Kisah Ibu Eliza, Satu dari 10 Tokoh Lingkungan Penerima Kalpataru Tahun 2019

Foto : Ibu Eliza, berasal dari Kabupaten Sumbawa Barat, peraih penghargaan Kalpataru untuk kategori Perintis Lingkungan 2019 bersama Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi NTB, Madani Mukarom

Mataram, MetroNTB.com – Kabar membanggakan kembali hadir untuk NTB. Salah seorang warganya, terpilih menjadi satu dari 10 orang penerima penghargaan Kalpataru di Indonesia. Beliau adalah Ibu Eliza, berasal dari Kabupaten Sumbawa Barat. Beliau mendapatkan Kalpataru untuk kategori Perintis Lingkungan.

Ini merupakan penghargaan kesekian kalinya setelah sebelumnya beliau menerima apresisasi berupa Nominator Penghargaan Kalpataru Nasional 2016, Juara II Kategori Penyuluh Kehutanan Swadaya Tingkat Provinsi NTB 2010, Penerima Lencana Wana Lestari 2008 dari Menteri Kehutanan, Penghargaan dari Gubernur Juara I Tingkat Provinsi NTB 2008 pada Lomba Penghijauan dan Konservasi Alam Nasional.

Diketahui, Kalpataru adalah penghargaan tertinggi yang diberikan pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) kepada individu maupun kelompok yang dinilai merintis lingkungan di daerah masing-masing.

Penghargaan Kalpataru diberikan sejak 1981 silam yang disampaikan pemerintah kepada individu (perseorangan) ataupun kelompok yang dinilai berjasa dalam melestarikan lingkungan hidup baik dalam merintis, mengabdi, menyelamatkan dan membina dalam rangka pengelolaan lingkungan hidup dan kehutanan.

Pemberian penghargaan Kalpataru ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, membuka peluang bagi berkembangnya inovasi dan kreativitas, serta mendorong prakarsa masyarakat, sebagai bentuk apresiasi dan motivasi kepada individu maupun kelompok yang telah berpartisipasi aktif dalam upaya perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup dan kehutanan.

Penghargaan Kalpataru Tahun 2019 ini diserahkan langsung oleh Wakil Presiden Bapak Jusuf Kalla kepada 10 tokoh dan kelompok masyarakat dari berbagai daerah yang berperan dalam menjaga hutan dan lingkungan sekitarnya. Acara tersebut dilaksanakan di Pre Function Hall Cenderawasih, Jakarta Convention Center

Beliau menyampaikan bahwa hutan merupakan kunci utama pengendalian banjir dan pencegah kekeringan yang akan terjadi. Semakin berkurangnya luas hutan, akan menyebabkan banjir dan kekeringan. Oleh karena itu, setiap yang berperan untuk menjaga kelestarian hutan berhak mendapatkan penghargaan.“Terima kasih kepada tokoh yang memperbaiki lingkungan, khususnya memperbaiki dan menambah hutan”.

Ibu Eliza pada awalnya tergerak karena melihat banyaknya lahan yang dibiarkan tidak tergarap, di sekitar areal tambang, terbuka dan tanpa tanaman. Kondisi itulah yang menggerakan beliau untuk melakukan penghijauan.

Sulitnya mendapatkan bibit tidak mengurungkan niatnya yang sudah terbiasa menanam, sampai akhirnya Ibu Eliza kemudian diminta terlibat dalam program Gerakan Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GERHAN) pada Tahun 2005 dan melibatkan masyarakat terlibat dalam kegiatan pembibitan. Dari Kebun BIbit inilah, kemudian dibagian sekitar 100.000 batang bibit setiap tahunnya.

Pada Tahun 2008, Ibu Eliza bekerja sama dengan pihak PT Amman Mineral Nusa Tenggara melakukan penghijauan di wilayah yang terdampak oleh kegiatan pertambangan. Selain membagikan bibit, beliau juga membagikan pengetahuan dan keahliannya dalam melakukan pembibitan dan penanaman pohon. Kegiatan tersebut, selain berdampak baik bagi lingkungan, juga berdampak baik bagi ekonomi masyarakat. Kegiatan tersebut menjadi rintisan bagi sumber pendapatan keluarganya, anggota kelompok “Hijau Lestari” dan masyarakat sekitar.

Beliau adalah cemin perempuan tangguh dengan tekad kuar untuk menghijaukan desa, lahan kritis dan meningkatkan kesadaran masyarakat untuk melakukan konservasi.

Adapun Penerima Kalpataru kategori perintis lingkungan adalah Lukas Awiman Barayap dari Manokwari, Sucipto dari Lumajang, Eliza dari Sumbawa Barat dan Nurbit dari Bulungan. Penerima Kalpataru dari kategori pengabdi lingkungan adalah Melinda Suriani Harefa dari Medan, M Hanif Wicaksono dari Balangan dan Baso dari Jeneponto.

Dari kategri Penyelamat lingkungan adalah Kelompok masyarakat Daya Iban Menua SIngai Utik dari Kapuas Hulu, Kelompok Pengeloa Adat Depati Kara Jayo dari Merangin dan Kelompok Nelayan Prapat Agung Mangening Patasari dari Badung.

Dalam penerimaan penghargaan Kalpataru ini, Ibu Eliza didampingi oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi NTB, Madani Mukarom, setelah sebelumnya diterima oleh Ibu Wakil Gubernur NTB pada tanggal 9 Juli 2018 di Ruang Wakil Gubernur.

Selain itu, Kepala Dinas LHK NTB juga mendampingi beliau pada saat acara Ramah Tamah penerima Kalpataru bersama dengan Dirjen Perhutanan sosial dan Kemitraan Lilngkungan Kementerian LHK RI.

Dalam penjelasannya, Kadis LHK NTB menyampaikan bahwa Ibu Eliza menjadi satu dari sedikit warga masyarakat yang harus menjadi contoh dan teladan serta inspirasi bagi semua pihak.

“Hal in imenjadi bukti, bahwa dengan keinginan yang kuat, ikhtiar yang terus menerus, NTB akan Asri dan Lestari ke depannya,” tandasnya (red)