Industri Pencucian Sarang Walet Desa Kateng Diminta Tingkatkan Nilai Ekspor

Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi NTB, Hj. Niken Saptarini Widyawati Zulkieflimansyah meminta industri pencucian sarang walet Desa Kateng meningkatkan ekspor
Foto : Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi NTB, Hj. Niken Saptarini Widyawati Zulkieflimansyah meminta industri pencucian sarang walet Desa Kateng meningkatkan ekspor (MetroNTB/Ist)

Lombok Tengah, MetroNTB.com – Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi NTB, Niken Saptarini Widyawati Zulkieflimansyah meminta industri pencucian sarang walet Desa Kateng meningkatkan ekspor

“Harganya pasti akan lebih tinggi karena sudah diproses dan yang terbuang bisa diolah menjadi produk baru,” ujar Niken saat meresmikan Galeri Olahan dan Industri Pencucian Sarang Walet di Desa Kateng, Lombok Tengah, Jumat 18 Juni 2021.

Sebelumnya, PT Ammar Sasambo dan Ading International di NTB mengekspor perdana sebanyak empat ton sarang burung walet  ke Korea Selatan dan Timur Tengah April lalu. Sehingga, membuka peluang industri pencucian sarang walet ekspor, yang sebelumnya dikemas langsung dari pelaku usaha walet.

Setelah dilakukan pencucian dan pemisahan kualitas, harga sarang walet perkilo akan naik dari Rp 10 juta menjadi Rp 33 juta.

Eksportir Ading Walet Internasional, Lalu Ading yang pertama mendapatkan sertifikat dan izin ekspor di NTB menjelaskan, mesin pencuci didatangkan dari Surabaya yang membutuhkan pengatur suhu agar hasil proses pencucian sesuai standar kualitas. Ia bahkan optimis bisa mengekspor hingga 25 ton pada tahun ini.

“Dari pelaku sarang walet yang terdaftar sekarang sebanyak 157 orang, diluar mereka, belum semuanya mengumpulkan panen ke  kita untuk diekspor,” sebut Ading.

Dari 13 apartemen saja, kata Ading bisa menghasilkan sampai 100 kilogram sarang walet dari panen per tiga bulan. Bahkan tahun 2020 lalu, perusahaannya sendiri sudah mengekspor 17 ton sarang walet ke Cina.

Sementara potensi ekspor seperti dikatakan perwakilan Bank Indonesia NTB, Iwan Kurniawan, dari hasil business matching di Cina seperti Taipei dan Tiongkok permintaannya sangat besar. Oleh karena itu, pihaknya membantu membiayai pelatihan tenaga pencuci sarang walet dan membuka jaringan pemasaran dan jalur ekspor bersama stakeholder lain seperti perbankan, Bea Cukai dan penerbangan.

“Kami optimis ini akan memulihkan dan menggerakkan ekonomi selama pandemi,” ujar Iwan. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here