Soal Test CAT KPID Diduga Bocor

Ilustrasi : Logo KPID NTB
Foto Ilustrasi : Logo KPID NTB

Ada Dugaan Manipulasi Nilai Terhadap Peserta Seleksi

Mataram, MetroNTB.com – Proses seleksi calon Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) NTB menuai sorotan publik. Proses seleksi diikuti 38 peserta dari 42 orang yang mendaftar.

Seleksi uji kompetensi berlangsung selama lima hari sejak 14 hingga 18 Juni 2021. Calon komisioner KPID NTB ini mengikuti tiga proses uji kompetensi yakni test tulis CAT Computer Assesment Test atau Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK), psikotes, dan wawancara.


Sejumlah peserta seleksi yang tergabung dalam kelompok G mempertanyakan kridibelitas tim seleksi lantaran dugaan kebocoran soal test CAT dan atau kunci jawaban beserta diduga manipulasi nilai.

Dugaan tersebut didasari atas data hasil uji kompetensi yang beredar luas terutama dikalangan peserta.

“Dari data itu menuai kecurigaan bahwa ada permainan nilai hasil testl CAT” ujar MS salah satu anggota kelompok G peserta seleksi KPID NTB yang tidak mau menyebut namanya kepada wartawan di Mataram, Selasa 22 Juni 2021

Dia mengatakan, beberapa indikator yang menuai dugaan kebocoran soal adalah, hanya ada tujuh peserta saja yang memperoleh nilai fantastis dari nilai 85,20 sampai 94,20 dengan jumlah soal 85.

Sementara peserta lain dari nomor urut delapan ke bawah, memperoleh nilai yang beragam dan jauh jarak jumlahnya yakni 64, 2 sampai ke 35,20 dari nomor  di atasnya (peserta 1 – 7).

“Ada dugaan mark up nilai saat test tulis berbasis komputer itu,” ungkapnya.

Hal lain yang menjadi kecurigaannya adalah kemunculan nama-nama orang yang diduga titipan sejumlah pihak yang mendominasi ranking. Meski begitu, dia tidak menyebut siapa orang yang dimaksud sebagai titipan tersebut.

MS juga mengutip pengantar Ketua tim seleksi I Gede Putu Aryadi, S.Sos,MH sebelum pelaksanaan CAT test. Saat itu, kata MS, Kadis Tenaga Kerja dan Transmigrasi NTB itu menyatakan “semua peserta test memperoleh bonus 10 poin baik yang mengerjakan soal maupun yang tidak mengerjakan soal. misalnya skor bapak/ibu 20 poin, jadi jumlah akhirnya 30 point.”

Namun dalam realisasinya pernyataan ketua pansel terkait bonus tersebut hanya diberikan kepada beberapa peserta tertentu saja dan tidak diberlakukan kepada seluruh peserta lain.

Pernyataan lain ketua tim sel adalah “Adapun jumlah soal test CAT sebanyak 85 soal”.

Dia heran dari mana Ketua Tim Sel itu tahu jumlah soal sebanyak 85 soal.  Padahal,  itu merupakan rahasia dan soal tersebut diperoleh dari bank soal KPI. Menurut pernyataan ketua tim sel.

Pernyataan I Gede Putu Aryadi itu justru menuai kecurigaan bahwa panitia sudah mengetahui isi soal dan atau kunci jawaban sehingga kuat dugaan soal sudah bocor.

Ketua pansel terindikasi kuat sudah mengetahui atau membuka file soal dalam komputer. Terlebih, keberadaan soal tidak boleh dibuka siapapun baik panitia seleksi, lebih-lebih peserta CAT. Yang dapat menggunakan komputer adalah hanya petugas tekhnis atau operator yang dipercayakan. Itupun, sebatas memandu dalam bidang IT dan programnya saja. “ini diduga kuat melanggar kode etik dan kode perilaku panitia seleksi dalam hal kerahasiaan dokumen negara,” tegas MS.

Indikasi tersebut, kata MS, diperkuat dengan adanya perolehan nilai yang tidak masuk akal. “Masak ada yang bisa raih angka 85,20 sampai 94,20 poin. Dan peserta yang memperoleh angka ini sebanyak tujuh orang. Kalau sampai 67 atau 70 sih wajar,” tegasnya.

“Ini melanggar kode etik dan kode perilaku pansel. Pansel dilarang menyampaikan data dan informasi yang tidak sesuai dengan kenyataan dan diduga memanipulasi hasil seleksi,” ungkapnya.

Senada dengan MS, beberapa peserta lainnya juga merasa hal serupa. Terlebih ada pernyataan salah satu peserta yang yakin lolos dalam 17 nama yang akan direkomendasikan tim seleksi kepada DPRD NTB.

Terkait dengan itu, pihaknya menilai kredibilitas tim seleksi calon komisioner KPID NTB patut dipertanyakan. Hal ini akan dilaporkan kepada Ombudsman bahkan kepada PTUN untuk diusut tuntas.

Peristiwa ini membuat komunitas G ini merasa dirugikan terkait pelaksanaan seleksi yang dinilai syarat permainan tersebut.

“Lah kita kan sudah ikuti proses sejak awal baik test kesehatan, rohani, dan lainnya. Tapi justru ada indikasi permainan seperti ini berarti kan cacat hukum,” paparnya bernada emosi.

Dia berharap proses seleksi KPID NTB diulang dan semua yang diduga terlibat dalam dugaan permainan itu tidak dilibatkan lagi. (*)


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here