungu aja,” kata Hasbullah menambahkan Man/De)


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here