Desa Wisata Pusuk Lestari, Tak Sekedar Tuak Manis dan Monyet

Foto : Pemandangan Desa Pusuk Lestari Lombok Barat (Lobar)

Lombok Barat, MetroNTB.com – Bagi yang hendak ke Kabupaten Lombok Utara (KLU) baik untuk berwisata atau mengunjungi sanak saudara, jalan raya Pusuk adalah yang paling banyak dipilih pengguna jalan.

Selain lebih dekat dari Kota Mataram dibanding alternatif lain jalan raya Senggigi, wilayah yang kaya oksigen karena lebatnya pepohonan tropis ini merupakan salah satu wilayah di Pulau Lombok yang terkenal sebagai penghasil air nira atau yang oleh masyarakat setempat disebut tuak manis.

Selain itu, daerah ini juga banyak ditemukan monyet-monyet yang menarik wisatawan.

Menggali potensi ini, Desa Pusuk Lestari Lombok Barat (Lobar) sedang bersiap menuju desa wisata berbasis industri lokal.

Kepala Desa Pusuk Lestari H Junaidi,
membuka cerita tentang rencana desanya. Ia menyebut Desa Pusuk Lestari telah ditetapkan menjadi Desa Wisata oleh Gubernur Nusa Tenggara Barat.

“Penetapan ini, menuntut kerja keras sehingga bukan hanya sebutan sebagai desa wisata tetapi juga the real desa wisata yang mampu mengundang wisatawan lokal, domestik, dan internasional,” ungkapnya, Selasa 12 November 2019

Junaidi pun melirik potensi desanya sebagai penghasil air nira dan memiliki banyak monyet. Menurutnya, 90 persen dari sekitar 800 KK warga Pusuk Lestari adalah petani.

Sekitar 400 KK di antaranya bekerja mengambil air nira atau tuak manis (nyadep). Aktivitas nyadep tersebut akan dijadikan salah satu dari aktivitas pariwisata Desa Pusuk Lestari.

“Bagaimana supaya terkemas menjadi wisata berbasis industri aren, yaitu cara memproses air nira menjadi gula batok, gula semut, gula meriket, termasuk gula cair,” tuturnya

Untuk aktivitas pengolahan air nira menjadi bermacam bentuk ini, selain oleh sebagian besar masyarakat menggunakan cara tradisional, Pusuk Lestari juga dibantu oleh salah satu warganya melalui UD Karya Mandiri dengan brand King Aren yang diketuai Muhammad Rizani.

Aktivitas ini dilakukan agar wisatawan tidak hanya merasakan nikmatnya minum tuak manis tapi juga mengikuti bagaimana proses nyadep.

“Sudah disiapkan tempatnya sebagai aktivitas masyarakat yang tinggal di perbatasan Lombok Barat dan KLU,” ungkap Junaidi.

Terkait dengan monyet, Junaidi juga akan berupaya mengubah cara memberikan makanan buat monyet dari di pinggir jalan yang beresiko mengganggu lalu lintas ke satu lokasi khusus.

“Kami sudah menyiapkan tempat untuk memberikan makanan monyet itu”. Tempat yang disiapkan, berada dua atau tiga ratus meter dari pinggir jalan yaitu masuk ke wilayah hutan,” terangnya

Selain itu, Pusuk Lestari juga telah menyediakan jalur sepeda gunung sepanjang sekitar 1.400 meter di sekitar hutan Pusuk.

“Dan itu akan kami jual untuk mendukung paket desa di wilayah desa perbatasan,” tandasnya

Dengan cara demikian, sebut Junaidi, wisatawan tidak hanya sekedar menikmati kopi, tapi juga bagaimana menikmati proses pembuatan kopi, pembuatan gula baik yang tradisional maupun dengan mesin, dan cara nyadep.

“Cara unik masyarakat kami untuk membikin gula, (juga) cara modern masyarakat kami membikin gula itu, sudah kami siapkan,” paparnya

Dari cerita ulasan Junaidi, masing-masing KK yang berprofesi menyadep tuak manis mampu menghasilkan minimal 10 liter perhari atau sekitar 4.000 liter per hari.

Menurutnya, peminat tuak manis bukan hanya mereka ekonomi menengah ke bawah tetapi juga menengah ke atas karena dipercaya bagus bagi kesehatan.

Keluhan karena tuak manis menggunakan botol bekas ke depan akan ditanggulangi, lanjut Junaidi. Caranya dengan menyediakan paket minum tuak manis yang masih alami di dalam bumbung-nya.

“Yang alami (baru) turun langsung dari pohonnya,” katanya

Desa Pusuk Lestari memiliki empat dusun yaitu Batu Penyu, Kedondong Bawak, Kedondong Atas dan Dusun Pusuk. Masing-masing dusun selain mengandalkan tuak manis, juga memiliki potensi wisata lainnya.

Dusun Batu Penyu, misalnya, memiliki daya tarik berupa air terjun musiman dan pohon-pohon langka gaharu. Kedondong Bawak, kata Junaidi, akan dibuat agrowisata meskipun bersifat musiman seperti ketika musim durian dengan menjual paket durian.

“Misalnya lima puluh ribu (rupiah) makan durian sepuasnya,” sebut Junaidi menyampaikan idenya.

Selain tuak manis, Pusuk Lestari juga memiliki andalan yang bisa dikonsumsi lainnya seperti kue bantal (tekel), umbi-umbian, buah-buahan seperti durian, nangka, dan belinjo.

Selain itu, khusus di Kedondong Atas memproduki Krepek Gadung yang sudah menjadi penghasilan tetap beberapa warga.

“Produk-produk yang dihasilkan selain didistribusi melalui warung-warung di Pusuk dan beberapa supermarket, produk gula semut misalnya, telah dikirim ke luar daerah seperti ke Bima dan Sumbawa,” kata Junaidi menambahkan (red)