Senator NTB TGH Ibnu Halil : Pancasila Sesuai Dengan Ajaran Agama Islam

Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dapil Nusa Tenggara Barat (NTB), TGH Ibnu Halil, S. Ag., M. Pd.I saat menggelar sosialisasi empat pilar kebangsaan (Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika), bertempat di aula Yayasan Pondok Pesantren Shohiburrahman Beleke, Praya Timur, Kabupaten Lombok Tengah, NTB, Kamis 28 November 2019
Foto : Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dapil Nusa Tenggara Barat (NTB), TGH Ibnu Halil, S. Ag., M. Pd.I saat menggelar sosialisasi empat pilar kebangsaan (Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika), bertempat di aula Yayasan Pondok Pesantren Shohiburrahman Beleke, Praya Timur, Kabupaten Lombok Tengah, NTB, Kamis 28 November 2019

Lombok Tengah, MetroNTB.com – Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) Dapil NTB, TGH Ibnu Halil mengatakan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sudah final dan harga mati, tidak boleh ada lagi pendapat soal bentuk negara apalagi ada istilah khilafah. Masyarakat Indonesia yang serba plural dan multikultural, dituntut untuk saling menghargai dan menghormati.

“Pansaila ini sudah sesuai dengan ajaran agama kita yaitu Islam. Karena itu guru kami KH Raden As’ad Syamsul Arifin yang langsung merestui Presiden Soeharto untuk menjadikan Pancasila sebagai asas tunggal,” ujarnya saat menggelar sosialisasi empat pilar kebangsaan (Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika), bertempat di aula yayasan Pondok Pesantren Shohiburrahman Beleke, Praya Timur, Kabupaten Lombok Tengah, NTB, Kamis 28 November 2019.

Dalam kesempatan tersebut, ia mengajak dewan guru dan ratusan siswa-siswi untuk meneliti teks Pancasila. Sila pertama adalah ketuhanan yang maha esa.

“Sila pertama ini menegaskan bahwa negara Indonesia wajib bertuhan, kalok tidak bertuhan atau ateis, komunis maka tidak boleh tinggal di Indonesia, berarti kita ini di lindungi,” tegas Ibnu Halil

“Sila pertama Pancasila sesuai dengan ajaran tauhid kita, sehingga para ulama sepakat menjadikan sebagai ideologi bangsa. Tidak ada alasan kita untuk tidak mempertahankan Pancasila sebagai dasar negara kita,” jelasnya

Kemudian sila yang kedua yaitu kemanusiaan yang adil dan beradab, sila kedua Pancasila ini adalah ajaran Islam.

“Banyak sekali dalam Al Qur’an yang menjelaskan tentang adab dan sesuai dengan akhlak Rasulullah,” kata dia

Alumni Ponpes Salafiyah Syafi’iyah Sukarejo Sitobundo ini menjelaskan Rasulullah telah memberikan contoh, beliau sebagai pemimpin agama tapi sangat menghargai non muslim. Kalok kita baca dalam kitab-kitab fikih atau hukum Islam non Muslim ini di bagi dua ada kafir dzimmi dan kafir harbi.

“Kafir harbi kalok memang jelas menentang Islam, maka wajib kita perangi. Sementara kafir dzimmi yang tertetangga dengan kita mau rukun dengan kita, mau rukun dengan kita, maka wajib kita hormati dan hargai. Ini adalah konsep Islam. Ini adalah bagian dari akhlak dan adab kita, maka adab-adab dalam Islam itu sudah disampaikan dalam Pancasila dan ini bagian dari ajaran Al Qur’an,” terangnya

Sila ketiga, lanjutnya persatuan Indonesia. Kita yang hidup di masyarakat yang plural dan multikultural berbagai macam suku, budaya, agama.

Foto : Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) Dapil NTB, TGH Ibnu Halil (kanan) akademi UIN Mataram, Dr S Ali Jadid Al Idrus (tengah) dan staf ahli Lalu Muhammad Sahirjan
saat menggelar sosialisasi empat pilar kebangsaan (Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika), bertempat di aula yayasan Pondok Pesantren Shohiburrahman Beleke, Praya Timur, Kabupaten Lombok Tengah, NTB, Kamis 28 November 2019.

“Kalok ingin damai terasa nyaman maka mari kita rawat persatuan dan kesatuan kita,” imbuhnya

Dalam Islam persaudaraan itu bukan saja seagama. Dalam ajaran Ahlusunnah Waljama’ah persaudaraan itu di bagi menjadi empat yaitu ukhwah basyariyah (persaudaraan sesama manusia) ukhwah nasabiyah (persaudaraan karena keluarga), ukhwah wahtaniyah (persaudaraan sesama bangsa), ukhwah Islamiyyah (persaudaraan sesama Islam)

“Maka wajib bagi kita saling menghargai dan menghormati. Jadi kewajiban kita adalah merawat dan menjaga persatuan dan kesatuan kita,” cetus Ibnu Halil

Menurutnya, segala program pemerintah tidak akan bisa berjalan dengan baik, kalok tidak bersatu

“Persatuan Indonesia ini adalah bagian dari ajaran Islam,” katanya

Sila keempat, kerakyatan yang dipimpin oleh Hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan, perwakilan.

Ia menjelaskan, musyawarah ini banyak sekali dalam Al Qur’an. Contoh Wasyawirhum Filamry artinya bermusyawarahlah dengan mereka dalam segala urusan.

“Makanya ketika kita sidang atau rapat pleno di gedung Senayan yang paling kita ke depankan adalah musyawarah dan mufakat dan itu adalah ajaran Islam yang selalu dipraktekkan oleh Rasulullah SAW,” terangnya

Sila kelima adalah keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Adil adalah ajaran Islam. Kalok tidak salah ada 28 kata adil dalam Al Qur’an.

Ditambahkannya, kehidupan bernegara dihadapkan dengan dinamika, apa yang disebut dengan masyarakat ekonomi Asean, apa yang disebut dengan perdagangan bebas. Satu sisi ini menjadi ancaman tapi sisi lain menjadi sebuah peluang.

Lalu dimana kita akan menemukan titik temu antara Islam dan negara?

“Keimanan bernegara itu sangat penting.
Apa dasar keimanan bernegara? lalu dasar keimanan bernegara kita itu adalah Pancasila. Saya sepakat dengan pendapat nya Prof Mahfud MD bahwa Indonesia ini bukan negara Islam tapi kita ini adalah negara yang Islami,” katanya

Keimanan tidak hanya pada konsep beragama, keimanan dalam konsep bernegara. Dasarnya apa kalok dalam bernegara ? Dasarnya adalah Pancasila. Pancasila itu adalah dasar ideologi negara.

“Tidak cukup memiliki keimanan dalam bernegara. Kita perlu berbuat baik. Perbuatan yang baik dalam tatanegara kita ini adalah itu di atur oleh UUD 1945 sebagai dasar konstitusi. Apa dasar kita beramal soleh dalam bernegara? Dasarnya adalah UUD 1945. Ketiga NKRI. bentuk negara kita adalah NKRI,” kata Ibnu Halil menambahkan (red)