Puslitbang Lektur Gandeng LP2M UIN Mataram Gelar Terjemahan Al-Qur’an Dalam Bahasa Bima

Dalam upaya mempersiapkan Terjemahan Al-Qur’an dalam bahasa Bima, Pusat penelitian dan Pengembangan Lektur, Khazanah Keagamaan dan Manajemen Organisasi Kementerian Agama Republik Indonesia menggandeng Lembaga penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) UIN Mataram menggelar kegiatan Terjemahan Al-Qur’an Dalam Bahasa Bima. Sebagai bagian dari kegiatan itu diadakan kegiatan “Validasi dan Pengujian Terjemahan Al-Qur’an dalam Bahasa Bima” di Hotel Jayakarta, 17 September 2021 yang merupakan kelanjutan dari kegiatan Focus Group Discusions (FGD) yang sebelumnya dilaksanakan pada tanggal 11 September 2021 di Kampus 2 UIN Mataram
Foto : Dalam upaya mempersiapkan Terjemahan Al-Qur’an dalam bahasa Bima, Pusat penelitian dan Pengembangan Lektur, Khazanah Keagamaan dan Manajemen Organisasi Kementerian Agama Republik Indonesia menggandeng Lembaga penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) UIN Mataram menggelar kegiatan Terjemahan Al-Qur’an Dalam Bahasa Bima. Sebagai bagian dari kegiatan itu diadakan kegiatan “Validasi dan Pengujian Terjemahan Al-Qur’an dalam Bahasa Bima” di Hotel Jayakarta, 17 September 2021 yang merupakan kelanjutan dari kegiatan Focus Group Discusions (FGD) yang sebelumnya dilaksanakan pada tanggal 11 September 2021 di Kampus 2 UIN Mataram

Lombok Barat, MetroNTB.com – Dalam upaya mempersiapkan Terjemahan Al-Qur’an dalam bahasa Bima, Pusat penelitian dan Pengembangan Lektur, Khazanah Keagamaan dan Manajemen Organisasi Kementerian Agama Republik Indonesia menggandeng Lembaga penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) UIN Mataram menggelar kegiatan Terjemahan Al-Qur’an Dalam Bahasa Bima.

Sebagai bagian dari kegiatan itu diadakan kegiatan “Validasi dan Pengujian Terjemahan Al-Qur’an dalam Bahasa Bima” di Hotel Jayakarta, 17 September 2021 yang merupakan kelanjutan dari kegiatan Focus Group Discusions (FGD) yang sebelumnya dilaksanakan pada tanggal 11 September 2021 di Kampus 2 UIN Mataram.

Dalam kegiatan yang dihadiri oleh 30 peserta baik dari kalangan milenial maupun kalangan tua itu, dikaji hasil terjemahan oleh Tim Tujuh Penerjemah Al-Qur’an dalam bahasa Bima.

Ketua Plt. Lembaga Penelitian dan Pengembangan Masyarakat(LP2M) UIN Mataram, Dr. M. Sa’i, M.A mengatakan  bahwa kegaitan diselenggarakan adalah bagaimana membumikan bahasa Al-Qur’an, dengan begitu masyarakat bisa memahami dan mencintai Al-Quran dari bahasa daerah. Dan tentunya ini kesempatan yang luar biasa yang harus terus diupayakan.

“Sehingga pada poin program ini, Al Qur’an di bunyikan dan bahasa di dunia kan”, terang Dosen tetap UIN Mataram itu

Doktor yang aktif mengajar di Fakultas Dakwah tersebut juga berharap kepada pemerintah dan tokoh masyarakat serta tokoh agama setempat untuk bisa mensosialisakan terjemahan Al-Qur’an dalam bahasa daerah ini, dengannya tercipta naluri kedekatan diri kepada Sang Khalik sesuai dengan karakter wilayah. Dalam hal ini adalaha lokal wisdom

“Kalau di muatan lokal kan, ini akan sangat bagus untuk siswa bisa memahami agama Pada umumnya, dengan terbangunnya jiwa ke daerahan yang religius, dan saya berharap bahasa yang lain di NTB, seperti Sumbawa bisa menuyusul” harapnya

Sementara itu, Ketua Tim Tujuh Penerjemah Al-Qur’an dalam bahasa Bima, Dr. Mukhlis, M.Ag mengatakan, Kegiatan yang digelar oleh Puslitbang Kemenag RI dengan menggandeng LP2M UIN Mataram ini digelar sebagai langkah baik dan strategis dalam melestarikan bahasa Bima dengan harapan terpeliharanya bahasa Bima untuk generasi yang akan datang.

“Kami berharap dengan adanya hajat baik ini, Khazanah ke-bimaan kita semakin kokoh”, kata Dosen Pascasarjana UIN Mataram tersebut.

Selain itu, dia juga memaparkan bahwa anggota Tim Tujuh Penerjemah itu terdiri dari akademisi UIN Mataram yang memiliki latar belakang keilmuan beragam serta berasal dari desa yang berbeda di Bima. Mereka adalah Dr. Mukhlis M.Ag., Dr. Abdul Wahid, M.Ag.,M.Pd., Dr. Sukri Abubakar, M.Ag., Dr. Syukri, M.Pd., Dr. Ismail Thoib, M.Pd., Dr. Muhammad Salahudin, M.Ag., dan Prof. Dr. Atun wardatun, M.Ag.,M.A. “Dan saya sendiri dipercaya sebagai Ketua Tim Penerjemahan tersebut”, Jelas pria yang akrab disapa Abali itu

Lanjut Abali, tujuh orang yang tergabung dalam Tim Penerjemah itu berasal dari desa yang berbeda di Bima, yaitu Ngali, Sambinae, Roka, Samili, Parado, Sila, Karumbu. Oleh karenanya, tentu cara pandang dan penuturan dalam kebiasaan bahasa Bima pasti berbeda pula. tapi bagi pria berasal dari Desa Ngali ini, itu merupakan hal yang lumrah yang memang perlu disatukan dalam wadah ke-Bima-an.

“Bagi saya ini merupakan dialektika keilmuan, dan itu hal biasa. Tapi Yang jelas, penerjemahan ini akan selesai bulan November mendatang”, tutupnya (red)


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here