Ratusan Nelayan Berikrar “Stop Destrucktif Fishing” Di Samota

Sumbawa, MetroNTB.com – Masyarakat dan para nelayan di Sumbawa  mendukung sepenuhnya kawasan Teluk Saleh, Moyo dan Tambora (Samota) ditetapkan menjadi biosfir dunia.

Sebagai wujud dukungan tersebut, maka ratusan para nelayan di Dusun Prajak Sumbawa 2 Agustus 2019 lalu mengucapkan sumpah dan ikrar untuk menghentikan penangkapan ikan menggunakan bahan peledak (bom), potasium/racun dan teknik penangkapan destruktif lainnya.

Sebab hal tersebut, selain membayakan jiwa, juga telah disadari oleh para nelayan sendiri akan mengancam kelangsungan hidupnya karena dapat merusak biota dan ekosistem laut.

Sebelumnya Kementrian Kelautan dan Perikanan RI bersama Pemerintah Provinsi NTB dan Kabupaten Sumbawa, Dompu dan Bima, secara maraton telah menggelar kegiatan edukasi nelayan dan Kampanye “Stop distruktif fishing” di Sumbawa, baru-baru ini.

“Dalam kampanye tersebut, para nelayan diedukasi agar menjaga kesinambungan dan pelestarian sumber daya laut dan pesisir, dengan cara menghentikan kegiatan penangkapan ikan yang merusak lingkungan,” ungkap Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi NTB, H Lalu Hamdi di arena car free day, Minggu 4 Agustus 2019

Sebagai gantinya, kata Lalu Hamdi maka pemerintah Provinsi NTB dibawah Gubernur, H. Zulkieflimansyah dan Wakil Gubernur NTB, Hj. Sitti Rohmi Djalilah telah menyiapkan sejumlah program pemberdayaan nelayan. Baik dalam bentuk pemberian pendidikan dan pelatihan keterampilan budidaya, bantuan peralatan dan akses modal usaha maupun pengembangan  industri olahan hasil laut dan perikanan beserta jaringan pemasarannya.

“Pemprov NTB pada tahun aggaran 2019 ini bahkan telah menyiapkan alokasi Rp. 3,2 miliar untuk program budidaya atau motorisasi bagi para nelayan, terangnya

Selain itu, NTB dalam penyusunan road map industrialisasi sektor kelautan dan perikanan sesuai RPJMD Tahun 2019-2023, bahwa Sumbawa ditetapkan sebagai klaster Minapolitan perikanan berkelanjutan, berpusat di Teluk Saleh.

“Minapolitan merupakan sebuah konsep pengelolaan dari hulu sampai hilir,”  jelas Lalu Hamdi

Ia menjelaskan konsep perikanan berkelanjutan menekankan aspek pelestarian sumber daya laut dan pesisir dengan menjauhkan praktek-praktek ekploitasi secara berlebihan dan cenderung destruktif.

“Sehingga, kedepan pengembangan budidaya menjadi pilihan yang tepat, selain perikanan tangkap,” cetusnya

Sementara, Asisten II bidang Perekonomian Setda NTB, H. Ridwansyah mengungkapkan bahwa kebutuhan detail untuk anggaran pengembangan masing-masing klaster, akan segera disusun sehingga Kebutuhan tersebut dapat dipastikan sudah akan masuk di KUA-PPAS tahun anggaran 2020.

“Dukungan dari pusat dan provinsi maupun kabupaten/kota perlu disinergikan atau dilaksanakan secara terintegrasi,” tegasnya

Ridwansyah menambahkan pentingnya pelibatan investor atau BUMD untuk menggarap sektor kelautan dan perikanan ini.

“Dan hal tersebut perlu dirintis dari sekarang. Misalnya untuk cold storage di Teluk awang perlu diajak PT.GNE dan BANK NTB,” pungkasnya (red)