KAMMI NTB- AMPI Kecam Tindakan Refresif Aparat Pada Aksi 22 Mei

Foto : Pengurus Wilayah Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia Nusa Tenggara Barat (PW KAMMI NTB) bersama Aliansi Masyarakat Peduli Indonesia (AMPI) saat melakukan aksi di depan Mapolda NTB, Sabtu 25 Mei 2019 (MetroNTB/Wahyu)

Mataram, MetroNTB.com Pengurus-  Wilayah Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia Nusa Tenggara Barat (PW KAMMI NTB) bersama Aliansi Masyarakat Peduli Indonesia (AMPI) mengecam tindakan represif aparat kepolisian pada aksi demonstrasi 22 Mei lalu di Jakarta

Ketua PW KAMMI NTB, Andi Ardiansyah
mengungkapkan Indonesia kembali berduka, setidaknya ada 8 orang yang sudah terkonfirmasi meninggal dunia, dan 737 orang mengalami luka-luka. Data tanggal 23 Mei 2019 pukul 12.00 WITA yang disebabkan oleh penembakan brutal aparat yang tidak bertanggung jawab dalam mengamankan demonstrasi.

“Kami menilai sikap dari aparat keamanan sudah melewati batas dan malah hanya akan memperkeruh suasana. Bagaimanapun kondisinya, pihak kepolisian harus tetap mengedepankan ruang dialog bukan membusungkan senjata,” kata Andi saat melakukan aksi di depan Mapolda NTB, Sabtu 25 Mei 2019.

Apalagi banyaknya pelarangan oleh pihak kepolisian di daerah-daerah yang menahan masyarakat yang hendak menyampaikan aspirasinya ke Jakarta.

“Salah satunya adalah Polda Jatim yang telah mencegah 1.700 massa yang hendak ke Jakarta untuk bergabung dalam aksi 22 Mei,” tudingnya

Sebagai bentuk keprihatinan atas rusaknya demokrasi di Indonesia dan gugurnya masyarakat yang menyampaikan aspirasi di muka umum, maka kami dari PW KAMMI NTB bersama Aliansi Masyarakat Peduli Indonesia menyatakan sikap.

Pertama, mengecam oknum aparat yang melakukan tindakan represif kepada massa aksi. Dan menuntut oknum aparat ditindak sesuai dengan hukum yang berlaku.

Kedua, mengecam oknum aparat yang mencoba membungkam kebebasan berpendapat di muka umum dengan melarang masyarakat berangkat ke Jakarta untuk menyampaikan aspirasinya. Dan aparat seharusnya ikut mengawal masyarakat sampai aspirasinya benar-benar disampaikan.

Ketiga, mengecam oknum aparat yang memukuli secara brutal tim medis yang hendak menolong massa aksi yang terluka.

Keempat, kepolisian harus bertanggung jawab atas penembakan yang menyebabkan jatuhnya korban pada saat masyarakat menyampaikan aspirasinya.

Kelima, kepolisian seharusnya melindungi dan mengayomi masyarakat, bukan melakukan penembakan kepada masyarakat. (Red)