WASATHI Tawarkan Kurikulum Khutbah Jum’at

Suasana Sarasehan Khatib Moderat yang digagas oleh Wadah Silaturahmi Khatib Indonesia (WASATHI) secara virtual dari Aula Masjid Al Ijtihad, Jakarta Barat
Foto : Suasana Sarasehan Khatib Moderat yang digagas oleh Wadah Silaturahmi Khatib Indonesia (WASATHI) secara virtual dari Aula Masjid Al Ijtihad, Jakarta Barat (MetroNTB/Ist)

Jakarta, MetroNTB.com – Ketua Pembina Wadah Silaturahmi Khatib Indonesia (WASATHI), KH Arif Fahruddin, mempertanyakan apakah khutbah yang selama ini sudah berlangsung di masyarakat setiap pekan sudah mampu mendorong perubahan sosial.

Pertanyaan ini diajukan dalam Sarasehan Khatib Moderat secara virtual dari Aula Masjid Al Ijtihad, Cengkareng, Jakarta Barat, Sabta 31 Juli 2021

Untuk mengukur apakah ada perubahan atau tidak, Kiai Arif menyampaikan perlu ada kurkulumisasi khutbah.


“Kurikulum ini  mengukur apakah khutbah sudah menghasilkan perubahan seperti yang direncanakan atau sekadar rutinitas mingguan untuk ibadah,” tuturnya

Padahal, kata dia, posisi khutbah sangat strategis karena diadakan setiap Jum’at, dihadiri banyak umat, dan selama berlangsung materinya tidak boleh didebat.

“Sejauh mana pengaruh khutbah Jum’at terhadap perubahan perilaku masayrakat? Sejauh pengamatan WASATHI ini belum ada datanya. Kita perlu bersinergi dengan para peneliti untuk melihat bagaimana impact dan dampak khutbah yang selama ini sudah kita lakukan. Karena itu fokus WASATHI khusus di khatib saja, khusus pada khutbah jum’at saja,” terang Kiai Arif

Menurutnya, kurikulumisasi ini tidak berarti penyeragaman. Ini tidak lantas khutbah seperti yang di Timur Tengah yang materinya sama dan sudah terjadwal. Kurikulum ini disesuaikan dengan kondisi masing-masing daerah. Tujuannya adalah menyamakan langkah gerak demi perubahan besar untuk kemajuan umat.

“Kurikulum itu tidak berarti seragam. Usulan dari WASATHI, negara dan ulama bisa membuat silabus tema besarnya saja. Mengenai kurikulum, itu berbasis budaya dan adat masing-masing daerah. Misalnya, kebutuhan umat di NTB tentu akan berbeda dengan di Aceh maupun NTT, ” ungkapnya.

Kiai Arif menambahkan, di masa pandemi seperti ini, fungsi Masjid dan khutbah sangat penting untuk menjadi sarana perubahan perubahan sosial dan keselamatan bangsa.

Beredarnya opini-opini antimainstream yang meresahkan umat belakangan ini berbahaya di dalam kondisi seperti sekarang ini.

“Kehadiran kurikulum khutbah ini akan menjadi titik pertemuan ideal antara ulama dan umara,” tandasnya

Sementara itu, dalam kesempatan yang sama, KH Syaeful Bahri menyebutkan kurikulum khutbah ini bisa memberikan pemahaman kepada khatib secara lebih menyeluruh. Nantinya khutbah bisa menjadi corong untuk mengatasi pandemi.

“Khatib harus memberikan pemahaman dalam Dakwah nya untuk mengimplementasikan nilai kebangsaan. Termasuk mensosialisasikan program-program keagamaan unggulan terutama untuk Menanggulangi pandemi Covid-19 yang saat ini sedang melanda dunia,” katanya (*)


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here